Kamis, 18 Maret 2010

Biografi Singkat Al Habib 'umar bin 'Abdurrahman Al 'Atthas

• Asal-usul penamaan Al ‘Atthos

Al Faqih ‘Abdullah bin ‘Umar Ba ‘Abbad berkata, “Digelari Al ‘Atthos karena ia bersin dalam perut ibunya.” Al Habib ‘Ali bin Hasan Al ‘Atthos berkata: “Apa yang diungkapkan oleh Syekh ‘Abdullah itu memang jelas dan benar adanya, dan berdasarkan riwayat yang kami temukan, orang yang pertama kali bersin dalam perut ibunya adalah Al Habib ‘Aqil bin Salim. Tetapi kemudian yang lebih dikenal menyandang gelar itu adalah Al Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman dan para keturunannya. Adapun keturunan Al Habib ‘Aqil bin Salim, mereka lebih dikenal dengan sebutan Al ‘Aqil bin Salim saja.”

• Kelahiran dan Masa Kecil

Shohiburrotib Al Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman bin ‘Aqil Al ‘Atthos bin Salim bin ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Syekh Wajihuddin ‘Abdurrahan As-Segaf bin Muhammad Maula Dawilah bin ‘Ali bin ‘Alwi bin Al Faqih Al Muqaddam Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad Shohibul Marbath bin ‘Ali Kholi’ Qasam bin ‘Alwi bin Muhammad bin ‘Alwi bin ‘Ubaidillah bin Ahmad bin ‘Isa Ar-Rumi bin Muhammad An-Naqib bin ‘Ali Al ‘Uraidhi bin Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad Al Baqir bin ‘Ali Zainal ‘abidin bin Husein bin Fathimah Az-Zahro binti Rasulullah (saw) istri Imam ‘Ali bin Abi Thalib, lahir di kota Lisik tidak jauh dari kota Tarim pada tahun 992 H. Ayahnya yaitu As Sayyid ‘Abdurrahman bin ‘Aqil Al’Atthos adalah seorang ‘arif billah, sekaligus ‘ulama berpengetahuan luas. Ibundanya yaitu syarifah Muznah binti Muhammad bin Ahmad Al Jufri. Kakeknya As Sayyid ‘Aqil bin Salim adalah saudara kembar fakhrul Wujud Syekh Abu Bakar bin Salim Shohib ‘Inat.
Beliau dibesarkan di bawah bimbingan ayahandanya dengan bimbingan yang sempurna dan beradab tinggi. Sejak kecil beliau telah kehilangan penglihatan kedua matanya. Namun ALLAH menggantinya dengan mata hati yang bercahaya dan terang benderang, disertai kecerdasan yang luar biasa sehingga beliau mampu menghafal semua yang beliau dengan dari guru-guru beliau. Ayah beliau berkata kepada Syekh ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah Al Junaid: “Hati-hati dengan anakku ‘Umar, karena kedua matanya tidak dapat melihat.” Syekh ‘Abdurrahman Al Junaid berkata, “Kedua mata lahir ‘Umar memang tidak dapat melihat, akan tetapi mata batinnya terang dan memancarkan cahaya.
Sewaktu ibunda beliau mendatangi salah seorang Sholihin seraya berkata, “Anak saya ini tidak bisa melihat, sedangkan ayahnya adalah seorang faqir yang tidak berharta.” Orang Shalih itu berkata, “Engkau tak perlu khawatir! Sesungguhnya anak ini kelak akan memiliki masa depan yang cemerlang dan keagungan maqom yang tak terbayangkan, dia akan memiliki keturunan yang sangat banyak seperti keluarga fulan bin fulan.”

• Hijrah ke Huraidhoh

Al Habib Husain bin Syekh Abu Bakar bin Salim seringkali berkata, “Wahai keluarga Ba ‘Alawi Huraidhoh.” Orang-oangpun bertanya keheranan, “Bukankah tidak ada satu orangpun dari kalangan ‘alawiyyin yang menetap di Huraidhoh?” Al Habib Husain berkata: “Mereka akan datang dan bermukim di Huraidhoh, tempat itu akan menjadi sebuah tempat yang ramai diziarahi, kubah-kubah dan masjid akan menghiasi kota itu.”
Sewaktu Al Habib ‘Umar masuk usia remaja, Al Habib Husein bin Asy-Syekh Abu Bakr memerintahkannya untuk pergi ke Huraidhoh sebagai juru dakwah yang menyebarkan ajaran islam disana. Al Habib ‘Umar pun bergegas untuk pergi berdakwah di Huraidhoh.
Pada saat darang ke Huraidhoh, beliau disambut oleh Najad Adz-Dzibani yang kemudian memintanya untuk tetap tinggal di rumahnya selama beliau berada di kota itu. Ia berkata “Rumah ini adalah rumah anda sendiri wahai Al Habib.”
Al Habib Umar memutuskan untuk menetap di Huraidhoh, beliau kembali ke Lisik untuk membawa seluruh anggota keluarganya. Setibanya di Huraidhoh, sang ayah, Al Habib ‘Abdurrahman Al ‘Atthas jatuh sakit dan meninggal dunia. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.
Setelah Al Habib ‘Umar menetap di Huraidhoh, Syekh ‘Abdullah bin Ahmad Al ‘Afif (seorang wali besar) bernazar untuk mempersembahkan bagian dari kebun kurmanya untuk Al Habib ‘Umar. Tetapi setelah beliau terima, beliau menyerahkan pemberian itu kepada penduduk setempat. “Itulah nazar saya unruk kalian, maka terimalah nazar itu.”
“Kenapa tidak engkau tinggalkan untuk anak dan keluargamu?” kata sebagian orang. Al Habib ‘Umar menjawab, “Anak-anak saya kelak akan menguasai seluruh negeri ini.” Dan benar saja, anak cucu keturunan Al Habib ‘Umar Al ‘Atthas sangat banyak dan menyebar di seluruh penjuru negeri.

• Guru-guru besar Al Habib ‘Umar dan sanad-sanadnya

Shohiburrotib Al Habib ‘umar mengembil libas khirqoh dari Syekh Husein bin Syekh Abu bakar bin salim dan saudaranya Syekh ‘Umar Muhdhor. Mereka berdua mengambilnya dari ayah mereka, Syekh Abu Bakar bin Salim, Shohib ‘Inat. Syekh Abu Bakar mengambilnya dari Syekh Syihabuddin Ahmad bin ‘Abdurrahman, dari ayahnya Syekh ‘Abdurrahmab bin ‘Ali, dari ayahnya Syekh ‘Ali bin Abu Bakar, dari ayahnya SYekh Abu Bakr Assakran, dari ayahnya Asy-Syekh Al Kabir ‘Abdurrahman Assegaf. Asy-Syekh Al Kabir ‘Abdurrahman Assegaf mengambil libas khirqoh dari Muhammad Maula Dawilah, dari ayahnya ‘Ali, dari ayahnya Al Faqih Al Muqaddam Muhammad bin’Ali Ba’Alawi. Al Faqih Al Muqaddam Muhammad bin’Ali Ba’Alawi mengambil libas khirqoh: jalur kakek-kakek beliau dan jalur biasa.

Berkaitan dari jalur kakek-kakeknya, Al Faqih Al Muqaddam Muhammad bin’Ali Ba’Alawi mengambil dari Ali bin Muhammad Shohibul Mirbath, dari ‘Ali Khali’ Qasam, dari ‘Ali bin Muhammad Shohibul Shauma’ah, dari ‘alwi Shohibul Sumul, dari ‘Ubaidillan ibn Ahmad AL Muhajir, dari Isa Arrumi, dari Muhammad Annaqib, dari Al Imam ‘Ali Al ‘Uaidhi, dari Al Imam Ja’far Ash-shodiq, dari Al Imam Muhammad Al Baqir, dari al Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin, dari ayah dan pamannya, Al Imam Husein dan Al Imam Hasan bin ‘Ali bin Abi tholib. Keduanya mengambil dari Rasulullah (saw). Sedangkan Rasulullah (saw) memperoleh pendidikan dari ALLAH (SWT) melalui Malaikat Jibril. Rasulullah (saw) berkata, “Tuhanku mendidik aku, dan didikan-NYA padaku sangat baik.”

Sedangkan melalui jalur biasa, Al Faqih Al Muqaddam mengambil libas khirqoh shufiyyah dari Syu’aib Abu Madyan at-Tilimsani Al Maghribi, melalui Syekh ‘Abdurrahman Al muq’ad dan Syekh ‘Abdullah Ash-Shaleh, dari Syekh Abu Ya’za Al Maghribi, dari Syekh Abul Hasan bin Harzam (Abu Harzam), dari Syekh Abu Abu Bakar bin Muhammad bin Abdullah bin al ‘Arabi dan Al Qadhi Al Maghafiri, dari Syekh Hujjatul Islam al Imam Ghazzali, dari Imam Haramain ‘Abdul Malik bin Asy-Syekh Abu ‘Abdillah bin Yusuf al Juwaini, dari ayahnya, dari Abu Thalib Al Makki, dari Asy-Syekh Al Ustadz Asy-Syibli, dari SAayyidut-Tha’ifah Al Junaid, dari Dawud Ath-Tha’I, dari Habib Al Ajmi’, dari hasan Al Bashri, dari Al Imam ‘Ali bin bin Abi Thalib. Selanjutnya Imam ‘Ali mengambil dari Rasulullah (saw) dan Rasulullah memperoleh pendidikan dari ALLAH (SWT) melalui Jibril.

• Murid-murid dan Thoriqoh Al Habib ‘Umar

Di antara murid Al Habib ‘Umarialah As-Sayyid Al habib ‘Abdullah bin Alwi Al Haddad. Dan murid-murid lainnya adalah :
Al habib Ahmad bin Zein Al Habsyi, As-Sayyidul Jalil Ahmad bin Hasyim Al Habsyi, As-Sayyidul Jalil ‘Ali bin ‘Umar bin Husein bin Asy-syekh ‘Ali, putera-putera Al habib ‘Umar sendiri dan masih banyak lagi murid-murid beliau lainnya, khususnya yang berasal dari Wadi Dau’an dari keturunan Al ‘Amudi dan keturunan para sayyid keluarga Al Barr, seperti Al Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman Al Barr.

• Karangan-karangan Al Habib ‘Umar
Tidak pernah kita dengar bahwa Al Habib ‘Umar memiliki karya tulis selain Ratibul ‘Atthas. Pernah ada seseorang bertanya kepada Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad apa saja karya Al Habib ‘Umar Al ‘Atthas. Dengan tegasnya Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad berkata, “aku adalah salah satu karya besar Al Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman Al ‘Atthas.”

Al Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman Al ‘Atthas wafat pada malam Kamis tanggal 23 Rabi’uts Tsani tahun 1072 H di rumah kediaman beliau di kota Nafhun, setelah sebelumnya beliau menderita sakit selama 7 hari. Jenazah beliau diantar ke Huraidhoh untuk dikebumikan di sana. Usai penguburan jasad beliau, Huraidhoh dibasahi oleh rintik-rintik hujan gerimis pertanda turunnya keberkahan pada kota Huraidhoh dan sekitarnya.
Semoga kelak kita semua dapat mengikuti jejak beliau dan semoga kita semua dibangkitkan dan dikumpulkan bersama beliau dan kakek-kakeknya sampai ke Rasulullah (saw), Amiin.

Minggu, 14 Maret 2010

Laa Tusayyiduunii

Maha Benar ALLAH 'Azza wa Jalla yang melarang orang beriman berbicara kepada Rasul-Nya dengan suara keras, dan memanggil beliau dengan kata panggilan atau sebutan yang biasa digunakan di antara sesama mereka. Alangkah picik dan dungunya jika kita tidak mengerti, atau tidak mau mengerti, bahwa kita berbuat menyakiti hati dan perasaan orang yang kedudukan atau martabatnya di atas kita, jika kita memanggil atau menyebutnya hanya cukup dengan namanya saja! Labih-lebih lagi karena kita adalah orang-orang Timur yang terkenal sebagai bangsa yang berbudaya dan beradab.

Menghormati seorang pemimpin tidak berarti mengkultuskan atau mendewa-dewakannya. Kita yakin seyakin-yakinnya, bahwa tidak ada apapun yang berhak disembah selain ALLAH. Konsekuensi logis dari keyakinan itu, kita wajib memberi penghormatan setinggi-tingginya kepada manusia pilihan ALLAH yang diutus menyampaikan kebenaran agaa-NYA. Manusia itu adalah junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. Semasa hidupnya, tidak ada seorangpun dari ahlul baitnya, kaum kerabat, dan para sahabatnya yang berbicara dengan suara keras di depan beliau, dan tidak ada seorangpun yang menyebut beliau hanya dengan nama telanjang "Muhammad" atau "Hai Muhammad". Yang menyebut beliau dengan cara seperti itu, hanyalah kaum musyrikin, yahudi, orang-oang badui, dan pengembara di padang pasir yang belum mengenal islam atau belum memeluk islam.

Lima belas abad silam, atas petunjuk Ilahi, kaum Muslimin sudah menerapkan tata krama dan sopan santun terhadap Rasulullah SAW. Sungguh naif sekali jika di zaman ini, masih ada orang beriman yang memanggil atau menyebut Rasulullah hanya dengan "Muhammad" saja, tidak hanya berlawanan dengan firman ALLAH di dalam surah An Nur ayat 63, tetapi juga tidak dapat dipertanggung jawabkan keabsahannya menurut syara', bukan hanya sekedar tidak sopan.

Bahkan ada sementara orang yang amat keberatan menyebut nama Rasulullah dengan awalan kata "Sayyidina" (Pemimpin kita, Junjungan kita). Menurut mereka sebutan itu adalah bid'ah. Mereka mengatakan sebuah hadits yang di dalamnya Rasulullah melarang para sahabat menyebut atau memanggil beliau dengan awalan kata "Sayyid". Mereka menyebut kalimat dalam hadits termaksud :

" Laa Tusayyiduunii" yang artinya : "Janganlah kalian menjadikan diriku sayyid"

Hadits yang mereka kutip sesungguhnya hadits karangan mereka sendiri. Buktinya? Di dalam bahasa Arab tidak pernah ada akar kata sayada, yang dalam tata bahasa Arab dapat berubah menjadi sayyada dan yusayyidu. Yang ada adalah akar kata sa-wa-da yang karena konteks kalimatnya, secara tata bahasa, dapat berubah menjadi sawwada dan yusawwidu, yang berarti "membuat orang menjadi sayyid". silahkan telaah semua kamus bahasa Arab yang ada di mana saja. Jadi sangatlah mustahi; Rasulullah SAW menggunakan kata "Tusayyiduunii". Beliau tidak penah berbicara dengan bahasa acak. Bahasa Arab beliau adalah bahasa Arab murni yang tinggi mutu sastranya. Be;liau seorang manusia ma'shum (terpelihara dari kemungkinan berbuat salah, keliru, lupa, dan berbagai kelemahan lainnya). Betapapun kecilnya kesalahan, kekeliruan atau kelupaan beliau, pasti berakibat fatal bagi pelaksanaan tugas Risalah beliau, dan bagi umatnya. Tidak ada sumber riwayat hadits yang mengetengahkan hadits semacam itu. Kalau ada sumbernya, sumber itu adalah rekayasa mereka sendiri.

Beliau memang tidak pernah meminta kepada seorang sahabatpun agar menyebut nama beliau dengan awalan kata Sayyid, Dan di dunia ini, barnagkali tidak ada oang berakal sehat menuntut orang lain supaya menyebut namanya dengan awalan kata-kata: "tuan", "junjungan", "yang mulia", "paduka tuan", "paduka yang mulia" dan seterusnya; tetapi sebaliknya, banyak orang yang menyebut atau memanggil orang lain dengan awalan kata tersebut, tidak atas permintaan pihak yang disebut atau yang dipanggil. Menuntut orang lain memanggil dan menyebut namanya engan awalan kata-kata seperti itu, hanya pantas dilakukan oleh orang tidak waras. Namun, kaum Muslimin, sebagai umat yang sangat berutang budi kepada Beliau selaku Nabi dan Rasul, yang telah menyelamatkan jalan hidup mereka dari kesesatan aqidah, maka sudah sepatutnya untuk menghormati beliau dengan setinggi-tingginya. Tidaklah berlebihan jika kita memanggil atau menyebut nama beliau dengan awalan kata Sayyidina. Apakah Bid'ah atau apakah Dholalah (sesat) jika kaum Muslimin menghormati kemuliaan Beliau dengan menyebut Sayyidina Muhammad Rasulullah SAW?

ShareThis