Maha Benar ALLAH 'Azza wa Jalla yang melarang orang beriman berbicara kepada Rasul-Nya dengan suara keras, dan memanggil beliau dengan kata panggilan atau sebutan yang biasa digunakan di antara sesama mereka. Alangkah picik dan dungunya jika kita tidak mengerti, atau tidak mau mengerti, bahwa kita berbuat menyakiti hati dan perasaan orang yang kedudukan atau martabatnya di atas kita, jika kita memanggil atau menyebutnya hanya cukup dengan namanya saja! Labih-lebih lagi karena kita adalah orang-orang Timur yang terkenal sebagai bangsa yang berbudaya dan beradab.
Menghormati seorang pemimpin tidak berarti mengkultuskan atau mendewa-dewakannya. Kita yakin seyakin-yakinnya, bahwa tidak ada apapun yang berhak disembah selain ALLAH. Konsekuensi logis dari keyakinan itu, kita wajib memberi penghormatan setinggi-tingginya kepada manusia pilihan ALLAH yang diutus menyampaikan kebenaran agaa-NYA. Manusia itu adalah junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. Semasa hidupnya, tidak ada seorangpun dari ahlul baitnya, kaum kerabat, dan para sahabatnya yang berbicara dengan suara keras di depan beliau, dan tidak ada seorangpun yang menyebut beliau hanya dengan nama telanjang "Muhammad" atau "Hai Muhammad". Yang menyebut beliau dengan cara seperti itu, hanyalah kaum musyrikin, yahudi, orang-oang badui, dan pengembara di padang pasir yang belum mengenal islam atau belum memeluk islam.
Lima belas abad silam, atas petunjuk Ilahi, kaum Muslimin sudah menerapkan tata krama dan sopan santun terhadap Rasulullah SAW. Sungguh naif sekali jika di zaman ini, masih ada orang beriman yang memanggil atau menyebut Rasulullah hanya dengan "Muhammad" saja, tidak hanya berlawanan dengan firman ALLAH di dalam surah An Nur ayat 63, tetapi juga tidak dapat dipertanggung jawabkan keabsahannya menurut syara', bukan hanya sekedar tidak sopan.
Bahkan ada sementara orang yang amat keberatan menyebut nama Rasulullah dengan awalan kata "Sayyidina" (Pemimpin kita, Junjungan kita). Menurut mereka sebutan itu adalah bid'ah. Mereka mengatakan sebuah hadits yang di dalamnya Rasulullah melarang para sahabat menyebut atau memanggil beliau dengan awalan kata "Sayyid". Mereka menyebut kalimat dalam hadits termaksud :
" Laa Tusayyiduunii" yang artinya : "Janganlah kalian menjadikan diriku sayyid"
Hadits yang mereka kutip sesungguhnya hadits karangan mereka sendiri. Buktinya? Di dalam bahasa Arab tidak pernah ada akar kata sayada, yang dalam tata bahasa Arab dapat berubah menjadi sayyada dan yusayyidu. Yang ada adalah akar kata sa-wa-da yang karena konteks kalimatnya, secara tata bahasa, dapat berubah menjadi sawwada dan yusawwidu, yang berarti "membuat orang menjadi sayyid". silahkan telaah semua kamus bahasa Arab yang ada di mana saja. Jadi sangatlah mustahi; Rasulullah SAW menggunakan kata "Tusayyiduunii". Beliau tidak penah berbicara dengan bahasa acak. Bahasa Arab beliau adalah bahasa Arab murni yang tinggi mutu sastranya. Be;liau seorang manusia ma'shum (terpelihara dari kemungkinan berbuat salah, keliru, lupa, dan berbagai kelemahan lainnya). Betapapun kecilnya kesalahan, kekeliruan atau kelupaan beliau, pasti berakibat fatal bagi pelaksanaan tugas Risalah beliau, dan bagi umatnya. Tidak ada sumber riwayat hadits yang mengetengahkan hadits semacam itu. Kalau ada sumbernya, sumber itu adalah rekayasa mereka sendiri.
Beliau memang tidak pernah meminta kepada seorang sahabatpun agar menyebut nama beliau dengan awalan kata Sayyid, Dan di dunia ini, barnagkali tidak ada oang berakal sehat menuntut orang lain supaya menyebut namanya dengan awalan kata-kata: "tuan", "junjungan", "yang mulia", "paduka tuan", "paduka yang mulia" dan seterusnya; tetapi sebaliknya, banyak orang yang menyebut atau memanggil orang lain dengan awalan kata tersebut, tidak atas permintaan pihak yang disebut atau yang dipanggil. Menuntut orang lain memanggil dan menyebut namanya engan awalan kata-kata seperti itu, hanya pantas dilakukan oleh orang tidak waras. Namun, kaum Muslimin, sebagai umat yang sangat berutang budi kepada Beliau selaku Nabi dan Rasul, yang telah menyelamatkan jalan hidup mereka dari kesesatan aqidah, maka sudah sepatutnya untuk menghormati beliau dengan setinggi-tingginya. Tidaklah berlebihan jika kita memanggil atau menyebut nama beliau dengan awalan kata Sayyidina. Apakah Bid'ah atau apakah Dholalah (sesat) jika kaum Muslimin menghormati kemuliaan Beliau dengan menyebut Sayyidina Muhammad Rasulullah SAW?
