Senin, 25 Oktober 2010

Sekilas tentang wahabi

Nama Aliran Wahabi ini diambil dari nama pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab (lahir di Najed tahun 1111 H / 1699 M). Asal mulanya dia adalah seorang pedagang yang sering berpindah dari satu negara ke negara lain dan diantara negara yang pernah disinggahi adalah Baghdad, Iran, India dan Syam.

Kemudian pada tahun 1125 H / 1713 M, dia terpengaruh oleh seorang orientalis Inggris bernama Mr. Hempher yang bekerja sebagai mata-mata Inggris di Timur Tengah. Sejak itulah dia menjadi alat bagi Inggris untuk menyebarkan ajaran barunya. Inggris memang telah berhasil mendirikan sekte-sekte bahkan agama baru di tengah umat Islam seperti Ahmadiyah dan Baha'i. Bahkan Muhammad bin Abdul Wahab ini juga termasuk dalam target program kerja kaum kolonial dengan alirannya Wahabi.
Mulanya Muhammad bin Abdul Wahab hidup di lingkungan sunni pengikut madzhab Hanbali, bahkan ayahnya Syaikh Abdul Wahab adalah seorang sunni yang baik, begitu pula guru-gurunya. Namun sejak semula ayah dan guru-gurunya mempunyai firasat yang kurang baik tentang dia bahwa dia akan sesat dan menyebarkan kesesatan. Bahkan mereka menyuruh orang-orang untuk berhati-hati terhadapnya. Ternyata tidak berselang lama firasat itu benar. Setelah hal itu terbukti ayahnya pun menentang dan memberi peringatan khusus padanya. Bahkan kakak kandungnya, Sulaiman bin Abdul Wahab, ulama' besar dari madzhab Hanbali, menulis buku bantahan kepadanya dengan judul As-Sawa'iqul Ilahiyah Fir Raddi Alal Wahabiyah. Tidak ketinggalan pula salah satu gurunya di Madinah, Syekh Muhammad bin Sulaiman AI-Kurdi as-Syafi'i, menulis surat berisi nasehat: "Wahai Ibn Abdil Wahab, aku menasehatimu karena Allah, tahanlah lisanmu dari mengkafirkan kaum muslimin, jika kau dengar seseorang meyakini bahwa orang yang ditawassuli bisa memberi manfaat tanpa kehendak Allah, maka ajarilah dia kebenaran dan terangkan dalilnya bahwa selain Allah tidak bisa memberi manfaat maupun madharrat, kalau dia menentang bolehlah dia kau anggap kafir, tapi tidak mungkin kau mengkafirkan As-Sawadul A'dham (kelompok mayoritas) diantara kaum muslimin, karena engkau menjauh dari kelompok terbesar, orang yang menjauh dari kelompok terbesar lebih dekat dengan kekafiran, sebab dia tidak mengikuti jalan muslimin.

Sebagaimana diketahui bahwa madzhab Ahlus Sunnah sampai hari ini adalah kelompok terbesar. Allah berfirman : "Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu (Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan) dan kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali (QS: An-Nisa 115)

Salah satu dari ajaran yang (diyakini oleh Muhammad bin Abdul Wahab, adalah mengkufurkan kaum muslim sunni yang mengamalkan tawassul, ziarah kubur, maulid nabi, dan lain-lain. Berbagai dalil akurat yang disampaikan ahlussunnah wal jama'ah berkaitan dengan tawassul, ziarah kubur serta maulid, ditolak tanpa alasan yang dapat diterima. Bahkan lebih dari itu, justru berbalik mengkafirkan kaum muslimin sejak 600 tahun sebelumnya, termasuk guru-gurunya sendiri.
Pada satu kesempatan seseorang bertanya pada Muhammad bin Abdul Wahab, Berapa banyak Allah membebaskan orang dari neraka pada bulan Ramadhan?? Dengan segera dia menjawab, "Setiap malam Allah membebaskan 100 ribu orang, dan di akhir malam Ramadhan Allah membebaskan sebanyak hitungan orang yang telah dibebaskan dari awal sampai akhir Ramadhan" Lelaki itu bertanya lagi "Kalau begitu pengikutmu tidak mencapai satu person pun dari jumlah tersebut, lalu siapakah kaum muslimin yang dibebaskan Allah tersebut? Dari manakah jumlah sebanyak itu? Sedangkan engkau membatasi bahwa hanya pengikutmu saja yang muslim. Mendengar jawaban itu Ibn Abdil Wahab pun terdiam seribu bahasa. Sekalipun demikian Muhammad bin Abdul Wahab tidak menggubris nasehat ayahnya dan guru-gurunya itu.
Dengan berdalihkan pemurnian ajaran Islam, dia terus menyebarkan ajarannya di sekitar wilayah Najed. Orang-orang yang pengetahuan agamanya minim banyak yang terpengaruh. Termasuk diantara pengikutnya adalah penguasa Dar'iyah, Muhammad bin Saud (meninggal tahun 1178 H / 1765 M) pendiri dinasti Saudi, yang dikemudian hari menjadi mertuanya. Dia mendukung secara penuh dan memanfaatkannya untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Ibn Saud sendiri sangat patuh pada perintah Muhammad bin Abdul Wahab. Jika dia menyuruh untuk membunuh atau merampas harta seseorang dia segera melaksanakannya dengan keyakinan bahwa kaum muslimin telah kafir dan syirik selama 600 tahun lebih, dan membunuh orang musyrik dijamin surga.

Sejak semula Muhammad bin Abdul Wahab sangat gemar mempelajari sejarah nabi-nabi palsu, seperti Musailamah Al-Kadzdzab, Aswad Al-Ansiy, Tulaihah Al-Asadiy dll. Agaknya dia punya keinginan mengaku nabi, ini tampak sekali ketika ia menyebut para pengikut dari daerahnya dengan julukan Al-Anshar, sedangkan pengikutnya dari luar daerah dijuluki Al-Muhajirin. Kalau seseorang ingin menjadi pengikutnya, dia harus mengucapkan dua syahadat di hadapannya kemudian harus mengakui bahwa sebelum masuk Wahabi dirinya adalah musyrik, begitu pula kedua orang tuanya. Dia juga diharuskan mengakui bahwa para ulama? besar sebelumnya telah mati kafir. Kalau mau mengakui hal tersebut dia diterima menjadi pengikutnya, kalau tidak dia pun langsung dibunuh. Muhammad bin Abdul Wahab juga sering merendahkan Nabi SAW dengan dalih pemurnian akidah, dia juga membiarkan para pengikutnya melecehkan Nabi di hadapannya, sampai-sampai seorang pengikutnya berkata : 'Tongkatku ini masih lebih baik dari Muhammad, karena tongkat-ku masih bisa digunakan membunuh ular, sedangkan Muhammad telah mati dan tidak tersisa manfaatnya sama sekali..'

Muhammad bin Abdul Wahab di hadapan pengikutnya tak ubahnya seperti Nabi di hadapan umatnya. Pengikutnya semakin banyak dan wilayah kekuasaan semakin luas. Keduanya bekerja sama untuk memberantas tradisi yang dianggapnya keliru dalam masyarakat Arab, seperti tawassul, ziarah kubur, peringatan Maulid dan sebagainya. Tak mengherankan bila para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab lantas menyerang makam-makam yang mulia. Bahkan, pada 1802, mereka menyerang Karbala-Irak, tempat dikebumikan jasad cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib. Karena makam tersebut dianggap tempat munkar yang berpotensi syirik kepada Allah. Dua tahun kemudian, mereka menyerang Madinah, menghancurkan kubah yang ada di atas kuburan, menjarah hiasan-hiasan yang ada di Hujrah Nabi Muhammad.

Keberhasilan menaklukkan Madinah berlanjut. Mereka masuk ke Mekkah pada 1806, dan merusak kiswah, kain penutup Ka?bah yang terbuat dari sutra. Kemudian merobohkan puluhan kubah di Ma?la, termasuk kubah tempat kelahiran Nabi SAW, tempat kelahiran Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Ali, juga kubah Sayyidatuna Khadijah, masjid Abdullah bin Abbas. Mereka terus menghancurkan masjid-masjid dan tempat-tempat kaum solihin sambil bersorak-sorai, menyanyi dan diiringi tabuhan kendang. Mereka juga mencaci-maki ahli kubur bahkan sebagian mereka kencing di kubur kaum solihin tersebut. Gerakan kaum Wahabi ini membuat Sultan Mahmud II, penguasa Kerajaan Usmani, Istanbul-Turki, murka. Dikirimlah prajuritnya yang bermarkas di Mesir, di bawah pimpinan Muhammad Ali, untuk melumpuhkannya. Pada 1813, Madinah dan Mekkah bisa direbut kembali. Gerakan Wahabi surut. Tapi, pada awal abad ke-20, Abdul Aziz bin Sa?ud bangkit kembali mengusung paham Wahabi. Tahun 1924, ia berhasil menduduki Mekkah, lalu ke Madinah dan Jeddah, memanfaatkan kelemahan Turki akibat kekalahannya dalam Perang Dunia I. Sejak itu, hingga kini, paham Wahabi mengendalikan pemerintahan di Arab Saudi. Dewasa ini pengaruh gerakan Wahabi bersifat global. Riyadh mengeluarkan jutaan dolar AS setiap tahun untuk menyebarkan ideologi Wahabi. Sejak hadirnya Wahabi, dunia Islam tidak pernah tenang penuh dengan pergolakan pemikiran, sebab kelompok ekstrem itu selalu menghalau pemikiran dan pemahaman agama Sunni-Syafi'i yang sudah mapan.
Kekejaman dan kejahilan Wahabi lainnya adalah meruntuhkan kubah-kubah di atas makam sahabat-sahabat Nabi SAW yang berada di Ma'la (Mekkah), di Baqi' dan Uhud (Madinah) semuanya diruntuhkan dan diratakan dengan tanah dengan mengunakan dinamit penghancur. Demikian juga kubah di atas tanah Nabi SAW dilahirkan, yaitu di Suq al Leil diratakan dengan tanah dengan menggunakan dinamit dan dijadikan tempat parkir onta, namun karena gencarnya desakan kaum Muslimin International maka dibangun perpustakaan. Kaum Wahabi benar-benar tidak pernah menghargai peninggalan sejarah dan menghormati nilai-nilai luhur Islam. Semula AI-Qubbatul Khadra (kubah hijau) tempat Nabi Muhammad SAW dimakamkan juga akan dihancurkan dan diratakan dengan tanah tapi karena ancaman International maka orang-orang biadab itu menjadi takut dan mengurungkan niatnya. Begitu pula seluruh rangkaian yang menjadi manasik haji akan dimodifikasi termasuk maqom Ibrahim akan digeser tapi karena banyak yang menentangnya maka diurungkan.
Pengembangan kota suci Makkah dan Madinah akhir-akhir ini tidak mempedulikan situs-situs sejarah Islam. Makin habis saja bangunan yang menjadi saksi sejarah Rasulullah SAW dan sahabatnya. Bangunan itu dibongkar karena khawatir dijadikan tempat keramat. Bahkan sekarang, tempat kelahiran Nabi SAW terancam akan dibongkar untuk perluasan tempat parkir. Sebelumnya, rumah Rasulullah pun sudah lebih dulu digusur. Padahal, disitulah Rasulullah berulang-ulang menerima wahyu. Di tempat itu juga putra-putrinya dilahirkan serta Khadijah meninggal.
Islam dengan tafsiran kaku yang dipraktikkan wahabisme paling punya andil dalam pemusnahan ini. Kaum Wahabi memandang situs-situs sejarah itu bisa mengarah kepada pemujaan berhala baru. Pada bulan Juli yang lalu, Sami Angawi, pakar arsitektur Islam di wilayah tersebut mengatakan bahwa beberapa bangunan dari era Islam kuno terancam musnah. Pada lokasi bangunan berumur 1.400 tahun Itu akan dibangun jalan menuju menara tinggi yang menjadi tujuan ziarah jamaah haji dan umrah.
"Saat ini kita tengah menyaksikan saat-saat terakhir sejarah Makkah. Bagian bersejarahnya akan segera diratakan untuk dibangun tempat parkir," katanya kepada Reuters. Angawi menyebut setidaknya 300 bangunan bersejarah di Makkah dan Madinah dimusnahkan selama 50 tahun terakhir. Bahkan sebagian besar bangunan bersejarah Islam telah punah semenjak Arab Saudi berdiri pada 1932. Hal tersebut berhubungan dengan maklumat yang dikeluarkan Dewan Keagamaan Senior Kerajaan pada tahun 1994. Dalam maklumat tersebut tertulis, ?Pelestarian bangunan bangunan bersejarah berpotensi menggiring umat Muslim pada penyembahan berhala.
Nasib situs bersejarah Islam di Arab Saudi memang sangat menyedihkan. Mereka banyak menghancurkan peninggalan-peninggalan Islam sejak masa Ar-Rasul SAW. Semua jejak jerih payah Rasulullah itu habis oleh modernisasi ala Wahabi. Sebaliknya mereka malah mendatangkan para arkeolog (ahli purbakala) dari seluruh dunia dengan biaya ratusan juta dollar untuk menggali peninggalan-peninggalan sebelum Islam baik yang dari kaum jahiliyah maupun sebelumnya dengan dalih obyek wisata. Kemudian dengan bangga mereka menunjukkan bahwa zaman pra Islam telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa, tidak diragukan lagi ini merupakan pelenyapan bukti sejarah yang akan menimbulkan suatu keraguan di kemudian hari.

Gerakan wahabi dimotori oleh para juru dakwah yang radikal dan ekstrim, mereka menebarkan kebencian permusuhan dan didukung oleh keuangan yang cukup besar. Mereka gemar menuduh golongan Islam yang tak sejalan dengan mereka dengan tuduhan ka...fir, syirik dan ahli bid?ah. Itulah ucapan yang selalu didengungkan di setiap kesempatan, mereka tak pernah mengakui jasa para ulama Islam manapun kecuali kelompok mereka sendiri. Di negeri kita ini mereka menaruh dendam dan kebencian mendalam kepada para Wali Songo yang menyebarkan dan meng-Islam-kan penduduk negeri ini.
Mereka mengatakan ajaran para wali itu masih kecampuran kemusyrikan Hindu dan Budha, padahal para Wali itu telah meng-Islam-kan 90 % penduduk negeri ini. Mampukah wahabi-wahabi itu meng-Islam-kan yang 10% sisanya? Mempertahankan yang 90 % dari terkaman orang kafir saja tak bakal mampu, apalagi mau menambah 10 % sisanya. Justru mereka dengan mudahnya mengkafirkan orang-orang yang dengan nyata bertauhid kepada Allah SWT. Jika bukan karena Rahmat Allah yang mentakdirkan para Wali Songo untuk berdakwah ke negeri kita ini, tentu orang-orang yang menjadi corong kaum wahabi itu masih berada dalam kepercayaan animisme, penyembah berhala atau masih kafir. (Naudzu billah min dzalik).
Oleh karena itu janganlah dipercaya kalau mereka mengaku-aku sebagai faham yang hanya berpegang teguh pada Al-Qur'an dan As-Sunnah. Mereka berdalih mengikuti keteladanan kaum salaf apalagi mengaku sebagai golongan yang selamat dan sebagainya, itu semua omong kosong belaka. Mereka telah menorehkan catatan hitam dalam sejarah dengan membantai ribuan orang di Makkah dan Madinah serta daerah lain di wilayah Hijaz (yang sekarang dinamakan Saudi). Tidakkah anda ketahui bahwa yang terbantai waktu itu terdiri dari para ulama yang sholeh dan alim, bahkan anak-anak serta balita pun mereka bantai di hadapan ibunya. Tragedi berdarah ini terjadi sekitar tahun 1805. Semua itu mereka lakukan dengan dalih memberantas bid?ah, padahal bukankah nama Saudi sendiri adalah suatu nama bid?ah? Karena nama negeri Rasulullah SAW diganti dengan nama satu keluarga kerajaan pendukung faham wahabi yaitu As-Sa'ud.
Sungguh Nabi SAW telah memberitakan akan datangnya Faham Wahabi ini dalam beberapa hadits, ini merupakan tanda kenabian beliau SAW dalam memberitakan sesuatu yang belum terjadi. Seluruh hadits-hadits ini adalah shahih, sebagaimana terdapat dalam kitab shahih BUKHARI & MUSLIM dan lainnya. Diantaranya: "Fitnah itu datangnya dari sana, fitnah itu datangnya dari arah sana," sambil menunjuk ke arah timur (Najed). (HR. Muslim dalam Kitabul Fitan)"Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al-Qur'an namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka (tidak sampai ke hati), mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang tak akan kembali ketempatnya, tanda-tanda mereka ialah bercukur (Gundul)." (HR Bukho-ri no 7123, Juz 6 hal 20748). Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, dan Ibnu Hibban
Nabi SAW pernah berdo'a: "Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman," Para sahabat berkata: Dan dari Najed, wahai Rasulullah, beliau berdo'a: Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman, dan pada yang ketiga kalinya beliau SAW bersabda: "Di sana (Najed) akan ada keguncangan fitnah serta di sana pula akan muncul tanduk syaitan.", Dalam riwayat lain dua tanduk syaitan.

Dalam hadits-hadits tersebut dijelaskan, bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul). Dan ini adalah merupakan nash yang jelas ditujukan kepada para penganut Muhammad bin Abdul Wahab, karena dia telah memerintahkan setiap pengikutnya mencukur rambut kepalanya hingga mereka yang mengikuti tidak diperbolehkan berpaling dari majlisnya sebelum bercukur gundul. Hal seperti ini tidak pernah terjadi pada aliran-aliran sesat lain sebelumnya. Seperti yang telah dikatakan oleh Sayyid Abdurrahman Al-Ahdal: "Tidak perlu kita menulis buku untuk menolak Muhammad bin Abdul Wahab, karena sudah cukup ditolak oleh hadits-hadits Rasulullah SAW itu sendiri yang telah menegaskan bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul), karena ahli bid'ah sebelumnya tidak pernah berbuat demikian. Al-Allamah Sayyid AIwi bin Ahmad bin Hasan bin Al-Quthub Abdullah AI-Haddad menyebutkan dalam kitabnya Jala?udz Dzolam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abbas bin Abdul Muthalib dari Nabi SAW: "Akan keluar di abad kedua belas nanti di lembah BANY HANIFAH seorang lelaki, yang tingkahnya bagaikan sapi jantan (sombong), lidahnya selalu menjilat bibirnya yang besar, pada zaman itu banyak terjadi kekacauan, mereka menghalalkan harta kaum muslimin, diambil untuk berdagang dan menghalalkan darah kaum muslimin". AI-Hadits.

BANY HANIFAH adalah kaum nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad bin Saud. Kemudian dalam kitab tersebut Sayyid AIwi menyebutkan bahwa orang yang tertipu ini tiada lain ialah Muhammad bin Abdul Wahab. Adapun mengenai sabda Nabi SAW yang mengisyaratkan bahwa akan ada keguncangan dari arah timur (Najed) dan dua tanduk setan, sebagian, ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dua tanduk setan itu tiada lain adalah Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad Ibn Abdil Wahab.

Pendiri ajaran wahabiyah ini meninggal tahun 1206 H / 1792 M, seorang ulama' mencatat tahunnya dengan hitungan Abjad: "Ba daa halaakul khobiits" (Telah nyata kebinasaan Orang yang Keji) (Masun Said Alwy)

Kamis, 18 Maret 2010

Biografi Singkat Al Habib 'umar bin 'Abdurrahman Al 'Atthas

• Asal-usul penamaan Al ‘Atthos

Al Faqih ‘Abdullah bin ‘Umar Ba ‘Abbad berkata, “Digelari Al ‘Atthos karena ia bersin dalam perut ibunya.” Al Habib ‘Ali bin Hasan Al ‘Atthos berkata: “Apa yang diungkapkan oleh Syekh ‘Abdullah itu memang jelas dan benar adanya, dan berdasarkan riwayat yang kami temukan, orang yang pertama kali bersin dalam perut ibunya adalah Al Habib ‘Aqil bin Salim. Tetapi kemudian yang lebih dikenal menyandang gelar itu adalah Al Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman dan para keturunannya. Adapun keturunan Al Habib ‘Aqil bin Salim, mereka lebih dikenal dengan sebutan Al ‘Aqil bin Salim saja.”

• Kelahiran dan Masa Kecil

Shohiburrotib Al Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman bin ‘Aqil Al ‘Atthos bin Salim bin ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Syekh Wajihuddin ‘Abdurrahan As-Segaf bin Muhammad Maula Dawilah bin ‘Ali bin ‘Alwi bin Al Faqih Al Muqaddam Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad Shohibul Marbath bin ‘Ali Kholi’ Qasam bin ‘Alwi bin Muhammad bin ‘Alwi bin ‘Ubaidillah bin Ahmad bin ‘Isa Ar-Rumi bin Muhammad An-Naqib bin ‘Ali Al ‘Uraidhi bin Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad Al Baqir bin ‘Ali Zainal ‘abidin bin Husein bin Fathimah Az-Zahro binti Rasulullah (saw) istri Imam ‘Ali bin Abi Thalib, lahir di kota Lisik tidak jauh dari kota Tarim pada tahun 992 H. Ayahnya yaitu As Sayyid ‘Abdurrahman bin ‘Aqil Al’Atthos adalah seorang ‘arif billah, sekaligus ‘ulama berpengetahuan luas. Ibundanya yaitu syarifah Muznah binti Muhammad bin Ahmad Al Jufri. Kakeknya As Sayyid ‘Aqil bin Salim adalah saudara kembar fakhrul Wujud Syekh Abu Bakar bin Salim Shohib ‘Inat.
Beliau dibesarkan di bawah bimbingan ayahandanya dengan bimbingan yang sempurna dan beradab tinggi. Sejak kecil beliau telah kehilangan penglihatan kedua matanya. Namun ALLAH menggantinya dengan mata hati yang bercahaya dan terang benderang, disertai kecerdasan yang luar biasa sehingga beliau mampu menghafal semua yang beliau dengan dari guru-guru beliau. Ayah beliau berkata kepada Syekh ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah Al Junaid: “Hati-hati dengan anakku ‘Umar, karena kedua matanya tidak dapat melihat.” Syekh ‘Abdurrahman Al Junaid berkata, “Kedua mata lahir ‘Umar memang tidak dapat melihat, akan tetapi mata batinnya terang dan memancarkan cahaya.
Sewaktu ibunda beliau mendatangi salah seorang Sholihin seraya berkata, “Anak saya ini tidak bisa melihat, sedangkan ayahnya adalah seorang faqir yang tidak berharta.” Orang Shalih itu berkata, “Engkau tak perlu khawatir! Sesungguhnya anak ini kelak akan memiliki masa depan yang cemerlang dan keagungan maqom yang tak terbayangkan, dia akan memiliki keturunan yang sangat banyak seperti keluarga fulan bin fulan.”

• Hijrah ke Huraidhoh

Al Habib Husain bin Syekh Abu Bakar bin Salim seringkali berkata, “Wahai keluarga Ba ‘Alawi Huraidhoh.” Orang-oangpun bertanya keheranan, “Bukankah tidak ada satu orangpun dari kalangan ‘alawiyyin yang menetap di Huraidhoh?” Al Habib Husain berkata: “Mereka akan datang dan bermukim di Huraidhoh, tempat itu akan menjadi sebuah tempat yang ramai diziarahi, kubah-kubah dan masjid akan menghiasi kota itu.”
Sewaktu Al Habib ‘Umar masuk usia remaja, Al Habib Husein bin Asy-Syekh Abu Bakr memerintahkannya untuk pergi ke Huraidhoh sebagai juru dakwah yang menyebarkan ajaran islam disana. Al Habib ‘Umar pun bergegas untuk pergi berdakwah di Huraidhoh.
Pada saat darang ke Huraidhoh, beliau disambut oleh Najad Adz-Dzibani yang kemudian memintanya untuk tetap tinggal di rumahnya selama beliau berada di kota itu. Ia berkata “Rumah ini adalah rumah anda sendiri wahai Al Habib.”
Al Habib Umar memutuskan untuk menetap di Huraidhoh, beliau kembali ke Lisik untuk membawa seluruh anggota keluarganya. Setibanya di Huraidhoh, sang ayah, Al Habib ‘Abdurrahman Al ‘Atthas jatuh sakit dan meninggal dunia. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.
Setelah Al Habib ‘Umar menetap di Huraidhoh, Syekh ‘Abdullah bin Ahmad Al ‘Afif (seorang wali besar) bernazar untuk mempersembahkan bagian dari kebun kurmanya untuk Al Habib ‘Umar. Tetapi setelah beliau terima, beliau menyerahkan pemberian itu kepada penduduk setempat. “Itulah nazar saya unruk kalian, maka terimalah nazar itu.”
“Kenapa tidak engkau tinggalkan untuk anak dan keluargamu?” kata sebagian orang. Al Habib ‘Umar menjawab, “Anak-anak saya kelak akan menguasai seluruh negeri ini.” Dan benar saja, anak cucu keturunan Al Habib ‘Umar Al ‘Atthas sangat banyak dan menyebar di seluruh penjuru negeri.

• Guru-guru besar Al Habib ‘Umar dan sanad-sanadnya

Shohiburrotib Al Habib ‘umar mengembil libas khirqoh dari Syekh Husein bin Syekh Abu bakar bin salim dan saudaranya Syekh ‘Umar Muhdhor. Mereka berdua mengambilnya dari ayah mereka, Syekh Abu Bakar bin Salim, Shohib ‘Inat. Syekh Abu Bakar mengambilnya dari Syekh Syihabuddin Ahmad bin ‘Abdurrahman, dari ayahnya Syekh ‘Abdurrahmab bin ‘Ali, dari ayahnya Syekh ‘Ali bin Abu Bakar, dari ayahnya SYekh Abu Bakr Assakran, dari ayahnya Asy-Syekh Al Kabir ‘Abdurrahman Assegaf. Asy-Syekh Al Kabir ‘Abdurrahman Assegaf mengambil libas khirqoh dari Muhammad Maula Dawilah, dari ayahnya ‘Ali, dari ayahnya Al Faqih Al Muqaddam Muhammad bin’Ali Ba’Alawi. Al Faqih Al Muqaddam Muhammad bin’Ali Ba’Alawi mengambil libas khirqoh: jalur kakek-kakek beliau dan jalur biasa.

Berkaitan dari jalur kakek-kakeknya, Al Faqih Al Muqaddam Muhammad bin’Ali Ba’Alawi mengambil dari Ali bin Muhammad Shohibul Mirbath, dari ‘Ali Khali’ Qasam, dari ‘Ali bin Muhammad Shohibul Shauma’ah, dari ‘alwi Shohibul Sumul, dari ‘Ubaidillan ibn Ahmad AL Muhajir, dari Isa Arrumi, dari Muhammad Annaqib, dari Al Imam ‘Ali Al ‘Uaidhi, dari Al Imam Ja’far Ash-shodiq, dari Al Imam Muhammad Al Baqir, dari al Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin, dari ayah dan pamannya, Al Imam Husein dan Al Imam Hasan bin ‘Ali bin Abi tholib. Keduanya mengambil dari Rasulullah (saw). Sedangkan Rasulullah (saw) memperoleh pendidikan dari ALLAH (SWT) melalui Malaikat Jibril. Rasulullah (saw) berkata, “Tuhanku mendidik aku, dan didikan-NYA padaku sangat baik.”

Sedangkan melalui jalur biasa, Al Faqih Al Muqaddam mengambil libas khirqoh shufiyyah dari Syu’aib Abu Madyan at-Tilimsani Al Maghribi, melalui Syekh ‘Abdurrahman Al muq’ad dan Syekh ‘Abdullah Ash-Shaleh, dari Syekh Abu Ya’za Al Maghribi, dari Syekh Abul Hasan bin Harzam (Abu Harzam), dari Syekh Abu Abu Bakar bin Muhammad bin Abdullah bin al ‘Arabi dan Al Qadhi Al Maghafiri, dari Syekh Hujjatul Islam al Imam Ghazzali, dari Imam Haramain ‘Abdul Malik bin Asy-Syekh Abu ‘Abdillah bin Yusuf al Juwaini, dari ayahnya, dari Abu Thalib Al Makki, dari Asy-Syekh Al Ustadz Asy-Syibli, dari SAayyidut-Tha’ifah Al Junaid, dari Dawud Ath-Tha’I, dari Habib Al Ajmi’, dari hasan Al Bashri, dari Al Imam ‘Ali bin bin Abi Thalib. Selanjutnya Imam ‘Ali mengambil dari Rasulullah (saw) dan Rasulullah memperoleh pendidikan dari ALLAH (SWT) melalui Jibril.

• Murid-murid dan Thoriqoh Al Habib ‘Umar

Di antara murid Al Habib ‘Umarialah As-Sayyid Al habib ‘Abdullah bin Alwi Al Haddad. Dan murid-murid lainnya adalah :
Al habib Ahmad bin Zein Al Habsyi, As-Sayyidul Jalil Ahmad bin Hasyim Al Habsyi, As-Sayyidul Jalil ‘Ali bin ‘Umar bin Husein bin Asy-syekh ‘Ali, putera-putera Al habib ‘Umar sendiri dan masih banyak lagi murid-murid beliau lainnya, khususnya yang berasal dari Wadi Dau’an dari keturunan Al ‘Amudi dan keturunan para sayyid keluarga Al Barr, seperti Al Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman Al Barr.

• Karangan-karangan Al Habib ‘Umar
Tidak pernah kita dengar bahwa Al Habib ‘Umar memiliki karya tulis selain Ratibul ‘Atthas. Pernah ada seseorang bertanya kepada Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad apa saja karya Al Habib ‘Umar Al ‘Atthas. Dengan tegasnya Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad berkata, “aku adalah salah satu karya besar Al Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman Al ‘Atthas.”

Al Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman Al ‘Atthas wafat pada malam Kamis tanggal 23 Rabi’uts Tsani tahun 1072 H di rumah kediaman beliau di kota Nafhun, setelah sebelumnya beliau menderita sakit selama 7 hari. Jenazah beliau diantar ke Huraidhoh untuk dikebumikan di sana. Usai penguburan jasad beliau, Huraidhoh dibasahi oleh rintik-rintik hujan gerimis pertanda turunnya keberkahan pada kota Huraidhoh dan sekitarnya.
Semoga kelak kita semua dapat mengikuti jejak beliau dan semoga kita semua dibangkitkan dan dikumpulkan bersama beliau dan kakek-kakeknya sampai ke Rasulullah (saw), Amiin.

Minggu, 14 Maret 2010

Laa Tusayyiduunii

Maha Benar ALLAH 'Azza wa Jalla yang melarang orang beriman berbicara kepada Rasul-Nya dengan suara keras, dan memanggil beliau dengan kata panggilan atau sebutan yang biasa digunakan di antara sesama mereka. Alangkah picik dan dungunya jika kita tidak mengerti, atau tidak mau mengerti, bahwa kita berbuat menyakiti hati dan perasaan orang yang kedudukan atau martabatnya di atas kita, jika kita memanggil atau menyebutnya hanya cukup dengan namanya saja! Labih-lebih lagi karena kita adalah orang-orang Timur yang terkenal sebagai bangsa yang berbudaya dan beradab.

Menghormati seorang pemimpin tidak berarti mengkultuskan atau mendewa-dewakannya. Kita yakin seyakin-yakinnya, bahwa tidak ada apapun yang berhak disembah selain ALLAH. Konsekuensi logis dari keyakinan itu, kita wajib memberi penghormatan setinggi-tingginya kepada manusia pilihan ALLAH yang diutus menyampaikan kebenaran agaa-NYA. Manusia itu adalah junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. Semasa hidupnya, tidak ada seorangpun dari ahlul baitnya, kaum kerabat, dan para sahabatnya yang berbicara dengan suara keras di depan beliau, dan tidak ada seorangpun yang menyebut beliau hanya dengan nama telanjang "Muhammad" atau "Hai Muhammad". Yang menyebut beliau dengan cara seperti itu, hanyalah kaum musyrikin, yahudi, orang-oang badui, dan pengembara di padang pasir yang belum mengenal islam atau belum memeluk islam.

Lima belas abad silam, atas petunjuk Ilahi, kaum Muslimin sudah menerapkan tata krama dan sopan santun terhadap Rasulullah SAW. Sungguh naif sekali jika di zaman ini, masih ada orang beriman yang memanggil atau menyebut Rasulullah hanya dengan "Muhammad" saja, tidak hanya berlawanan dengan firman ALLAH di dalam surah An Nur ayat 63, tetapi juga tidak dapat dipertanggung jawabkan keabsahannya menurut syara', bukan hanya sekedar tidak sopan.

Bahkan ada sementara orang yang amat keberatan menyebut nama Rasulullah dengan awalan kata "Sayyidina" (Pemimpin kita, Junjungan kita). Menurut mereka sebutan itu adalah bid'ah. Mereka mengatakan sebuah hadits yang di dalamnya Rasulullah melarang para sahabat menyebut atau memanggil beliau dengan awalan kata "Sayyid". Mereka menyebut kalimat dalam hadits termaksud :

" Laa Tusayyiduunii" yang artinya : "Janganlah kalian menjadikan diriku sayyid"

Hadits yang mereka kutip sesungguhnya hadits karangan mereka sendiri. Buktinya? Di dalam bahasa Arab tidak pernah ada akar kata sayada, yang dalam tata bahasa Arab dapat berubah menjadi sayyada dan yusayyidu. Yang ada adalah akar kata sa-wa-da yang karena konteks kalimatnya, secara tata bahasa, dapat berubah menjadi sawwada dan yusawwidu, yang berarti "membuat orang menjadi sayyid". silahkan telaah semua kamus bahasa Arab yang ada di mana saja. Jadi sangatlah mustahi; Rasulullah SAW menggunakan kata "Tusayyiduunii". Beliau tidak penah berbicara dengan bahasa acak. Bahasa Arab beliau adalah bahasa Arab murni yang tinggi mutu sastranya. Be;liau seorang manusia ma'shum (terpelihara dari kemungkinan berbuat salah, keliru, lupa, dan berbagai kelemahan lainnya). Betapapun kecilnya kesalahan, kekeliruan atau kelupaan beliau, pasti berakibat fatal bagi pelaksanaan tugas Risalah beliau, dan bagi umatnya. Tidak ada sumber riwayat hadits yang mengetengahkan hadits semacam itu. Kalau ada sumbernya, sumber itu adalah rekayasa mereka sendiri.

Beliau memang tidak pernah meminta kepada seorang sahabatpun agar menyebut nama beliau dengan awalan kata Sayyid, Dan di dunia ini, barnagkali tidak ada oang berakal sehat menuntut orang lain supaya menyebut namanya dengan awalan kata-kata: "tuan", "junjungan", "yang mulia", "paduka tuan", "paduka yang mulia" dan seterusnya; tetapi sebaliknya, banyak orang yang menyebut atau memanggil orang lain dengan awalan kata tersebut, tidak atas permintaan pihak yang disebut atau yang dipanggil. Menuntut orang lain memanggil dan menyebut namanya engan awalan kata-kata seperti itu, hanya pantas dilakukan oleh orang tidak waras. Namun, kaum Muslimin, sebagai umat yang sangat berutang budi kepada Beliau selaku Nabi dan Rasul, yang telah menyelamatkan jalan hidup mereka dari kesesatan aqidah, maka sudah sepatutnya untuk menghormati beliau dengan setinggi-tingginya. Tidaklah berlebihan jika kita memanggil atau menyebut nama beliau dengan awalan kata Sayyidina. Apakah Bid'ah atau apakah Dholalah (sesat) jika kaum Muslimin menghormati kemuliaan Beliau dengan menyebut Sayyidina Muhammad Rasulullah SAW?

Jumat, 19 Februari 2010

Al Habib Abdullah bin Alwi bin Muhammad Al Haddad

Nama beliau adalah Abdullah bin Alawi bin Muhammad bin Ahmad bin Abdullah bin bin Muhammad bin Alawi bin Ahmad (yang dijuluki Alhaddad kakek ke-6) bin Abu Bakar bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad bin Abdurrahman bin Alawi bin Muhammad (shohibu marbath) bin Ali kholi'ul qasam bin Imam Alawi bin Muhammad bin Alawi bin Abdullah bin Imam Almuhajir Ahamd bin Isa bin Muhammad bin Imam Ali Aluraidha bin Imam Ja'far Asshodiq bin Muhammad Al Bagir bin Imam Ali Zainal Abidin bin Imam Husain bin Fathimah Azzahra binti Rasulullah SAW.

Ibunya bernama Sayyidah Salma binti Idrus bin Ahmad Alhabsyi. Kakeknya Syekh Idrus adalah seorang ulama karismatik dan tokoh terpandang saat itu. Neneknya Sayyidah Salma binti Umar bin Ahmad Al 'alawy termasuk wanita ahli ibadah.

Imam Abdullah Al Haddad Lahir pada malam Senin, bulan Safar 1044 H, di kota Tarim, Hadramaut, Republik Demokrasi Yaman.

Ayahnya, Al Habib Alawi bin Muhammad adalah seorang yang saleh dari keturunan orang-orang saleh. Di masa mudanya, beliau berkunjung ke kediaman Habib Ahmad bin Muhammad Al-Habsyi Shôhibusy Syi‘ib untuk memohon doa, Habib Ahmad berkata, “Anak-anakmu adalah anak-anak kami juga, mereka diberkahi Allah.” Saat itu Habib Alwi tidak mengerti maksud ucapan Habib Ahmad. Namun, setelah menikahi Salma, cucu dari Habib Ahmad bin Muhammad, Habib Alwi baru sadar bahwa rupanya perkawinan ini yang diisyaratkan oleh Habib Ahmad bin Muhammad dalam ucapannya.

Sebagaimana suaminya, Sayyidah Salma binti Idrus bin Ahmad Alhabsyi adalah seorang wanita yang sholihah. Dari istrinya ini, Habib Alwi mendapat putra-putri yang baik dan saleh, di antaranya adalah Abdullah. Kedua orang tuanya wafat di bulan dan tahun yang sama, ayahnya Sayyid Alawi wafat pada malam Senin, 21 Rajab 1072 H, dan empat hari kemudian disusul wafat ibunya pada hari Rabu, 24 Rajab 1072 H.

Pada usia tiga tahun, Imam Abdullah Al Haddad terjangkit sakit cacar yang mengakibatkan kebutaan pada kedua matanya. Namun, musibah ini sama sekali tidak mengurangi kegigihannya dalam menuntut ilmu. Ia berhasil menghapal Quran dan menguasai berbagai ilmu agama ketika terhitung masih kanak-kanak. Rupanya Allah berkenan menggantikan penglihatan lahirnya dengan penglihatan batin, sehingga kemampuan menghapal dan daya pemahamannya sangat mengagumkan. Setiap membaca Alqur'an beliau membacanya dengan tekun dan khusyu, serta memahami maknanya, sehingga beliau menangis bila membaca ayat-ayat yang menceritakan tentang kematian dan hari kebangkitan terutama yang terkandung di dalam surat Yasin.

Beliau sejak kecil gemar beribadah dan riyâdhoh. Nenek dan kedua orang tuanya seringkali tidak tega menyaksikan anaknya yang buta ini melakukan berbagai ibadah dan riyâdhoh. Mereka menasihati agar ia berhenti menyiksa diri. Demi menjaga perasaan keluarganya, si kecil Abdullah pun mengurangi ibadah dan riyâdhoh yang sesungguhnya amat ia gemari. Ia pun kini memiliki lebih banyak waktu untuk bermain-main dengan teman-teman sebayanya. “Subhânallôh, sungguh indah masa kanak-kanak...,” kenang beliau suatu hari.

Di kota Tarim, beliau tumbuh dewasa. Bekas-bekas cacar tidak tampak lagi di wajahnya. Beliau berperawakan tinggi, berdada bidang, berkulit putih, dan berwibawa. Tutur bahasanya menarik, sarat dengan mutiara ilmu dan nasihat berharga. Beliau sangat gemar menuntut ilmu. Kegemarannya ini membuatnya sering melakukan perjalanan untuk menemui kaum ulama., “Apa kalian kira aku mencapai ini dengan santai? Tidak tahukah kalian bahwa aku berkeliling ke seluruh kota-kota (di Hadramaut) untuk menjumpai kaum sholihin, menuntut ilmu dan mengambil berkah dari mereka?”

Diantara guru-guru beliau adalah:

• al-Habib Muhammad bin ‘Alawi bin Abu Bakar bin Ahmad bin Abu Bakar bin ‘Abdurrahman al-Saqqaf (1002 – 1071H)

• Syaikh Abu Bakar bin bin Imam ‘Abdurrahman bin ‘Ali bin Abu Bakar bin Syaikh ‘Abdurrahman al-Saqqaf

• al-Habib ‘Aqil bin ‘Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Ali bin ‘Aqil bin Syaikh Ahmad bin Abu Bakar bin Syaikh bin ‘Abdurrahman al-Saqqaf

• al-Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman al-‘Atthas bin Aqil bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman al-Saqqaf (wafat:1072H).

• al-Habib ‘Abdurrahman bin Syaikh Maula ‘Aidid Ba’alawi (wafat: 1068H)

• Sayyid Syaikhan bin Imam al-Hussein bin Syaikh Abu Bakar bin Salim

al-Habib Syihabuddin Ahmad bin Syaikh Nashir bin Ahmad bin Syaikh Abu Bakar bin Salim

• al-Habib Jamaluddin Muhammad bin Abdurrahman bin Muhammad bin Syaikh al-Arifbillah Ahmad bin Syaikh al-Hussein bin Syaikh al-Quthb al-Rabbani Abu Bakar bin Abdullah al-‘Aydrus (1035-1112H)

• Sayyid al-Faqih al-Shufi Abdullah bin Ahmad Ba`alawi al-Asqa’

Sayyid Syaikh al-Imam Ahmad bin Muhammad al-Qusyasyi (wafat 1071H)



Khirqah Sufiyah: Imam al-Haddad menerima khirqah sufiyyah, antaranya dari:

• al-Habib ‘Aqil bin ‘Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Ali bin ‘Aqil bin Syaikh Ahmad bin Abu Bakar bin Syaikh bin ‘Abdurrahman al-Saqqaf,

• al-Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman al-‘Atthas bin Aqil bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman al-Saqqaf (wafat:1072H),

• al-Habib Syihabuddin Ahmad bin Syaikh Nashir bin Ahmad bin Syaikh Abu Bakar bin Salim,

• al-‘Arifbillah Syaikh Muhammad bin ‘Alawi as-Saqqaf al-Makki

Beliau adalah merupakan Quthub al-Aqtab pada zamannya. Dan ada ulama mengatakan bahwa beliau menduduki makam tersebut hampir 60 tahun.

Beliau juga sangat giat dalam mengajarkan ilmu dan mendidik murid-muridnya. Banyak penuntut ilmu datang untuk belajar kepadanya.

Keaktifannya dalam mendidik dan berdakwah membuatnya digelari Quthbud Da’wah wal Irsyâd. Beliau berkata, “Ajaklah orang awam kepada syariat dengan bahasa syariat;

ajaklah ahli syariat kepada tarekat (thorîqoh) dengan bahasa tarekat; ajaklah ahli tarekat kepada hakikat (haqîqoh) dengan bahasa hakikat; ajaklah ahli hakikat kepada Al-Haq dengan bahasa Al-Haq, dan ajaklah ahlul haq kepada Al-Haq dengan bahasa Al-Haq.”

Murid-murid beliau, antaranya:

al-Habib Hasan bin ‘Abdullah al-Haddad (anak beliau);

al-Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi;

al-Habib ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah Balfaqih;

al-Habib Muhammad bin Zein bin Smith;

al-Habib ‘Umar bin Zein bin Smith;

al-Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman al-Bar;

al-Habib ‘Ali bin ‘Abdullah bin Abdurrahman al-Saqqaf;

al-Habib Muhammad bin ‘Umar bin Thoha ash-Shafi al-Saqqaf;

Syaikh Ahmad bin Abdul Karim al-Hasawi asy-Syajjar

Al-Faqih BaJubair – beliau adalah merupakan guru kepada Imam al-Haddad dalam ilmu fiqih namun setelahnya ulama ini bellajar kitab Ihya kepada Imam al-Haddad. Imam al-Haddad berkata: Setelah kembali ke Hadramaut (dari India) dia belajar Ihya kepadaku. Aneh sekali! Dahulu aku belajar fiqih kepadanya, namun sekarang dia belajar ihya kepadaku.

Meski buta dan sangat sibuk berdakwah, beliau masih sempat menulis buku-buku berikut:

01. An-Nashôihud Dîniyyah

02. Ad-Da’watut Tâmmah

03. Risâlatul Mu’âwanah

04. Al-Fushûlul ‘Ilmiyyah

05. Sabîlul Iddikâr

06. Risâlatul Mudzâkarah

07. Risâlatul Murîd

08. Kitâbul Hikam

09. An-Nafâisul Uluwiyyah

10. Ithâfus Sâil



Hingga saat ini kumpulan do'a dan dzikirnya yang dikenal dengan nama Rotib Haddad dan Wirid Lathif dijadikan amalan rutin mayoritas muslim di Indonesia, Asia, Australi, Afrika bahkan di Amerika.

Demikianlah Habib Abdullah Al-Haddad menghabiskan umurnya. Beliau menuntut ilmu dan mengajarkan; berdakwah dan mencontohkan. Imam Abdullah Al Haddad wafat pada hari senin, 7 Dzulqa'dah 1132 H.dalam usia 89 tahun kurang 3 bulan. Beliau dimakamkan di Zambal, Tarim tempat pemakaman keluarga dan leluhurnya. Imam Abdullah Al Haddad meninggalkan 10 anak, di antaranya 6 laki dan 4 perempuan, mereka semua menjadi orang-orang yang soleh dan bermanfaat bagi masyarakat, terutama Imam Muhammad bin Abdullah bin Alwi Al Haddad.Sayyid Ahmad bin Zein Al Habsyi mengatakan bahwa yang menshalatkan jenazah Imam Abdullah Al Haddad + 20.000 orang di dalam masjid dan belum terhitung yang menshalatkan di makamnya.

الفاتحة إلى حضرة النبي محمد صلى الله عليه وآله وسلم وإلى روح قطب الإرشاد وغوث العباد والبلاد الحبيب عبد الله بن علوي بن محمد الحداد وأصوله وفروعهم أن الله يعلي درجاتهم في الجنة ويكثر من مثوباتهم ويضاعف حسناتهم ويحفظنا بجاههم وينفعنابهم ويعيد علينا من بركاتهم وأسرارهم وأنوارهم وعلومهم ونفحاتهم في الدين والدنيا والآخرة – الفاتحة

Sepotong nasihat beliau dari syairnya:

Bila Allah mengujimu, bersabarlah

karena itu hak-Nya atas dirimu.

Dan bila Ia memberimu nikmat, bersyukurlah.

Siapa pun mengenal dunia, pasti akan yakin

bahwa dunia tak syak lagi

adalah tempat kesengsaraan dan kesulitan

Jumat, 05 Februari 2010

Gelar Imam, Syekh, Habib dan Sayid

Menurut Sayyid Muhammad Ahmad al-Syatri dalam bukunya Sirah al-Salaf Min Bani Alawi al-Husainiyyin, para salaf kaum ‘Alawi di Hadramaut dibagi menjadi empat tahap yang masing-masing tahap mempunyai gelar tersendiri. Gelar yang diberikan oleh masyarakat Hadramaut kepada tokoh-tokoh besar Alawiyin ialah :
IMAM (dari abad III H sampai abad VII H). Tahap ini ditandai perjuangan keras Ahmad al-Muhajir dan keluarganya untuk menghadapi kaum khariji. Menjelang akhir abad 12 keturunan Ahmad al-Muhajir tinggal beberapa orang saja. Pada tahap ini tokoh-tokohnya adalah Imam Ahmad al-Muhajir, Imam Ubaidillah, Imam Alwi bin Ubaidillah, Bashri, Jadid, Imam Salim bin Bashri.
SYAIKH (dari abad VII H sampai abad XI H). Tahapan ini dimulai dengan munculnya Muhammad al-Faqih al-Muqaddam yang ditandai dengan berkembangnya tasawuf, bidang perekonomian dan mulai berkembangnya jumlah keturunan al-Muhajir. Pada masa ini terdapat beberapa tokoh besar seperti Muhammad al-Faqih al-Muqaddam sendiri. Ia lahir, dibesarkan dan wafat di Tarim. Di kota Tarim, ia belajar bahasa Arab, teologi dan fikih sampai meraih kemampuan sebagai ulama besar ahli fiqih. Ia juga secara resmi masuk ke dunia tasawuf dan mencetuskan tarekat ‘Alawi. Sejak kecil ia menuntut ilmu dari berbagai guru, menghafal alquran dan banyak hadits serta mendalami ilmu fiqih. Ketika ia masih menuntut ilmu, Syekh Abu Madyan seorang tokoh sufi dari Maghrib mengutus Syekh Abdurahman al-Muq’ad untuk menemuinya. Utusan ini meninggal di Makkah sebelum sampai di Tarim, tetapi sempat menyampaikan pesan gurunya agar Syekh Abdullah al-Saleh melaksanakan tugas itu. Atas nama Syekh Abu Madyan, Abdullah membaiat dan mengenakan khiqah berupa sepotong baju sufi kepada al-Faqih al-Muqaddam. Walaupun menjadi orang sufi, ia terus menekuni ilmu fiqih. Ia berhasil memadukan ilmu fiqih dan tasawuf serta ilmu-ilmu lain yang dikajinya. Sejak itu, tasawuf dan kehidupan sufi banyak dianut dan disenangi di Hadramaut, terutama di kalangan ‘Alawi.
Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam. Ia memulai pendidikannya pada ayah dan kakeknya lalu meneruskan pendidikannya di Yaman dan Hijaz dan belajar pada ulama-ulama besar. Ia kemudian bermukim dan mengajar di Mekkah dan Madinah hingga digelari Imam al-Haramain dan Mujaddid abad ke 8 Hijriyah. Ketika Saudaranya Imam Ali bin Alwi meninggal dunia, tokoh-tokoh Hadramaut menyatakan bela sungkawa kepadanya sambil memintanya ke Hadramaut untuk menjadi da’i dan guru mereka. Ia memenuhi permintaan tersebut dan berhasil mencetak puluhan ulama besar.
Abdurahman al-Saqqaf bin Muhammad Maula al-Dawilah bin Ali bin Alwi bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam. Ia digelari al-Saqqaf karena kedudukannya sebagai pengayom dan Ilmu serta tasawufnya yang tinggi. Pemula famili al-Saqqaf ini adalah ulama besar yang mencetak berpuluh ulama termasuk putranya sendiri Umar Muhdhar. Ia juga sangat terkenal karena kedermawanannya. Ia mendirikan sepuluh masjid serta memberikan harta wakaf untuk pembiayaannya. Ia memiliki banyak kebun kurma.
Umar Muhdhar bin Abdurahman al-Saqqaf adalah imam dalam ilmu dan tokoh dalam tasawuf. Ia terkenal karena kedermawanannya. Ia menjamin nafkah beberapa keluarga. Rumahnya tidak pernah sepi dari tamu. Ia mendirikan tiga buah masjid. Menurut Muhammad bin Abu Bakar al-Syilli, ia telah mencapai tingkat mujtahid mutlaq dalam ilmu syariat. Ia meninggal ketika sujud dalam shalat Dzuhur.
Abdullah al-Aidrus bin Abu Bakar al-Sakran bin Abdurahman al-Saqqaf. Hingga usia 10 tahun, ia dididik ayahnya dan setelah ayahnya wafat ia dididik pamannya Umar Muhdhar hingga usia 25 tahun. Ia ulama besar dalam syariat, tasawuf dan bahasa. Ia giat dalam menyebarkan ilmu dan dakwah serta amat tekun beribadah.
Ali bin Abu Bakar al-Sakran bin Abdurahman al-Saqqaf. Ia menulis sebuah wirid yang banyak dibaca orang hingga abad ke 21 ini. Ia terkenal dalam berbagai ilmu, khususnya tasawuf. Menurut Habib Abdullah al-Haddad, ia merupakan salaf ba’alawi terakhir yang harus ditaati dan diteladani.
HABIB (dari pertengahan abad XI sampai abad XIV). Tahap ini ditandai dengan mulai membanjirnya hijrah kaum ‘Alawi keluar Hadramaut. Dan di antara mereka ada yang mendirikan kerajaan atau kesultanan yang peninggalannya masih dapat disaksikan hingga kini, di antaranya kerajaan Alaydrus di Surrat (India), kesultanan al-Qadri di kepulauan Komoro dan Pontianak, al-Syahab di Siak dan Bafaqih di Filipina.
Tokoh utama ‘Alawi masa ini adalah Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad yang mempunyai daya pikir, daya ingat dan kemampuan menghafalnya yang luar biasa. Sejak kecil ia telah menghafal alquran. Ia berilmu tinggi dalam syariat, tasawuf dan bahasa arab. Banyak orang datang belajar kepadanya. Ia juga menulis beberapa buku.
Pada tahap ini juga terdapat Habib Abdurahman bin Abdullah Bilfaqih, Habib Muhsin bin Alwi al-Saqqaf, Habib Husain bin syaikh Abu Bakar bin Salim, Habib Hasan bin Soleh al-Bahar, Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi.
SAYYID (mulai dari awal abad XIV ). Tahap ini ditandai kemunduran kecermelangan kaum ‘Alawi. Di antara para tokoh tahap ini ialah Imam Ali bin Muhammad al-Habsyi, Imam Ahmad bin Hasan al-Attas, Allamah Abu Bakar bin Abdurahman Syahab, Habib Muhammad bin Thahir al-Haddad, Habib Husain bin Hamid al-Muhdhar.
Sejarawan Hadramaut Muhammad Bamuthrif mengatakan bahwa Alawiyin atau qabilah Ba’alawi dianggap qabilah yang terbesar jumlahnya di Hadramaut dan yang paling banyak hijrah ke Asia dan Afrika. Qabilah Alawiyin di Hadramaut dianggap orang Yaman karena mereka tidak berkumpul kecuali di Yaman dan sebelumnya tidak terkenal di luar Yaman.
Jauh sebelum itu, yaitu pada abad-abad pertama hijriah julukan Alawi digunakan oleh setiap orang yang bernasab kepada Imam Ali bin Abi Thalib, baik nasab atau keturunan dalam arti yang sesungguhnya maupun dalam arti persahabatan akrab. Kemudian sebutan itu (Alawi) hanya khusus berlaku bagi anak cucu keturunan Imam al-Hasan dan Imam al-Husein. Dalam perjalanan waktu berabad-abad akhirnya sebutan Alawi hanya berlaku bagi anak cucu keturunan Imam Alwi bin Ubaidillah. Alwi adalah anak pertama dari cucu-cucu Imam Ahmad bin Isa yang lahir di Hadramaut. Keturunan Ahmad bin Isa yang menetap di Hadramaut ini dinamakan Alawiyin diambil dari nama cucu beliau Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa yang dimakamkan di kota Sumul.

Rabu, 20 Januari 2010

Biografi Singkat Tokoh Ulama Salaf Ahlul Bait (Bagian 2)

0 komentar
Al Imam Muhammad al-Naqib bin Ali al-Uraidhi bin Ja'far al-Shodiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Fathimah Azzahro binti Rasulullah istri Sayyidina Ali bin Abu Thalib. Beliau dilahirkan di kota Madinah Al Munawarroh pada tahun 184 Hijriah. Dibesarkan dan dididik oleh ayahnya Al Imam Ali al-Uraidhi hingga ayahnya wafat. Beliau tidak pernah berpergian dan berpisah dari ayahnya kecuali setelah ayahnya wafat.
Imam Muhammad bin Ali al-Uraidhi adalah seorang pemimpin yang sempurna. Para ulama sepakat atas kepemimpinannya, kewibawaannya, ilmunya, amalnya, kewara'annya, karena itulah Imam Muhammad digelari dengan al-Naqib (pemimpin). Beliau orang yang banyak beribadah, dermawan, tidak suka ketenaran hingga ia dijuluki Jamaluddin. Beliau yang pertama kali pindah dari kota Madinah ke kota Iraq dan menetap di Basrah setelah ayahnya wafat. Di sana beliau di sambut baik oleh masyarakatnya. Tidak sedikit sejarawan penyair dan ulama yang menuturkan pujian atas pribadi beliau yang luhur sampai wafatnya.
Beliau dikaruniai banyak keturunan yang kelak menjadi ulama-ulama shoihin yang menyebarkan agama islam ke penjuru dunia, diantara keturunannya itu ialah: al-Muhaddits Yahya bin Husin bin Isa Arrumi bin Muhammad An-Naqib, Abu Turab Ali bin Isa al-Akbar, Abu Fawaris Ja'far bin Hamzah bin Husin bin Musa bin Isa al-Akbar, Ishaq bin Isa al-Akbar, Muhammad bin Muhsin bin Muhammad bin Husin, Isa bin Muhammad bin Husin.
Diantara ulama yang menulis tentang riwayat hidupnya ialah Al Amari dan Ibnu Anbah, beliau wafat di kota Basrah pada tahun 243 Hijriah.

Sabtu, 16 Januari 2010

Biografi Singkat Tokoh Ulama Salaf Ahlul Bait (Bagian 4)

0 komentar
Al Imam Abdul Malik

Silsilah nasab beliau adalah Al Imam Abdul Malik bin Alwi Amul Faqih bin Muhammad Shahib Marbath bin Al Imam Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir bin Isa Arrumi bin Muhammad An Naqib bin Ali Uraidhi bin Ja'far As Shadiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin Bin Al Husain bin Fathimah binti Rasulillah Muhammad SAW istri Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Beliau dilahirkan di kota Qasam dekat kota Tarim Hadramaut, sejak kecil beliau dididik oleh ayahnya yaitu Imam Almi bin Muhammad Shahib Marbath, menimba ilmu al Qur’an dan al Hadits dari berbagai ulama terkenal di negeri Hadramaut, beliau tidak pernah merasa bosan, baik hati maupun lisannya untuk berdzikir kepada ALLAH SWT, beliau termasuk orang yang gemar berda’wah ke berbagai tempat sampai akhirnya beliau berangkat menuju India bersama-sama Jamma’ah Alawiyyin lainnya sekitar abad ke-6 hijriah, beliau menetap di negeri Barwaj dekat Ahmad Abad, kepergian beliau dan anak-anaknya guna menyiarkan agama islam kepada masyarakat India dan sekitarnya, beliau beserta keluarganya merupakan orang-orang yang membina sendi-sendi mazhab Ahlu Sunnah wal Jamma’ah dan mengembangkannya dengan gigih.

Beliau menikah dengan seorang putri pembesar di India dan mendapatkan keturunan yang banyak yang merupakan tokoh-tokoh Islam yang menyebarkan Mazhab Syafi’I di tanah Hindustan.

Beliau merupakan cikal bakal para wali di berbagai penjuru dunia sebagaimana sepupu beliau yang terkenal dengan julukan Al Faqih muqaddam Muhammad bin Ali Ba’alawi.

Al imam Abdul Malik adalah kakek moyang para wali di tanah Jawa yang dikenal dengan nama Wali Songo dan para wali penyebar Islam di India, Kamboja, Campa, Philipina, Brunai, Malaysia dan Indonesia.
Beliau berpulang ke Rahmatullah pada tahun 653 Hijriah di kota Ahmad Abad, India.
Semoga ALLAH memberkahinya selalu,, Amiin....

Biografi Singkat Tokoh Ulama Salaf Ahlul Bait (Bagian 3)

0 komentar
Al Imam Alwi bin Ubaidillah

Al Imam Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir bin Isa Arrumi bin Muhammad An Naqib bin Ali Uraidhi bin Ja'far Az Shadiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin Bin Al Husain bin Fathimah binti Rasulillah Muhammad SAW istri Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Dilahirkan di Hadramaut sekitar tahun 330 Hijriah. Ibunya bernama Ummul Banin binti Muhammad bin Isa Arrumi. Beliau adalah orang pertama yang diberi nama Alwi, oleh sebab itu keturunannya digelari Bani Alawi (Ba’Alawi) menyebar ke penjuru dunia melahirkan Imam-imam besar dan para wali.

Beliau pelita islam, sejak kecil telah hafal Al Qur’an, belajar tajwid dari guru-guru yang ahli dan menimba ilmu islam dari berbagai guru di berbagai tempat di Hadramaut, Mekkah, Yaman, Madinah dan selalu mengikuti jejak langkah ayahnya, Al Imam Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir. Gemar sedekah dengan sembunyi-sembunyi sampai pekerja-pekerja beliaupun tidak ada yang tahu, suka merahasiakan amalan sedekahnya, dikisahkan pernah beliau membawa rombongan haji tidak kurang dari 80 orang, dan tidak diperbolehkan seorangpun dari mereka mengeluarkan biaya sendiri, semua biaya ditanggungnya demi mengharap ridho ALLAH SWT.
Beliau sempat mengajarkan hadits di kota Madinah dan Mekkah, tidak sedikit ulama-ulama terkemuka di kedua kota suci itu mendengarkan hadits dari beliau.

Sebagai seorang ulama, beliau tidak segan-segan memberikan pengarahan dan mengajarkan ilmunya kepada mereka dengan sukarela sehingga ilmunya menjadi berkah dan bermanfaat bagi murid-muridnya. Beliau wafat dengan meninggalkan seorang putra yang diberi nama Muhammad. Nama beliau disebutkan dalam kitab sejarah Al Jundi, Al Khazraji dan Al Ahdal.
Semoga ALLAH memberkahinya selalu, Amiiiiiin..

Biografi Singkat Tokoh Ulama Salaf Ahlul Bait

0 komentar
Al Imam Ali Al Uraidhi

Imam Ali bin Ja'far al-Shodiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Fathimah Azzahro binti Rasulullah SAW istri Sayyidina Ali bin Abi Thalib mempunyai gelar Abu Hasan, Beliau dilahirkan pada tahun 135 Hijriah di Kota suci Madinah, beliau adalah mataharinya ahlul-bait dan bulannya keturunan Rasulullah saw. Imam Ali al-Uraidhi adalah anak bungsu dari anak-anak Imam Ja'far al-Shodiq, ia masih kecil ketika ayahnya wafat. Semasa hidupnya ia menuntut ilmu kepada ayahnya dan saudaranya Imam Musa al-Kadzim dan Hasan bin Zaid bin Ali Zainal Abidin, hingga kepandaian beliau melebihi saudara-saudaranya sendiri. Sedangkan murid beliau adalah anaknya sendiri Muhammad dan Ahmad serta cucu beliau Abdullah bin Hasan bin Ali al-Uraidhi dan cucu saudaranya Ismail bin Muhammad bin Ishaq bin Ja'far al-Shodiq serta ahli qiroat Imam al-Bazi.

Imam Ali al-Uraidhi adalah seorang pemimpin kaum syarif dan syaikhnya Bani Hasyim di kota Uraidh, dikenal sebagai orang mulia yang luas ilmu pengetahuannya, mahir di bidang ilmu riwayat dan dirayat, selain itu beliau dikenal amat teguh memegang ajaran agamanya. Beliau dinamai Al Uraidhi sebagai nisbah kepada satu tempat yang bernama Al Uraidh yaitu nama wilayah yang terletak pada jarak 4 mil dari Kota Madinah Al Munawaroh. Beliau pernah mangeadakan pergerakan di Kota Mekkah berama saudaranya yang bernama Muhammad bin Ja’far As Shadiq pada masa pemerintahan Al Ma’mun, ia mengajak orang untuk membai’atnya, lalu penduduk Hijaz membai’atnya sebagai Khalifah, ia adalah keturunan Fathimah Az Zahra dan Ali bin Abi Thalib pertama yang dibai’at oleh mereka, hal itu terjadi pada tahun 200 Hijriah.

Az Zarabi pernah menyebutkan otto biografi beliay di dalam kitab Tarikhul Islam, otto biografi beliau juga disebutkan di dalam kitab Al Mizan dan Al Ka Syifu’an As Mair Rijali. Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqolani pernah juga mengebutkan oto biografi beliau dalam kitan At Taqrib, semuanya menyebutkan keagungan sifat-sifat beliau. Imam Ahmad Ibnu Hanbalpun pernah menyebutkan di dalam kita Sunnahnya sebuah hadits yang menyebutkan tentang mencintai keluarga nabi Muhammad SAW dengan Isnad yang bersumber dari beliau.

Di antara para ulama yang menyebutkan tentang riwayat hidup beliau ialah Al Qadi Iyadh di dalam kitab As Syifa dalam kitab Tarikhnya serta Ibnu Ambah di dalam kitab Umdatud Tholib, dan ulama lainnya diantaranya ialah Al Amri, Sayid Ali As Samhudi di dalam kitab Jawahirul, Ugdain.

Diantara orang-orang yang pernah meriwayatkan hadits dari beliau ialah Abdullah bin Hasan binAli, Imam Ismail bin Muhammad Ja’far, Imam Ahmad Al Bazzi penulis buku Qirat, Salamah Ibnu Syabib, Nashir Ibnu Ali Al Jahdami dan ulama-ulama hadits lainnya.


Anak-anak Imam Ali dikenal dengan al-Uraidhiyun yang banyak mendiami daerah Uraidh, Kuffah dan Qum. Anak-anak beliau:
*Ja'far, mendapat keturunan dari anaknya Ali.
*Hasan, mendapat keturunan dari anaknya Abdullah yang terdapat di Madinah, Mesir, Iraq dan negeri lainnya.
*Ahmad Asy-Sya'roni, mendapat keturunan dari anaknya Muhammad yang terdapat di Iraq yang dikenal dengan Bani Jiddah, Basiron dan Thobariyah.
*Muhammad An-Naqib

Beliau banyak meninggalkan catatan-catatan mengenai hokum-hukum agama yang didapat dari ayah dan saudaranya diantaranya yang termasyhur adalah kitab Masail Ali bin Ja’far, semoga ALLAH memberkahinya selalu, Amiiiiiin..

ShareThis