Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Maret 2010

Biografi Singkat Al Habib 'umar bin 'Abdurrahman Al 'Atthas

• Asal-usul penamaan Al ‘Atthos

Al Faqih ‘Abdullah bin ‘Umar Ba ‘Abbad berkata, “Digelari Al ‘Atthos karena ia bersin dalam perut ibunya.” Al Habib ‘Ali bin Hasan Al ‘Atthos berkata: “Apa yang diungkapkan oleh Syekh ‘Abdullah itu memang jelas dan benar adanya, dan berdasarkan riwayat yang kami temukan, orang yang pertama kali bersin dalam perut ibunya adalah Al Habib ‘Aqil bin Salim. Tetapi kemudian yang lebih dikenal menyandang gelar itu adalah Al Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman dan para keturunannya. Adapun keturunan Al Habib ‘Aqil bin Salim, mereka lebih dikenal dengan sebutan Al ‘Aqil bin Salim saja.”

• Kelahiran dan Masa Kecil

Shohiburrotib Al Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman bin ‘Aqil Al ‘Atthos bin Salim bin ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Syekh Wajihuddin ‘Abdurrahan As-Segaf bin Muhammad Maula Dawilah bin ‘Ali bin ‘Alwi bin Al Faqih Al Muqaddam Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad Shohibul Marbath bin ‘Ali Kholi’ Qasam bin ‘Alwi bin Muhammad bin ‘Alwi bin ‘Ubaidillah bin Ahmad bin ‘Isa Ar-Rumi bin Muhammad An-Naqib bin ‘Ali Al ‘Uraidhi bin Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad Al Baqir bin ‘Ali Zainal ‘abidin bin Husein bin Fathimah Az-Zahro binti Rasulullah (saw) istri Imam ‘Ali bin Abi Thalib, lahir di kota Lisik tidak jauh dari kota Tarim pada tahun 992 H. Ayahnya yaitu As Sayyid ‘Abdurrahman bin ‘Aqil Al’Atthos adalah seorang ‘arif billah, sekaligus ‘ulama berpengetahuan luas. Ibundanya yaitu syarifah Muznah binti Muhammad bin Ahmad Al Jufri. Kakeknya As Sayyid ‘Aqil bin Salim adalah saudara kembar fakhrul Wujud Syekh Abu Bakar bin Salim Shohib ‘Inat.
Beliau dibesarkan di bawah bimbingan ayahandanya dengan bimbingan yang sempurna dan beradab tinggi. Sejak kecil beliau telah kehilangan penglihatan kedua matanya. Namun ALLAH menggantinya dengan mata hati yang bercahaya dan terang benderang, disertai kecerdasan yang luar biasa sehingga beliau mampu menghafal semua yang beliau dengan dari guru-guru beliau. Ayah beliau berkata kepada Syekh ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah Al Junaid: “Hati-hati dengan anakku ‘Umar, karena kedua matanya tidak dapat melihat.” Syekh ‘Abdurrahman Al Junaid berkata, “Kedua mata lahir ‘Umar memang tidak dapat melihat, akan tetapi mata batinnya terang dan memancarkan cahaya.
Sewaktu ibunda beliau mendatangi salah seorang Sholihin seraya berkata, “Anak saya ini tidak bisa melihat, sedangkan ayahnya adalah seorang faqir yang tidak berharta.” Orang Shalih itu berkata, “Engkau tak perlu khawatir! Sesungguhnya anak ini kelak akan memiliki masa depan yang cemerlang dan keagungan maqom yang tak terbayangkan, dia akan memiliki keturunan yang sangat banyak seperti keluarga fulan bin fulan.”

• Hijrah ke Huraidhoh

Al Habib Husain bin Syekh Abu Bakar bin Salim seringkali berkata, “Wahai keluarga Ba ‘Alawi Huraidhoh.” Orang-oangpun bertanya keheranan, “Bukankah tidak ada satu orangpun dari kalangan ‘alawiyyin yang menetap di Huraidhoh?” Al Habib Husain berkata: “Mereka akan datang dan bermukim di Huraidhoh, tempat itu akan menjadi sebuah tempat yang ramai diziarahi, kubah-kubah dan masjid akan menghiasi kota itu.”
Sewaktu Al Habib ‘Umar masuk usia remaja, Al Habib Husein bin Asy-Syekh Abu Bakr memerintahkannya untuk pergi ke Huraidhoh sebagai juru dakwah yang menyebarkan ajaran islam disana. Al Habib ‘Umar pun bergegas untuk pergi berdakwah di Huraidhoh.
Pada saat darang ke Huraidhoh, beliau disambut oleh Najad Adz-Dzibani yang kemudian memintanya untuk tetap tinggal di rumahnya selama beliau berada di kota itu. Ia berkata “Rumah ini adalah rumah anda sendiri wahai Al Habib.”
Al Habib Umar memutuskan untuk menetap di Huraidhoh, beliau kembali ke Lisik untuk membawa seluruh anggota keluarganya. Setibanya di Huraidhoh, sang ayah, Al Habib ‘Abdurrahman Al ‘Atthas jatuh sakit dan meninggal dunia. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.
Setelah Al Habib ‘Umar menetap di Huraidhoh, Syekh ‘Abdullah bin Ahmad Al ‘Afif (seorang wali besar) bernazar untuk mempersembahkan bagian dari kebun kurmanya untuk Al Habib ‘Umar. Tetapi setelah beliau terima, beliau menyerahkan pemberian itu kepada penduduk setempat. “Itulah nazar saya unruk kalian, maka terimalah nazar itu.”
“Kenapa tidak engkau tinggalkan untuk anak dan keluargamu?” kata sebagian orang. Al Habib ‘Umar menjawab, “Anak-anak saya kelak akan menguasai seluruh negeri ini.” Dan benar saja, anak cucu keturunan Al Habib ‘Umar Al ‘Atthas sangat banyak dan menyebar di seluruh penjuru negeri.

• Guru-guru besar Al Habib ‘Umar dan sanad-sanadnya

Shohiburrotib Al Habib ‘umar mengembil libas khirqoh dari Syekh Husein bin Syekh Abu bakar bin salim dan saudaranya Syekh ‘Umar Muhdhor. Mereka berdua mengambilnya dari ayah mereka, Syekh Abu Bakar bin Salim, Shohib ‘Inat. Syekh Abu Bakar mengambilnya dari Syekh Syihabuddin Ahmad bin ‘Abdurrahman, dari ayahnya Syekh ‘Abdurrahmab bin ‘Ali, dari ayahnya Syekh ‘Ali bin Abu Bakar, dari ayahnya SYekh Abu Bakr Assakran, dari ayahnya Asy-Syekh Al Kabir ‘Abdurrahman Assegaf. Asy-Syekh Al Kabir ‘Abdurrahman Assegaf mengambil libas khirqoh dari Muhammad Maula Dawilah, dari ayahnya ‘Ali, dari ayahnya Al Faqih Al Muqaddam Muhammad bin’Ali Ba’Alawi. Al Faqih Al Muqaddam Muhammad bin’Ali Ba’Alawi mengambil libas khirqoh: jalur kakek-kakek beliau dan jalur biasa.

Berkaitan dari jalur kakek-kakeknya, Al Faqih Al Muqaddam Muhammad bin’Ali Ba’Alawi mengambil dari Ali bin Muhammad Shohibul Mirbath, dari ‘Ali Khali’ Qasam, dari ‘Ali bin Muhammad Shohibul Shauma’ah, dari ‘alwi Shohibul Sumul, dari ‘Ubaidillan ibn Ahmad AL Muhajir, dari Isa Arrumi, dari Muhammad Annaqib, dari Al Imam ‘Ali Al ‘Uaidhi, dari Al Imam Ja’far Ash-shodiq, dari Al Imam Muhammad Al Baqir, dari al Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin, dari ayah dan pamannya, Al Imam Husein dan Al Imam Hasan bin ‘Ali bin Abi tholib. Keduanya mengambil dari Rasulullah (saw). Sedangkan Rasulullah (saw) memperoleh pendidikan dari ALLAH (SWT) melalui Malaikat Jibril. Rasulullah (saw) berkata, “Tuhanku mendidik aku, dan didikan-NYA padaku sangat baik.”

Sedangkan melalui jalur biasa, Al Faqih Al Muqaddam mengambil libas khirqoh shufiyyah dari Syu’aib Abu Madyan at-Tilimsani Al Maghribi, melalui Syekh ‘Abdurrahman Al muq’ad dan Syekh ‘Abdullah Ash-Shaleh, dari Syekh Abu Ya’za Al Maghribi, dari Syekh Abul Hasan bin Harzam (Abu Harzam), dari Syekh Abu Abu Bakar bin Muhammad bin Abdullah bin al ‘Arabi dan Al Qadhi Al Maghafiri, dari Syekh Hujjatul Islam al Imam Ghazzali, dari Imam Haramain ‘Abdul Malik bin Asy-Syekh Abu ‘Abdillah bin Yusuf al Juwaini, dari ayahnya, dari Abu Thalib Al Makki, dari Asy-Syekh Al Ustadz Asy-Syibli, dari SAayyidut-Tha’ifah Al Junaid, dari Dawud Ath-Tha’I, dari Habib Al Ajmi’, dari hasan Al Bashri, dari Al Imam ‘Ali bin bin Abi Thalib. Selanjutnya Imam ‘Ali mengambil dari Rasulullah (saw) dan Rasulullah memperoleh pendidikan dari ALLAH (SWT) melalui Jibril.

• Murid-murid dan Thoriqoh Al Habib ‘Umar

Di antara murid Al Habib ‘Umarialah As-Sayyid Al habib ‘Abdullah bin Alwi Al Haddad. Dan murid-murid lainnya adalah :
Al habib Ahmad bin Zein Al Habsyi, As-Sayyidul Jalil Ahmad bin Hasyim Al Habsyi, As-Sayyidul Jalil ‘Ali bin ‘Umar bin Husein bin Asy-syekh ‘Ali, putera-putera Al habib ‘Umar sendiri dan masih banyak lagi murid-murid beliau lainnya, khususnya yang berasal dari Wadi Dau’an dari keturunan Al ‘Amudi dan keturunan para sayyid keluarga Al Barr, seperti Al Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman Al Barr.

• Karangan-karangan Al Habib ‘Umar
Tidak pernah kita dengar bahwa Al Habib ‘Umar memiliki karya tulis selain Ratibul ‘Atthas. Pernah ada seseorang bertanya kepada Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad apa saja karya Al Habib ‘Umar Al ‘Atthas. Dengan tegasnya Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad berkata, “aku adalah salah satu karya besar Al Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman Al ‘Atthas.”

Al Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman Al ‘Atthas wafat pada malam Kamis tanggal 23 Rabi’uts Tsani tahun 1072 H di rumah kediaman beliau di kota Nafhun, setelah sebelumnya beliau menderita sakit selama 7 hari. Jenazah beliau diantar ke Huraidhoh untuk dikebumikan di sana. Usai penguburan jasad beliau, Huraidhoh dibasahi oleh rintik-rintik hujan gerimis pertanda turunnya keberkahan pada kota Huraidhoh dan sekitarnya.
Semoga kelak kita semua dapat mengikuti jejak beliau dan semoga kita semua dibangkitkan dan dikumpulkan bersama beliau dan kakek-kakeknya sampai ke Rasulullah (saw), Amiin.

Minggu, 14 Maret 2010

Laa Tusayyiduunii

Maha Benar ALLAH 'Azza wa Jalla yang melarang orang beriman berbicara kepada Rasul-Nya dengan suara keras, dan memanggil beliau dengan kata panggilan atau sebutan yang biasa digunakan di antara sesama mereka. Alangkah picik dan dungunya jika kita tidak mengerti, atau tidak mau mengerti, bahwa kita berbuat menyakiti hati dan perasaan orang yang kedudukan atau martabatnya di atas kita, jika kita memanggil atau menyebutnya hanya cukup dengan namanya saja! Labih-lebih lagi karena kita adalah orang-orang Timur yang terkenal sebagai bangsa yang berbudaya dan beradab.

Menghormati seorang pemimpin tidak berarti mengkultuskan atau mendewa-dewakannya. Kita yakin seyakin-yakinnya, bahwa tidak ada apapun yang berhak disembah selain ALLAH. Konsekuensi logis dari keyakinan itu, kita wajib memberi penghormatan setinggi-tingginya kepada manusia pilihan ALLAH yang diutus menyampaikan kebenaran agaa-NYA. Manusia itu adalah junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. Semasa hidupnya, tidak ada seorangpun dari ahlul baitnya, kaum kerabat, dan para sahabatnya yang berbicara dengan suara keras di depan beliau, dan tidak ada seorangpun yang menyebut beliau hanya dengan nama telanjang "Muhammad" atau "Hai Muhammad". Yang menyebut beliau dengan cara seperti itu, hanyalah kaum musyrikin, yahudi, orang-oang badui, dan pengembara di padang pasir yang belum mengenal islam atau belum memeluk islam.

Lima belas abad silam, atas petunjuk Ilahi, kaum Muslimin sudah menerapkan tata krama dan sopan santun terhadap Rasulullah SAW. Sungguh naif sekali jika di zaman ini, masih ada orang beriman yang memanggil atau menyebut Rasulullah hanya dengan "Muhammad" saja, tidak hanya berlawanan dengan firman ALLAH di dalam surah An Nur ayat 63, tetapi juga tidak dapat dipertanggung jawabkan keabsahannya menurut syara', bukan hanya sekedar tidak sopan.

Bahkan ada sementara orang yang amat keberatan menyebut nama Rasulullah dengan awalan kata "Sayyidina" (Pemimpin kita, Junjungan kita). Menurut mereka sebutan itu adalah bid'ah. Mereka mengatakan sebuah hadits yang di dalamnya Rasulullah melarang para sahabat menyebut atau memanggil beliau dengan awalan kata "Sayyid". Mereka menyebut kalimat dalam hadits termaksud :

" Laa Tusayyiduunii" yang artinya : "Janganlah kalian menjadikan diriku sayyid"

Hadits yang mereka kutip sesungguhnya hadits karangan mereka sendiri. Buktinya? Di dalam bahasa Arab tidak pernah ada akar kata sayada, yang dalam tata bahasa Arab dapat berubah menjadi sayyada dan yusayyidu. Yang ada adalah akar kata sa-wa-da yang karena konteks kalimatnya, secara tata bahasa, dapat berubah menjadi sawwada dan yusawwidu, yang berarti "membuat orang menjadi sayyid". silahkan telaah semua kamus bahasa Arab yang ada di mana saja. Jadi sangatlah mustahi; Rasulullah SAW menggunakan kata "Tusayyiduunii". Beliau tidak penah berbicara dengan bahasa acak. Bahasa Arab beliau adalah bahasa Arab murni yang tinggi mutu sastranya. Be;liau seorang manusia ma'shum (terpelihara dari kemungkinan berbuat salah, keliru, lupa, dan berbagai kelemahan lainnya). Betapapun kecilnya kesalahan, kekeliruan atau kelupaan beliau, pasti berakibat fatal bagi pelaksanaan tugas Risalah beliau, dan bagi umatnya. Tidak ada sumber riwayat hadits yang mengetengahkan hadits semacam itu. Kalau ada sumbernya, sumber itu adalah rekayasa mereka sendiri.

Beliau memang tidak pernah meminta kepada seorang sahabatpun agar menyebut nama beliau dengan awalan kata Sayyid, Dan di dunia ini, barnagkali tidak ada oang berakal sehat menuntut orang lain supaya menyebut namanya dengan awalan kata-kata: "tuan", "junjungan", "yang mulia", "paduka tuan", "paduka yang mulia" dan seterusnya; tetapi sebaliknya, banyak orang yang menyebut atau memanggil orang lain dengan awalan kata tersebut, tidak atas permintaan pihak yang disebut atau yang dipanggil. Menuntut orang lain memanggil dan menyebut namanya engan awalan kata-kata seperti itu, hanya pantas dilakukan oleh orang tidak waras. Namun, kaum Muslimin, sebagai umat yang sangat berutang budi kepada Beliau selaku Nabi dan Rasul, yang telah menyelamatkan jalan hidup mereka dari kesesatan aqidah, maka sudah sepatutnya untuk menghormati beliau dengan setinggi-tingginya. Tidaklah berlebihan jika kita memanggil atau menyebut nama beliau dengan awalan kata Sayyidina. Apakah Bid'ah atau apakah Dholalah (sesat) jika kaum Muslimin menghormati kemuliaan Beliau dengan menyebut Sayyidina Muhammad Rasulullah SAW?

Jumat, 19 Februari 2010

Al Habib Abdullah bin Alwi bin Muhammad Al Haddad

Nama beliau adalah Abdullah bin Alawi bin Muhammad bin Ahmad bin Abdullah bin bin Muhammad bin Alawi bin Ahmad (yang dijuluki Alhaddad kakek ke-6) bin Abu Bakar bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad bin Abdurrahman bin Alawi bin Muhammad (shohibu marbath) bin Ali kholi'ul qasam bin Imam Alawi bin Muhammad bin Alawi bin Abdullah bin Imam Almuhajir Ahamd bin Isa bin Muhammad bin Imam Ali Aluraidha bin Imam Ja'far Asshodiq bin Muhammad Al Bagir bin Imam Ali Zainal Abidin bin Imam Husain bin Fathimah Azzahra binti Rasulullah SAW.

Ibunya bernama Sayyidah Salma binti Idrus bin Ahmad Alhabsyi. Kakeknya Syekh Idrus adalah seorang ulama karismatik dan tokoh terpandang saat itu. Neneknya Sayyidah Salma binti Umar bin Ahmad Al 'alawy termasuk wanita ahli ibadah.

Imam Abdullah Al Haddad Lahir pada malam Senin, bulan Safar 1044 H, di kota Tarim, Hadramaut, Republik Demokrasi Yaman.

Ayahnya, Al Habib Alawi bin Muhammad adalah seorang yang saleh dari keturunan orang-orang saleh. Di masa mudanya, beliau berkunjung ke kediaman Habib Ahmad bin Muhammad Al-Habsyi Shôhibusy Syi‘ib untuk memohon doa, Habib Ahmad berkata, “Anak-anakmu adalah anak-anak kami juga, mereka diberkahi Allah.” Saat itu Habib Alwi tidak mengerti maksud ucapan Habib Ahmad. Namun, setelah menikahi Salma, cucu dari Habib Ahmad bin Muhammad, Habib Alwi baru sadar bahwa rupanya perkawinan ini yang diisyaratkan oleh Habib Ahmad bin Muhammad dalam ucapannya.

Sebagaimana suaminya, Sayyidah Salma binti Idrus bin Ahmad Alhabsyi adalah seorang wanita yang sholihah. Dari istrinya ini, Habib Alwi mendapat putra-putri yang baik dan saleh, di antaranya adalah Abdullah. Kedua orang tuanya wafat di bulan dan tahun yang sama, ayahnya Sayyid Alawi wafat pada malam Senin, 21 Rajab 1072 H, dan empat hari kemudian disusul wafat ibunya pada hari Rabu, 24 Rajab 1072 H.

Pada usia tiga tahun, Imam Abdullah Al Haddad terjangkit sakit cacar yang mengakibatkan kebutaan pada kedua matanya. Namun, musibah ini sama sekali tidak mengurangi kegigihannya dalam menuntut ilmu. Ia berhasil menghapal Quran dan menguasai berbagai ilmu agama ketika terhitung masih kanak-kanak. Rupanya Allah berkenan menggantikan penglihatan lahirnya dengan penglihatan batin, sehingga kemampuan menghapal dan daya pemahamannya sangat mengagumkan. Setiap membaca Alqur'an beliau membacanya dengan tekun dan khusyu, serta memahami maknanya, sehingga beliau menangis bila membaca ayat-ayat yang menceritakan tentang kematian dan hari kebangkitan terutama yang terkandung di dalam surat Yasin.

Beliau sejak kecil gemar beribadah dan riyâdhoh. Nenek dan kedua orang tuanya seringkali tidak tega menyaksikan anaknya yang buta ini melakukan berbagai ibadah dan riyâdhoh. Mereka menasihati agar ia berhenti menyiksa diri. Demi menjaga perasaan keluarganya, si kecil Abdullah pun mengurangi ibadah dan riyâdhoh yang sesungguhnya amat ia gemari. Ia pun kini memiliki lebih banyak waktu untuk bermain-main dengan teman-teman sebayanya. “Subhânallôh, sungguh indah masa kanak-kanak...,” kenang beliau suatu hari.

Di kota Tarim, beliau tumbuh dewasa. Bekas-bekas cacar tidak tampak lagi di wajahnya. Beliau berperawakan tinggi, berdada bidang, berkulit putih, dan berwibawa. Tutur bahasanya menarik, sarat dengan mutiara ilmu dan nasihat berharga. Beliau sangat gemar menuntut ilmu. Kegemarannya ini membuatnya sering melakukan perjalanan untuk menemui kaum ulama., “Apa kalian kira aku mencapai ini dengan santai? Tidak tahukah kalian bahwa aku berkeliling ke seluruh kota-kota (di Hadramaut) untuk menjumpai kaum sholihin, menuntut ilmu dan mengambil berkah dari mereka?”

Diantara guru-guru beliau adalah:

• al-Habib Muhammad bin ‘Alawi bin Abu Bakar bin Ahmad bin Abu Bakar bin ‘Abdurrahman al-Saqqaf (1002 – 1071H)

• Syaikh Abu Bakar bin bin Imam ‘Abdurrahman bin ‘Ali bin Abu Bakar bin Syaikh ‘Abdurrahman al-Saqqaf

• al-Habib ‘Aqil bin ‘Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Ali bin ‘Aqil bin Syaikh Ahmad bin Abu Bakar bin Syaikh bin ‘Abdurrahman al-Saqqaf

• al-Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman al-‘Atthas bin Aqil bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman al-Saqqaf (wafat:1072H).

• al-Habib ‘Abdurrahman bin Syaikh Maula ‘Aidid Ba’alawi (wafat: 1068H)

• Sayyid Syaikhan bin Imam al-Hussein bin Syaikh Abu Bakar bin Salim

al-Habib Syihabuddin Ahmad bin Syaikh Nashir bin Ahmad bin Syaikh Abu Bakar bin Salim

• al-Habib Jamaluddin Muhammad bin Abdurrahman bin Muhammad bin Syaikh al-Arifbillah Ahmad bin Syaikh al-Hussein bin Syaikh al-Quthb al-Rabbani Abu Bakar bin Abdullah al-‘Aydrus (1035-1112H)

• Sayyid al-Faqih al-Shufi Abdullah bin Ahmad Ba`alawi al-Asqa’

Sayyid Syaikh al-Imam Ahmad bin Muhammad al-Qusyasyi (wafat 1071H)



Khirqah Sufiyah: Imam al-Haddad menerima khirqah sufiyyah, antaranya dari:

• al-Habib ‘Aqil bin ‘Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Ali bin ‘Aqil bin Syaikh Ahmad bin Abu Bakar bin Syaikh bin ‘Abdurrahman al-Saqqaf,

• al-Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman al-‘Atthas bin Aqil bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman al-Saqqaf (wafat:1072H),

• al-Habib Syihabuddin Ahmad bin Syaikh Nashir bin Ahmad bin Syaikh Abu Bakar bin Salim,

• al-‘Arifbillah Syaikh Muhammad bin ‘Alawi as-Saqqaf al-Makki

Beliau adalah merupakan Quthub al-Aqtab pada zamannya. Dan ada ulama mengatakan bahwa beliau menduduki makam tersebut hampir 60 tahun.

Beliau juga sangat giat dalam mengajarkan ilmu dan mendidik murid-muridnya. Banyak penuntut ilmu datang untuk belajar kepadanya.

Keaktifannya dalam mendidik dan berdakwah membuatnya digelari Quthbud Da’wah wal Irsyâd. Beliau berkata, “Ajaklah orang awam kepada syariat dengan bahasa syariat;

ajaklah ahli syariat kepada tarekat (thorîqoh) dengan bahasa tarekat; ajaklah ahli tarekat kepada hakikat (haqîqoh) dengan bahasa hakikat; ajaklah ahli hakikat kepada Al-Haq dengan bahasa Al-Haq, dan ajaklah ahlul haq kepada Al-Haq dengan bahasa Al-Haq.”

Murid-murid beliau, antaranya:

al-Habib Hasan bin ‘Abdullah al-Haddad (anak beliau);

al-Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi;

al-Habib ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah Balfaqih;

al-Habib Muhammad bin Zein bin Smith;

al-Habib ‘Umar bin Zein bin Smith;

al-Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman al-Bar;

al-Habib ‘Ali bin ‘Abdullah bin Abdurrahman al-Saqqaf;

al-Habib Muhammad bin ‘Umar bin Thoha ash-Shafi al-Saqqaf;

Syaikh Ahmad bin Abdul Karim al-Hasawi asy-Syajjar

Al-Faqih BaJubair – beliau adalah merupakan guru kepada Imam al-Haddad dalam ilmu fiqih namun setelahnya ulama ini bellajar kitab Ihya kepada Imam al-Haddad. Imam al-Haddad berkata: Setelah kembali ke Hadramaut (dari India) dia belajar Ihya kepadaku. Aneh sekali! Dahulu aku belajar fiqih kepadanya, namun sekarang dia belajar ihya kepadaku.

Meski buta dan sangat sibuk berdakwah, beliau masih sempat menulis buku-buku berikut:

01. An-Nashôihud Dîniyyah

02. Ad-Da’watut Tâmmah

03. Risâlatul Mu’âwanah

04. Al-Fushûlul ‘Ilmiyyah

05. Sabîlul Iddikâr

06. Risâlatul Mudzâkarah

07. Risâlatul Murîd

08. Kitâbul Hikam

09. An-Nafâisul Uluwiyyah

10. Ithâfus Sâil



Hingga saat ini kumpulan do'a dan dzikirnya yang dikenal dengan nama Rotib Haddad dan Wirid Lathif dijadikan amalan rutin mayoritas muslim di Indonesia, Asia, Australi, Afrika bahkan di Amerika.

Demikianlah Habib Abdullah Al-Haddad menghabiskan umurnya. Beliau menuntut ilmu dan mengajarkan; berdakwah dan mencontohkan. Imam Abdullah Al Haddad wafat pada hari senin, 7 Dzulqa'dah 1132 H.dalam usia 89 tahun kurang 3 bulan. Beliau dimakamkan di Zambal, Tarim tempat pemakaman keluarga dan leluhurnya. Imam Abdullah Al Haddad meninggalkan 10 anak, di antaranya 6 laki dan 4 perempuan, mereka semua menjadi orang-orang yang soleh dan bermanfaat bagi masyarakat, terutama Imam Muhammad bin Abdullah bin Alwi Al Haddad.Sayyid Ahmad bin Zein Al Habsyi mengatakan bahwa yang menshalatkan jenazah Imam Abdullah Al Haddad + 20.000 orang di dalam masjid dan belum terhitung yang menshalatkan di makamnya.

الفاتحة إلى حضرة النبي محمد صلى الله عليه وآله وسلم وإلى روح قطب الإرشاد وغوث العباد والبلاد الحبيب عبد الله بن علوي بن محمد الحداد وأصوله وفروعهم أن الله يعلي درجاتهم في الجنة ويكثر من مثوباتهم ويضاعف حسناتهم ويحفظنا بجاههم وينفعنابهم ويعيد علينا من بركاتهم وأسرارهم وأنوارهم وعلومهم ونفحاتهم في الدين والدنيا والآخرة – الفاتحة

Sepotong nasihat beliau dari syairnya:

Bila Allah mengujimu, bersabarlah

karena itu hak-Nya atas dirimu.

Dan bila Ia memberimu nikmat, bersyukurlah.

Siapa pun mengenal dunia, pasti akan yakin

bahwa dunia tak syak lagi

adalah tempat kesengsaraan dan kesulitan

Jumat, 05 Februari 2010

Gelar Imam, Syekh, Habib dan Sayid

Menurut Sayyid Muhammad Ahmad al-Syatri dalam bukunya Sirah al-Salaf Min Bani Alawi al-Husainiyyin, para salaf kaum ‘Alawi di Hadramaut dibagi menjadi empat tahap yang masing-masing tahap mempunyai gelar tersendiri. Gelar yang diberikan oleh masyarakat Hadramaut kepada tokoh-tokoh besar Alawiyin ialah :
IMAM (dari abad III H sampai abad VII H). Tahap ini ditandai perjuangan keras Ahmad al-Muhajir dan keluarganya untuk menghadapi kaum khariji. Menjelang akhir abad 12 keturunan Ahmad al-Muhajir tinggal beberapa orang saja. Pada tahap ini tokoh-tokohnya adalah Imam Ahmad al-Muhajir, Imam Ubaidillah, Imam Alwi bin Ubaidillah, Bashri, Jadid, Imam Salim bin Bashri.
SYAIKH (dari abad VII H sampai abad XI H). Tahapan ini dimulai dengan munculnya Muhammad al-Faqih al-Muqaddam yang ditandai dengan berkembangnya tasawuf, bidang perekonomian dan mulai berkembangnya jumlah keturunan al-Muhajir. Pada masa ini terdapat beberapa tokoh besar seperti Muhammad al-Faqih al-Muqaddam sendiri. Ia lahir, dibesarkan dan wafat di Tarim. Di kota Tarim, ia belajar bahasa Arab, teologi dan fikih sampai meraih kemampuan sebagai ulama besar ahli fiqih. Ia juga secara resmi masuk ke dunia tasawuf dan mencetuskan tarekat ‘Alawi. Sejak kecil ia menuntut ilmu dari berbagai guru, menghafal alquran dan banyak hadits serta mendalami ilmu fiqih. Ketika ia masih menuntut ilmu, Syekh Abu Madyan seorang tokoh sufi dari Maghrib mengutus Syekh Abdurahman al-Muq’ad untuk menemuinya. Utusan ini meninggal di Makkah sebelum sampai di Tarim, tetapi sempat menyampaikan pesan gurunya agar Syekh Abdullah al-Saleh melaksanakan tugas itu. Atas nama Syekh Abu Madyan, Abdullah membaiat dan mengenakan khiqah berupa sepotong baju sufi kepada al-Faqih al-Muqaddam. Walaupun menjadi orang sufi, ia terus menekuni ilmu fiqih. Ia berhasil memadukan ilmu fiqih dan tasawuf serta ilmu-ilmu lain yang dikajinya. Sejak itu, tasawuf dan kehidupan sufi banyak dianut dan disenangi di Hadramaut, terutama di kalangan ‘Alawi.
Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam. Ia memulai pendidikannya pada ayah dan kakeknya lalu meneruskan pendidikannya di Yaman dan Hijaz dan belajar pada ulama-ulama besar. Ia kemudian bermukim dan mengajar di Mekkah dan Madinah hingga digelari Imam al-Haramain dan Mujaddid abad ke 8 Hijriyah. Ketika Saudaranya Imam Ali bin Alwi meninggal dunia, tokoh-tokoh Hadramaut menyatakan bela sungkawa kepadanya sambil memintanya ke Hadramaut untuk menjadi da’i dan guru mereka. Ia memenuhi permintaan tersebut dan berhasil mencetak puluhan ulama besar.
Abdurahman al-Saqqaf bin Muhammad Maula al-Dawilah bin Ali bin Alwi bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam. Ia digelari al-Saqqaf karena kedudukannya sebagai pengayom dan Ilmu serta tasawufnya yang tinggi. Pemula famili al-Saqqaf ini adalah ulama besar yang mencetak berpuluh ulama termasuk putranya sendiri Umar Muhdhar. Ia juga sangat terkenal karena kedermawanannya. Ia mendirikan sepuluh masjid serta memberikan harta wakaf untuk pembiayaannya. Ia memiliki banyak kebun kurma.
Umar Muhdhar bin Abdurahman al-Saqqaf adalah imam dalam ilmu dan tokoh dalam tasawuf. Ia terkenal karena kedermawanannya. Ia menjamin nafkah beberapa keluarga. Rumahnya tidak pernah sepi dari tamu. Ia mendirikan tiga buah masjid. Menurut Muhammad bin Abu Bakar al-Syilli, ia telah mencapai tingkat mujtahid mutlaq dalam ilmu syariat. Ia meninggal ketika sujud dalam shalat Dzuhur.
Abdullah al-Aidrus bin Abu Bakar al-Sakran bin Abdurahman al-Saqqaf. Hingga usia 10 tahun, ia dididik ayahnya dan setelah ayahnya wafat ia dididik pamannya Umar Muhdhar hingga usia 25 tahun. Ia ulama besar dalam syariat, tasawuf dan bahasa. Ia giat dalam menyebarkan ilmu dan dakwah serta amat tekun beribadah.
Ali bin Abu Bakar al-Sakran bin Abdurahman al-Saqqaf. Ia menulis sebuah wirid yang banyak dibaca orang hingga abad ke 21 ini. Ia terkenal dalam berbagai ilmu, khususnya tasawuf. Menurut Habib Abdullah al-Haddad, ia merupakan salaf ba’alawi terakhir yang harus ditaati dan diteladani.
HABIB (dari pertengahan abad XI sampai abad XIV). Tahap ini ditandai dengan mulai membanjirnya hijrah kaum ‘Alawi keluar Hadramaut. Dan di antara mereka ada yang mendirikan kerajaan atau kesultanan yang peninggalannya masih dapat disaksikan hingga kini, di antaranya kerajaan Alaydrus di Surrat (India), kesultanan al-Qadri di kepulauan Komoro dan Pontianak, al-Syahab di Siak dan Bafaqih di Filipina.
Tokoh utama ‘Alawi masa ini adalah Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad yang mempunyai daya pikir, daya ingat dan kemampuan menghafalnya yang luar biasa. Sejak kecil ia telah menghafal alquran. Ia berilmu tinggi dalam syariat, tasawuf dan bahasa arab. Banyak orang datang belajar kepadanya. Ia juga menulis beberapa buku.
Pada tahap ini juga terdapat Habib Abdurahman bin Abdullah Bilfaqih, Habib Muhsin bin Alwi al-Saqqaf, Habib Husain bin syaikh Abu Bakar bin Salim, Habib Hasan bin Soleh al-Bahar, Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi.
SAYYID (mulai dari awal abad XIV ). Tahap ini ditandai kemunduran kecermelangan kaum ‘Alawi. Di antara para tokoh tahap ini ialah Imam Ali bin Muhammad al-Habsyi, Imam Ahmad bin Hasan al-Attas, Allamah Abu Bakar bin Abdurahman Syahab, Habib Muhammad bin Thahir al-Haddad, Habib Husain bin Hamid al-Muhdhar.
Sejarawan Hadramaut Muhammad Bamuthrif mengatakan bahwa Alawiyin atau qabilah Ba’alawi dianggap qabilah yang terbesar jumlahnya di Hadramaut dan yang paling banyak hijrah ke Asia dan Afrika. Qabilah Alawiyin di Hadramaut dianggap orang Yaman karena mereka tidak berkumpul kecuali di Yaman dan sebelumnya tidak terkenal di luar Yaman.
Jauh sebelum itu, yaitu pada abad-abad pertama hijriah julukan Alawi digunakan oleh setiap orang yang bernasab kepada Imam Ali bin Abi Thalib, baik nasab atau keturunan dalam arti yang sesungguhnya maupun dalam arti persahabatan akrab. Kemudian sebutan itu (Alawi) hanya khusus berlaku bagi anak cucu keturunan Imam al-Hasan dan Imam al-Husein. Dalam perjalanan waktu berabad-abad akhirnya sebutan Alawi hanya berlaku bagi anak cucu keturunan Imam Alwi bin Ubaidillah. Alwi adalah anak pertama dari cucu-cucu Imam Ahmad bin Isa yang lahir di Hadramaut. Keturunan Ahmad bin Isa yang menetap di Hadramaut ini dinamakan Alawiyin diambil dari nama cucu beliau Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa yang dimakamkan di kota Sumul.

Rabu, 20 Januari 2010

Biografi Singkat Tokoh Ulama Salaf Ahlul Bait (Bagian 2)

0 komentar
Al Imam Muhammad al-Naqib bin Ali al-Uraidhi bin Ja'far al-Shodiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Fathimah Azzahro binti Rasulullah istri Sayyidina Ali bin Abu Thalib. Beliau dilahirkan di kota Madinah Al Munawarroh pada tahun 184 Hijriah. Dibesarkan dan dididik oleh ayahnya Al Imam Ali al-Uraidhi hingga ayahnya wafat. Beliau tidak pernah berpergian dan berpisah dari ayahnya kecuali setelah ayahnya wafat.
Imam Muhammad bin Ali al-Uraidhi adalah seorang pemimpin yang sempurna. Para ulama sepakat atas kepemimpinannya, kewibawaannya, ilmunya, amalnya, kewara'annya, karena itulah Imam Muhammad digelari dengan al-Naqib (pemimpin). Beliau orang yang banyak beribadah, dermawan, tidak suka ketenaran hingga ia dijuluki Jamaluddin. Beliau yang pertama kali pindah dari kota Madinah ke kota Iraq dan menetap di Basrah setelah ayahnya wafat. Di sana beliau di sambut baik oleh masyarakatnya. Tidak sedikit sejarawan penyair dan ulama yang menuturkan pujian atas pribadi beliau yang luhur sampai wafatnya.
Beliau dikaruniai banyak keturunan yang kelak menjadi ulama-ulama shoihin yang menyebarkan agama islam ke penjuru dunia, diantara keturunannya itu ialah: al-Muhaddits Yahya bin Husin bin Isa Arrumi bin Muhammad An-Naqib, Abu Turab Ali bin Isa al-Akbar, Abu Fawaris Ja'far bin Hamzah bin Husin bin Musa bin Isa al-Akbar, Ishaq bin Isa al-Akbar, Muhammad bin Muhsin bin Muhammad bin Husin, Isa bin Muhammad bin Husin.
Diantara ulama yang menulis tentang riwayat hidupnya ialah Al Amari dan Ibnu Anbah, beliau wafat di kota Basrah pada tahun 243 Hijriah.

Sabtu, 16 Januari 2010

Biografi Singkat Tokoh Ulama Salaf Ahlul Bait (Bagian 4)

0 komentar
Al Imam Abdul Malik

Silsilah nasab beliau adalah Al Imam Abdul Malik bin Alwi Amul Faqih bin Muhammad Shahib Marbath bin Al Imam Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir bin Isa Arrumi bin Muhammad An Naqib bin Ali Uraidhi bin Ja'far As Shadiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin Bin Al Husain bin Fathimah binti Rasulillah Muhammad SAW istri Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Beliau dilahirkan di kota Qasam dekat kota Tarim Hadramaut, sejak kecil beliau dididik oleh ayahnya yaitu Imam Almi bin Muhammad Shahib Marbath, menimba ilmu al Qur’an dan al Hadits dari berbagai ulama terkenal di negeri Hadramaut, beliau tidak pernah merasa bosan, baik hati maupun lisannya untuk berdzikir kepada ALLAH SWT, beliau termasuk orang yang gemar berda’wah ke berbagai tempat sampai akhirnya beliau berangkat menuju India bersama-sama Jamma’ah Alawiyyin lainnya sekitar abad ke-6 hijriah, beliau menetap di negeri Barwaj dekat Ahmad Abad, kepergian beliau dan anak-anaknya guna menyiarkan agama islam kepada masyarakat India dan sekitarnya, beliau beserta keluarganya merupakan orang-orang yang membina sendi-sendi mazhab Ahlu Sunnah wal Jamma’ah dan mengembangkannya dengan gigih.

Beliau menikah dengan seorang putri pembesar di India dan mendapatkan keturunan yang banyak yang merupakan tokoh-tokoh Islam yang menyebarkan Mazhab Syafi’I di tanah Hindustan.

Beliau merupakan cikal bakal para wali di berbagai penjuru dunia sebagaimana sepupu beliau yang terkenal dengan julukan Al Faqih muqaddam Muhammad bin Ali Ba’alawi.

Al imam Abdul Malik adalah kakek moyang para wali di tanah Jawa yang dikenal dengan nama Wali Songo dan para wali penyebar Islam di India, Kamboja, Campa, Philipina, Brunai, Malaysia dan Indonesia.
Beliau berpulang ke Rahmatullah pada tahun 653 Hijriah di kota Ahmad Abad, India.
Semoga ALLAH memberkahinya selalu,, Amiin....

Biografi Singkat Tokoh Ulama Salaf Ahlul Bait (Bagian 3)

0 komentar
Al Imam Alwi bin Ubaidillah

Al Imam Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir bin Isa Arrumi bin Muhammad An Naqib bin Ali Uraidhi bin Ja'far Az Shadiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin Bin Al Husain bin Fathimah binti Rasulillah Muhammad SAW istri Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Dilahirkan di Hadramaut sekitar tahun 330 Hijriah. Ibunya bernama Ummul Banin binti Muhammad bin Isa Arrumi. Beliau adalah orang pertama yang diberi nama Alwi, oleh sebab itu keturunannya digelari Bani Alawi (Ba’Alawi) menyebar ke penjuru dunia melahirkan Imam-imam besar dan para wali.

Beliau pelita islam, sejak kecil telah hafal Al Qur’an, belajar tajwid dari guru-guru yang ahli dan menimba ilmu islam dari berbagai guru di berbagai tempat di Hadramaut, Mekkah, Yaman, Madinah dan selalu mengikuti jejak langkah ayahnya, Al Imam Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir. Gemar sedekah dengan sembunyi-sembunyi sampai pekerja-pekerja beliaupun tidak ada yang tahu, suka merahasiakan amalan sedekahnya, dikisahkan pernah beliau membawa rombongan haji tidak kurang dari 80 orang, dan tidak diperbolehkan seorangpun dari mereka mengeluarkan biaya sendiri, semua biaya ditanggungnya demi mengharap ridho ALLAH SWT.
Beliau sempat mengajarkan hadits di kota Madinah dan Mekkah, tidak sedikit ulama-ulama terkemuka di kedua kota suci itu mendengarkan hadits dari beliau.

Sebagai seorang ulama, beliau tidak segan-segan memberikan pengarahan dan mengajarkan ilmunya kepada mereka dengan sukarela sehingga ilmunya menjadi berkah dan bermanfaat bagi murid-muridnya. Beliau wafat dengan meninggalkan seorang putra yang diberi nama Muhammad. Nama beliau disebutkan dalam kitab sejarah Al Jundi, Al Khazraji dan Al Ahdal.
Semoga ALLAH memberkahinya selalu, Amiiiiiin..

Biografi Singkat Tokoh Ulama Salaf Ahlul Bait

0 komentar
Al Imam Ali Al Uraidhi

Imam Ali bin Ja'far al-Shodiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Fathimah Azzahro binti Rasulullah SAW istri Sayyidina Ali bin Abi Thalib mempunyai gelar Abu Hasan, Beliau dilahirkan pada tahun 135 Hijriah di Kota suci Madinah, beliau adalah mataharinya ahlul-bait dan bulannya keturunan Rasulullah saw. Imam Ali al-Uraidhi adalah anak bungsu dari anak-anak Imam Ja'far al-Shodiq, ia masih kecil ketika ayahnya wafat. Semasa hidupnya ia menuntut ilmu kepada ayahnya dan saudaranya Imam Musa al-Kadzim dan Hasan bin Zaid bin Ali Zainal Abidin, hingga kepandaian beliau melebihi saudara-saudaranya sendiri. Sedangkan murid beliau adalah anaknya sendiri Muhammad dan Ahmad serta cucu beliau Abdullah bin Hasan bin Ali al-Uraidhi dan cucu saudaranya Ismail bin Muhammad bin Ishaq bin Ja'far al-Shodiq serta ahli qiroat Imam al-Bazi.

Imam Ali al-Uraidhi adalah seorang pemimpin kaum syarif dan syaikhnya Bani Hasyim di kota Uraidh, dikenal sebagai orang mulia yang luas ilmu pengetahuannya, mahir di bidang ilmu riwayat dan dirayat, selain itu beliau dikenal amat teguh memegang ajaran agamanya. Beliau dinamai Al Uraidhi sebagai nisbah kepada satu tempat yang bernama Al Uraidh yaitu nama wilayah yang terletak pada jarak 4 mil dari Kota Madinah Al Munawaroh. Beliau pernah mangeadakan pergerakan di Kota Mekkah berama saudaranya yang bernama Muhammad bin Ja’far As Shadiq pada masa pemerintahan Al Ma’mun, ia mengajak orang untuk membai’atnya, lalu penduduk Hijaz membai’atnya sebagai Khalifah, ia adalah keturunan Fathimah Az Zahra dan Ali bin Abi Thalib pertama yang dibai’at oleh mereka, hal itu terjadi pada tahun 200 Hijriah.

Az Zarabi pernah menyebutkan otto biografi beliay di dalam kitab Tarikhul Islam, otto biografi beliau juga disebutkan di dalam kitab Al Mizan dan Al Ka Syifu’an As Mair Rijali. Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqolani pernah juga mengebutkan oto biografi beliau dalam kitan At Taqrib, semuanya menyebutkan keagungan sifat-sifat beliau. Imam Ahmad Ibnu Hanbalpun pernah menyebutkan di dalam kita Sunnahnya sebuah hadits yang menyebutkan tentang mencintai keluarga nabi Muhammad SAW dengan Isnad yang bersumber dari beliau.

Di antara para ulama yang menyebutkan tentang riwayat hidup beliau ialah Al Qadi Iyadh di dalam kitab As Syifa dalam kitab Tarikhnya serta Ibnu Ambah di dalam kitab Umdatud Tholib, dan ulama lainnya diantaranya ialah Al Amri, Sayid Ali As Samhudi di dalam kitab Jawahirul, Ugdain.

Diantara orang-orang yang pernah meriwayatkan hadits dari beliau ialah Abdullah bin Hasan binAli, Imam Ismail bin Muhammad Ja’far, Imam Ahmad Al Bazzi penulis buku Qirat, Salamah Ibnu Syabib, Nashir Ibnu Ali Al Jahdami dan ulama-ulama hadits lainnya.


Anak-anak Imam Ali dikenal dengan al-Uraidhiyun yang banyak mendiami daerah Uraidh, Kuffah dan Qum. Anak-anak beliau:
*Ja'far, mendapat keturunan dari anaknya Ali.
*Hasan, mendapat keturunan dari anaknya Abdullah yang terdapat di Madinah, Mesir, Iraq dan negeri lainnya.
*Ahmad Asy-Sya'roni, mendapat keturunan dari anaknya Muhammad yang terdapat di Iraq yang dikenal dengan Bani Jiddah, Basiron dan Thobariyah.
*Muhammad An-Naqib

Beliau banyak meninggalkan catatan-catatan mengenai hokum-hukum agama yang didapat dari ayah dan saudaranya diantaranya yang termasyhur adalah kitab Masail Ali bin Ja’far, semoga ALLAH memberkahinya selalu, Amiiiiiin..

Senin, 01 Juni 2009

SEKILAS SEJARAH MIRZA GHULAM AHMAD (MGA) AL-KADZDAAB

0 komentar
Tahun 1839 :
MGA Al-Kadzdzab di lahirkan di desa Qodiyan-India :
Tahun 1857 :
Ghulam Murtaza (Murtadha), ayah kandung MGA Al-Kadzdzab, membantu Inggris membantai para pejuang Islam yang melawan penjajah Inggris di India. Banyak warga sipil muslimin jadi korban
Tahun 1877 :
MGA Al-Kadzdzab mulai berdakwah dengan pesona untuk memikat umat Islam
Tahun 1880 :
MGA Al-Kadzdzab mulai menulis kitab barahin Ahmadiyah & mengakaku sebagai Waliyullah yang memiliki keramat
Tahun 1883 :
MGA Al-Kadzdzab secara terbuka memuji Inggris dan berjanji setia kepadanya
Tahun 1884 :
MGA Al-Kadzdzab mulai didukung dan dibesarkan penjajah Inggris sebagai penghargaan kepadanya yang telah setia membantu Inggris
Tahun 1885 :
MGA Al-Kadzdzab mengaku sebagai Mujaddid (pembaharu)
Tahun 1891 :
MGA Al-Kadzdzab mengaku sebagai Imam Mahdi
Tahun 1901 :
MGA Al-Kadzdzab menaku sebagai Nabi & Rasul.



BUKTI KEKAFIRAN AHMADIYAH:
1. Ahmadiyah meyakini Mirza ghulam Ahmad (MGA) Al-Kadzab sebagai Nabi dan Rasul, erta sebagai imam Mahdi dan Al-Masiihul Al-Mau’uud.
2. Ahmadiyah meyakini Mirza ghulam Ahmad (MGA) Al-Kadzab mendapat wahyu dari Allah, yang semua wahyu tersebut dihimpun dalam kumpulan wahyu suci yang disebut kitab suci Tadzkiroh.
3. Ahmadiyah meyakini Mirza ghulam Ahmad (MGA) Al-Kadzab telah menyatu dengan Allah, dan menjadi anak Allah, lalu menjadi Alah, bahkan akhirnya lebih sempurna dari Allah.
4. Kitab Tadzkirah setebal 840 halaman berisikan antara lain:

1)Tadzikroh adalah wahyu yang suci
2)MGA sama dengan ketauhidan & keesaan allah
3)Nama MGA sempurna, sedang nama Allah tidak sempurna
4)Yang mendustai Ahmadiyah adalah Manusia Kotor & Babi.
5)MGA adalah Syahid, Mubasysyir & Nadziir, segala sesuatu ada di kedua kakinya
6)MGA mengaku Al-Masih Ibnu Maryam
7)MGA makhluk terbaik di alam smesta
8)MGA menyatu dengan Allah dan dia menjadi Allah.
9)MGA Al-Kadzaab mengaku sebagai pencipta langit dan bumi.
10)MGA Al-Kadzaab bebas berbuat apa saja sesuka hatinya karena sudah diampuni oleh Allah
11)MGA Al-Kadzaab sama dengan anak Allah
12)MGA Al-Kadzaab adalah Rasul
13)MGA Al-Kadzaab adalah Nabi yang belum dikenal
14)MGA Al-Kadzaab sama seperti Al-Qur’an dan akan mendapatkan Al-Furqon
15)Selain pengikut MGA Al-Kadzaab adalah kafir yang boleh diculik & dibunuh dengan cara sadis kapan saja & di mana saja
16)MGA Al-Kadzaab adalah Imam yg di berkahi, dan laknat Allah atas yg menginggkarinya

5. Kitab Ruhani Khazain sebanyak 23 jilid yg merupakan kumpulan karangan Mirza Ghulam Ahmad Al-Kadzaab berisikan antara lain:
1)MGA Al-Kadzaab menyatakan kesediaan berkoban nyawa & darah bagi penjajah inggris
2)MGA Al-Kadzaab mewajibkan berterima kasih kepada penjajah inggris yang diakui 3)sebagai pemerintah yang di berkahi
4)MGA Al-Kadzaab mengakui sebagai pelayan setia penjajah inggris
5)MGA Al-Kadzaab menyatakan bahwa nabi Isa as seorang pecandu arak/pemabuk
6)MGA Al-Kadzaab menyatakan bahwa nabi sa as biasa berbuat keji, lancang lidah dan berdusta
7)MGA Al-Kadzaab menyatakan bahwa nabi Isa as tidak memiliki mu’jizat
8)MGA Al-Kadzaab menyatakan bahwa nabi Isa as lahir dari keturunan pezina
9)MGA Al-Kadzaab menghapuskan hukum jihad
10)MGA Al-Kadzaab mengaku sebagai Pembawa Syari’at
11)MGA Al-Kadzaab mengaku sebagai jelmaan Nabi Muhammad SAW dan sebagai Rasul
12)MGA Al-Kadzaab mengaku sebagai jelmaan Maryam as, lalu jelman Nabi Isa as
13)MGA Al-Kadzaab mengaku sebagai Nabi


AYAT CINTA DITOLAK, MUNAZHARAH & MUBAHALAH

1. AYAT CINTA DITOLAK
Ketika MGA Al-Kadzdzab berusia hampir 60 tahun, ia jatuh cinta kepada seorang wanita muslimah masih familinya yang bernama Muhammadi begum. Beberapa kali MGA Al-Kadzdzab melamarnya tapi ditolak, bahkan akhirnya wanita tersebut menikah dengan pria lain. MGA Al-Kadzdzab pun maah dan mengatakan bahwa Allah berfirman akan menjadikan wanita tersebut sebagai janda & akan membinasakan ayah dan suaminya dalam waktu 3 tahun terhitung sejak hari nikahnya, serta akan mengembalikan si wanita tersebut kepadanya (Lihat : Tadzkirah Hal 166 Brs 4-6 7 Hal 226 Brs 4). Ternyata akhirnya, setelah 3 tahun si wanita tidak menjadi janda & suaminya masih tetap hidup, bahkan MGA Al-Kadzdzab yg mati lebih dahulu.

2. KALAH MUNAZHARAH & BINASA DI MUBAHALAH:
MGA Al-Kadzdzab telah dikalahkan & dipermalukan oleh para Ulama India dalam berbagai Munazharah (perdebatan), mereka antara lain: Maulavi Muhamad Husein, Mulavi Muhammad Ali, Maulavi Mahmud Basyir, Maulavi Abdul Hakim, dan Sayyid ‘Athaillah Al-Bukhari.

MGA Al-Kadzdzab juga menantang Mubahalah (Saling Sumpah Dilaknat) para Ulama India, diantaranya Maulavi Nazhir Husein (maulana Husein), namun tantangan itu hanya disampaikan secara lisan, sehinga tidak terdokumentasikan.

Baru pada tgl. 15 April 1907 M, MGA Al-Kadzdzab mengeluarkan Suarat Mubahalah terhadap Asy-Syeikh Abdul Wafa’ Tsana-allah Al-Amstasri rhm yang isinya bahwa si pendusta akan dilaknat oleh Allah dan akan terkena kolera serta akan mati dalam keadaan hina di masa hidup si jujur. Ternyata akhirnya, tepat 13 bulan 11 hari, pada tgl. 26 Mei 1908 M, MGA Al-Kadzdzab MATI DI DALAM WC KARENA KOLERA DALAM KEADAAN BERLUMURAN KOTORAN, ia mati dilaknat dalam keadaan jina. Si jujur Syeikh Tsana-allah rhm masih tetap hidup hingga 40 tahun seteah kematian si pendusta MGA Al-Kadzdzab.

ShareThis