Minggu, 25 November 2012

Al Habib Umar bin Hud Alatthos

Jakarta


Ia merupakan ulama yang dermawan. Karamahnya sangatlah nyata. setiap orang yang meminta nasehatnya selalu dijawab dengan sebuah jawaban yang pas dan menggugah hati, yaitu berbaktilah kepada orang tuamu. karena memang itulah kunci keberhasilan dunia dan akhirat. Dan itulah resep mujarab yang telah diajarkan oleh figur satu ini.
Kabar gembira dari seorang imam.

Ayah alHabib Umar bin Hud bernama alHabib Muhammad bin Hasan, ia merupakan seorang yang dikenal akan kesholehnnya. selama sekitar 20 tahun, ia berkhidmat mengurus Masjid as-Syaikh Abdul Qadir al-Jaelani yang berada di Hadramaut, sebelum akhirnya hijrah ke Indonesia.
 
Suatu saat, al-Imam al-Habib Ahmad bin Hasan Alatthos menyampaikan kabar gembira perihal kehamilan asy-Syarifah Nur binti Hasan Alatthos, istri al-Habib Muhammad bin Hasan. Al Habib Ahmad bin Hasan mengatakan, "Ia akan melahirkan seorang anak laki-laki yang panjang usianya, penuh dengan keberkahan serta akan banyak orang yang datang untuk bertawassul dan bertabarruk dengannya. Anak laki-laki tersebut hendaknya diberi nama Umar, sebagai pengganti kakaknya yang juga bernama Umar yang telah wafat ketika sedang bersama ayahnya di Indonesia."

Semas kecil, ia diasuh oleh kakaknya, al-Habib Salim. Mereka berdua bekerja di kebun kurma untuk meringankan beban keluarganya. Saat itu ia masih berusia belasan tahun. Diwaktu kecilnya itu, ia memiliki keterampilan menulis khat (kaligrafi) yang indah serta ia memiliki kebiasaan membaca dan menulis. Hal itu salah satu pertanda akan kecintaanya pada ilmu.

Beberapa waktu setelah wafatnya sang bunda, ia mendapat surat dari ayahnya untuk datang ke Indonesia. Saat itu ia baru berusia 15 tahun. keesokan hari setelah menerima surat dari ayahnya, ia meninggalkan Hadramaut menuju Indonesia guna menemui ayahnya yang sudah lebih dulu hijrah ke Indonesia. Dalam perjalanannya itu, pertama kalinya ia menuju ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji serta berziarah ke makam datuknya Rasulullah saw di Madinah. Saat itu ia sempat bermukim selama beberapa tahun di kota Mekkah. Dalam kesempatan itu, ia gunakan untuk menimba ilmu kepada ulama-ulama setempat.

Meski sewaktu di Hadramaut ia berada di bawah didikan guru sebesar al-Imam al-Habib Ahmad bin Hasan al-Atthos, ia masih merasa perlu menimba ilmu, apalagi ia masih muda. Seperti inilah kebiasaan para salafunasshalihin dari kalangan habaib terdahulu. Selain belajar kepada ayahnya sendiri, selama di Indonesia, al-Habib Umar juga mendatangi dan menimba ilmu dari para ulama' masa itu diantaranya:
al-Habib Muhammad bin Alwi al-Atthos az-Zabidi (Jakarta)
al-Habib Muhsin bin Muhammad al-Atthos (Bogor)
al-Habib Abdullah bin Muhsin al-Atthos (Bogor)
al-Habib Alwi bin Muhammad Al-Haddad (Surabaya)
al-Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyial-Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdhor (Bondowoso), dan masih banyak lagi tokoh ulamadan auliya' yang menjadi gurunya di Indonesia.
Diriwayatkan, ia sering melakukan perjalanan dari Jakarta menuju kediaman al-Habib Abdullah bin Muhsin al-Atthos di wilayah Empang, Bogor, dengan menggunakan sepeda. Jarak yang demikian jauh, namun hal itu tak sedikitpun mengendurkan semangatnya dalam menimba ilmu dari para ulama dan bertabarruk kepada mereka.

 
Karomah al-Habib Umar bin Hud al-Atthos


Pada tahun 1956 M, al-Habib Umar bin Hud al-Atthos mendapat isyarah untuk menetap di Kota Makkah. Maka berangkatlah ia bersama sebelas anggota keluarganya dengan menggunakan kapal laut yang akan berlayar menuju Hijaz.
Saat di tengah laut, badai datang dengan begitu dahsyatnya. Kapten kapal memerintahkan semua awak kapal dan penumpang agar bersiap-siap menghadapi kemungkinan terburuk yang akan terjadi, yaitu tenggelamnya kapal tersebut. Para awak kapal dan penumpang lainnya pun panik. Berbeda halnya dengan al-Habib Umar bin Hud, ia malah mengajak para anggota keluargabya untuk masuk ke dalam kamar dan membaca Ratib al-Atthos bersama. Subhanallah... Belum selesai bacaan ratib dibaca, badaipun reda.

Pernah seorang laki-laki yang gemar membeli undian datang kepadanya, tanpa basa-basilelaki itupun berkata "Wahai Habib Umar, saya minta nomor undian (judi)" Katanya tanpa sungkan. "Aku akan berikan kau nomor undian, namun dengan satu syarat, jika engkau menang undian segeralah bawa uang itu kepadaku." Jawab al-Habib Umar. "Baiklah kalau begitu permintaan habib" jawab lelaki itu. Beberapa hari kemudian, lelaki itu datang lagi "Habib, saya berhasil menang undian, ini uangnya" katanya sambil menyerahkan segepok uang hasil undian.
Dengan tenang al-Habib Umar meminta kepada salah seorang muridnya untuk mengambil sebuah baskom, lalu ia berkata kepada lelaki penjudi itu "Sekarang lihatlah apa yang aku hendak perbuat" Kemudian ia menggenggam uang segepok itu dan lalu memerasnya di atas baskom. Anehh!! Dari genggaman tangn al-Habib Umar mengucurlah darah segar mengalir memenuhi baskom. "Lihatlah apa yang telah engkau dapatkan dari undian itu" kata Habib Umar kepada lelaki itu. Melihat kejadian itu, lelaki itu kaget bukan kepalang, badannya gemetaran, wajahnya pucat pasi, belum beranjak dari tempat duduknya, ia menyatakan bertobat di hadapan al-Habib Umar bin Hud.

Di saat lain, ketika al-Habib Umar tengah menggelar ta'lim di masjid, masuklah seorang berwajah putih bersih. Tanpa basa-basi, lelaki tak dikenal itupun menghampiri al-Habib Umar dan berkata "Wahai Habib Umar, bisakah aku minta nasi kebuli?"
Permintaan aneh tersebut tentu saja membuat terkejut seluruh jama'ah, namun dengan senyum al-Habib Umar berkata dengan sangat 'arif "Baiklah, pergilah ke belakang, dan makanlah apa yang engkau mau." Maka lelaki itupun segera pergi ke dapur.
Tak lama ta'lim usai, kemudian al-Habib Umar dengan diikuti sebagian para jama'ah menyusul ke dapur. Mereka melihat lelaki itu tengah menyantap nasi kebuli dengan sangat lahap. "Dia adalah tamu agung kita, lelaki itu adalah Nabi Allah Khidir." Kata al-Habib Umar kepada para jama'ahnya.

Ada cerita lain mengenai karomahnya. Pada suatu hari, datang seorang lelaki dengan membawa air agar di do'akan sebagai obat. Namun baru saja ia mengetuk pintu, al-Habib Umar sudah menyuruhnya pulang. Tentu saja lelaki itu bersikeras dan bertahan di depan pintu. Akhirnya al-Habib Umar keluar dan berkata, "Pulanglah, air yang engkau bawa itu sudah bisa menyembuhkan." "Tapi Bib..." Kata lelaki itu kebingungan. "Pulanglah, bukankah engkau sudah ditunggu oleh keluargamu?"
Akhirnya dengan keyakinan yang kuat ia pun pulang membawa air, dan menuangkannya ke dalagelas untuk diminum oleh keluarganya yang sakit. Subhanallah.... Tak lama kemudian, keluarga yang sakit tersebut berangsur sembuh dan pulih kembali.

Orang terkadang menyebutnya Habib Umar Cipayung. Hal ini karena Maulid Nabi Muhammad saw yang setiap tahunnya ia gelar di sekitar wilayah Cipayung, Puncak, dihadiri hingga ratusan ribu orang, termasuk dari negara-negara tetangga bahkan dari Timur Tengah dan Afrika. Karenanya, tidak heran kalau orang menyebut maulid Nabi Muhammad saw yang diselenggarakan al-Habib Umar bin Hud di Cipayung sebagai Maulid International. Untuk jamuan makanan para jama'ah yang menghadiri maulid ini diperlukan ribuan ekor kambing dan berton-ton beras. Kalau ditanya orang dari mana dananya, maka al-Habib Umar selalu menjawab "Dari Allah swt"


Wafatnya al-Habib Umar bin Hud

 Pada hari Rabu malam, 11 Agustus 1999 M, jutaan umat dikejutkan kabar wafatnya al-Habib Umar bin Hud al-Atthos. Ia wafat dalam usia sekitar 108 tahun. Puluhan ribu pecintanya berta'ziyah ke rumahnya dan keesokan harinya melepasnya hingga ke tempat peristirahatannya yang terakhir, di kompleks pemakaman al-Hawi, Condet, Cililitan, Jakarta Timur, di tengah-tengah makam para auliya' lainnya, sebagaimana wasiatnya.
Masih terkenang dalam ingatan semua orang yang menyaksikan pemandangan mengharukan itu, ribuan pasang mata 'menumpahkan' air matanya di sepanjang jalan raya Condet, seraya meneriakkan kalimat-kalimat kebesaran Allah swt.Sementara itu, tak sedikit kaum ibu yang menangis sambil melambai-lambaikan tangan dan memanggil-manggil nama al-Habib Umar saat jenazah tokoh kecintaan mereka ini melintas dihadapan mereka.

"Wafatlah para sholihin satu demi satu, hingga yang tersisa hanyalah sampah masyarakat yang Allah swt tak pedulikan apa pun yang akan menimpa mereka" (Shahih Bukhori)

Wallahu a'lam bishowwab,,
(Dikutip dari buku 12 Ulama Kharismatik di Indonesia)

Senin, 22 Oktober 2012

Tak Ada Yang Mampu Mengubah Ketentuan ALLAH

 "Tak Ada Yang Mampu Mengubah Ketentuan ALLAH"

"Himmah yang kokoh takkan mampu menembus dinding takdir"

Sebagian orang ada yang memiliki hasrat cukup tinggi. Sampai ada yang berkhayal, bahwa mereka mampu untuk mengubah hukum alam (sunnatullah) dalam waktu cepat. Pemikiran semacam ini muncul dari keinginan untuk melakukan perubahan tanpa diimbangi dengan data yang kuat tentang serangkaian sebab dan akibat yang mungkin terjadi. Seakan-akan mereka melupakan firman ALLAH berikut ini:

"Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu), kecuali apabila dikehendaki ALLAH, Rabb seluruh alam." (at-Takwir:29)

dan

"Dan tidaklah engkau mampu (menempuh jalan itu), kecuali apabila ALLAH menghendaki. Sungguh ALLAH Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (Al-Insaan: 30)


*Sumber
_Kitab Al Hikam by Syaikh Ibn 'Athaillah As-Sarkandi_

Jumat, 19 Oktober 2012

Managib SAYYIDINA AL-IMAM AL-QUTB AL-GHAUTS AS-SYEKH “ABDURRAHMAN AS-SEGAFF R.A”

Managib
SAYYIDINA AL-IMAM
AL-QUTB AL-GHAUTS AS-SYĔKH

“ABDURRAHMAN AS-SEGAFF R.A”

Disusun oleh;As-Sayyid Muhammad Rafiq Bin Luqman Al-Kaff gathmyr

هومن أكبر الاكابر المشائخ العارفين
وصدور الأجلاءالمقدمين وخلاصة الأصفياء المحبوبين
صاحب الأحوال الفائقة والمقامات الرائقة والكرامات الخارقة والأنفاس الصادقةوالهمم العالية والبركات التامية والفتح العلي والكشف الجلى والمحاسن الجميلة والمواهب الجليلة والقدم الراسخ في التمكين المحمود والباع الطويل النافذ فى الوجود واليد البيضاء فى السيف إلى اعلى معارج الوصل والمشرب الأهنى من كؤس مدام الوصل مطلعالشموس الأقمار ومنبعا لعيون الأسرار وسارت بذكرفضائله الركبان فى الأفاق وانعقد على إجلاله الإجماع والإتفاق عمرالله القلوب والوجود ببركاته واتاحت ركائب االطالبين لنيل هباته وسلبت قلوب العارفين ببديع صفاته فهو قطب الوجود حقاومرشد اهل الطريقين إلى الحق صدقا فطيب نشره فى الوجود فائح وغير ذلك مما يقصر عنه مدح كل مادح


I. TEMPAT DAN TANGGAL LAHIR SAYYIDINA
AS-SYĔKH ABDURRAHMAN AS-SEGAFF RA.
Beliau masyhur dengan sebutan As-Segaff. Beliau merupakan salah satu pemuka sadah Ba`alawi Qutb Al-Aulia yang lahir pada tahun 739 H di Tarim, Hadhramaut.

II. GURU-GURU SAYYIDINA
AS-SYĔKH ABDURRAHMAN AS-SEGAFF RA.
As-Syĕkh Abdurrahman As-Segaff banyak mempelajari kitab Syari’ah dan hakekat, sehingga diriwayatkan bahwa beliau telah menguasai sekaligus hafal di luar kepala, lebih kurang 50 jilid buku dalam ilmu Syariah, itu pun belum termasuk tasawuf, tauhid dan prinsip ilmu yang lain.
As-Syĕkh Abdurrahman As-Segaff Ra selama masa belajarnya telah dibina oleh tokoh-tokoh terkemuka di zamannya, beberapa di antara guru-guru beliau adalah :
1. Al-‘Alim Al-Allamah Muhammad bin Alwi bin Ahmad bin Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra.
Melalui guru beliau ini, As-Syĕkh Abdurrahman As-Segaff mempelajari kitab karya Al-Imamain Al-Azimain Bil Maqomil ‘Ali Muhammad Al-Ghazali dan Imam Mazhab Bil It-Tifaq As-Syĕkh Abu Ishak, serta kitab Al-Wajiz dan Al-Muhazib serta kitab karya Al-Imam As-Syayrodzy.
2. As-Syĕkh Ali bin Salim.
3. As-Syĕkh Al-Arib Al-Mualim Ahmad bin Muhammad Al-Khatib. Semasa kecil beliau mempelajari dan menghafal Al-Qur`an Al-Karim kepada guru beliau ini.
4. Al-Imam Ali bin Sa`id Basulaib.
5. Al-Imam Abu Bakar bin Isa Bayazid, yang tinggal di Wadi Amad.
6. As-Syĕkh Al-Imam Umar bin Sa`id Bajabir.
7. Al-Arif Billah Ta`ala Mazahim bin Ahmad Bajabir Shohib Barum.
8. Al-Imam Al-Wali Abdullah bin Thohir Ad-Du`ani.
9. Al-Imam Al-Faqih Muhammad bin Sa`ad Basyakil Shohib Al-Fiil. Melalui guru beliau ini, As-Syĕkh Abdurrahman mempelajari kitab Al-Ihya, Ar-Risalah dan Al-Ma`arif serta Al-Awarif.
10. Al-Imam As-Syĕkh Al-Islam Muhammad bin Abu Bakar Ba Ibad.
11. As-Syĕkh Al-Qodhi Muhammad bin Sa`id Kabn.
Beliau tinggal di kota ‘Adn. Sayyidina As-Syĕkh Abdurrahman As-Segaff mendalami ilmu Nahwu dan Shorof juga ilmu bahasa yang lain seperti Mantiq dan lain-lain kepada guru beliau ini.

III. MURID-MURID SAYYIDINA
AS-SYĔKH ABDURRAHMAN AS-SEGAFF RA
Banyak di antara murid-murid beliau di kemudian hari menjadi ulama yang termasyhur, termasuk di dalamnya adalah anak-anak dan keponakan beliau serta anak dari guru beliau sendiri. Beberapa di antaranya adalah:
1. Al-Imam Al-Qutb Al-Ghauts As-Syĕkh Al-Kabir AbuBakar bin As-Syĕkh Abdurrahman As-Segaff Al-Masyhur bis “Sakran” dan saudaranya.
2. Al-Imam Al-Qutb Al-Ghauts As-Syĕkh Al-Kabir Umar bin As-Syĕkh Abdurrahman As-Segaff Al-Masyhur bil “Mahdhor”.
3. Al-Arif Billah Abu Bakar bin Alwi As-Syaibaih, dan saudaranya.
4. Al-Imam Asy-Syahir Muhammad bin Alwi.
5. Al-Arif Billah Muhammad bin Hasan Asy-Syahir Bi Jamalullail.
6. Al-Imam Al-Kabir Muhammad Shohib Aidid bin Ali.
7. Al-Arif Billah Ahmad bin Umar Shohib Al-Mushof .
8. An-Nur Al-Muta`ajjat Al-Imam Sa`ad bin Ali Madhaq.
9. As-Syĕkh Muhammad bin Abdurrahman bin As-Syĕkh Muhammad bin Abdurrahman bin Al-Imam As-Syeikh Ali bin Muhammad bin Ali bin Muhammad Shohibul Wa’al Al-Khotib Al-Anshory, dan anak beliau, penulis kitab “Al-Jauhar As-Syafaf” yaitu :
10. As-Syĕkh Abdurrahman bin Muhammad Al-Khotib.
11. As-Syĕkh Abdurrahim bin Ali Al-Khotib.
12. Syĕkh Ali bin Muhammad Al-Khotib.
13. Syĕkh Syu`aib bin Abdullah Al-Khotib.
14. As-Syĕkh Ahmad bin Abu Bakar Baharmy.
15. As-Syĕkh Abdullah bin Al-Faqih Ibrahim Baharmy.
16. As-Syĕkh Abdullah bin Ahmad Al-‘Amudi.
17. As-Syĕkh Ali bin Ahmad bin Ali bin Muslim.
18. As-Syĕkh Abdullah bin Muhammad Basyarahil Al-Mualim.
19. Al-Faqih Muhammad bin Muafi.
20. Al-Wali At-Taqy Abdullah bin Nafi Bamundzir.
21. Al-Wali Isa bin Umar bin Bahlul.
22. Al-Imam Ahmad bin Ali Al-Habbani.
23. Al-Faqih Sa`ad bin Abdullah Ba Untar.
24. As-Syĕkh Muhammad bin Sa`id Al-Maghribi.
25. As-Sholeh Muhammad bin Ahmad Al-Umari.
Selain itu masih banyak lagi murid-murid Sayyidina As-Syĕkh Abdurrahman As-Segaff Ra yang telah menjadi ulama, fuqaha dan wali terkemuka yang telah memberikan manfaat bagi umat di zamannya, mereka adalah mata air yang terbit dari sumber mata air utama yaitu Sayyidina As-Syĕkh Abdurrahman As-Segaff Ra.

IV. ANAK-ANAK SAYYIDINA
AS-SYĔKH ABDURRAHMAN AS-SEGAFF.
Beliau mempunyai delapan orang anak laki-laki dan enam orang anak perempuan, yang merupakan anak-anak yang soleh dan solehah. Setiap anak laki-laki beliau membaca tahlil sebanyak 70.000 kali dan anak perempuan beliau membaca tahlil sebanyak 35.000 kali, yang pahalanya dihadiahkan kepada Imam As-Segaff. Beliau selalu menginfaqkan harta beliau bagi anak-anaknya untuk mereka gunakan di jalan Allah SWT. Sayyidina Al-Imam As-Syĕkh Abdurrahman As-Segaff mendirikan 10 buah masjid dan anak-anak beliau mendirikan 3 masjid. Selain itu beliau juga memberikan wakaf bagi setiap masjid. Sayyidina As-Syĕkh Abdurrahman As-Segaff Ra juga mempunyai banyak kebun kurma di Tarim dan di kota Al-Masfalah dan beliau mem-bacakan surat Yasin bagi setiap pohon kurmanya.
Anak beliau yang perempuan adalah :

1. As-sayyidah Asy-Syarifah Maryam. Saudari sekandung dari As-Syĕkh Abu Bakar As-Sakran, ibu dari Abu Bakar Al-Jufri bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam.
2. As-sayyidah Asy-Syarifah Fatimah. Saudari sekandung dari Syeikh, ibu dari Muhammad bin Ahmad bin Hasan Al-Wara`.
3. As-Sayyidah Asy-Syarifah Bahiyah. Saudari kandung dari Hasan bin Abdurrahman As-Segaff.
4. As-sayyidah Asy-Syarifah Asma`. Saudari kandung dari Husein bin Abdurrahman As-Segaff.
5. As-sayyidah Asy-Syarifah Aisyah. Ibu dari Abdurrahman Kheilah bin Abdullah bin Alwi Maula Ad-Dawiylayh, ibunda beliau (isteri As-Syĕkh Abdurrahman As-Segaff) berasal dari Bani Haritsah.
6. As-sayyidah Asy-Syarifah Alwiyah As-Saumul Kubro. Ibu dari Maryam binti Umar Syanah, saudara dari Abu Bakar Al-Jufri. Ibunda beliau (isteri As-Syĕkh Abdurrahman As-Segaff) berasal dari ‘Inat.
7. As-sayyidah Asy-Syarifah Alwiyah Al-Qarah As-Sughro. As-Syarifah ‘Alwiyah adalah isteri Muhammad Ar-Rakhilaih bin Umar bin Ali Ba’Umar. Ibunda beliau (isteri As-Syĕkh Abdurrahman As-Segaff) dari Ãl Hamiysi’ As-Syanhajy.
Adapun anak-anak beliau yang laki-laki adalah :
1. Ay-Syĕkh Ahmad. Wafat di Tarim tahun 829 H.
2. As-Syĕkh Muhammad. Wafat di Tarim tahun 820 H.
3. As-Syĕkh Abu Bakar As-Sakran. Wafat di Tarim tahun 821 H.
4. As-Syĕkh Umar Al-Mahdhor. Wafat di Tarim tahun 833 H.
5. As-Sayyid Ali. Wafat tahun 840 H.
Ibunda beliau adalah seorang wanita sholeh dari kabilah arab Al-Basyiban yang berasal dari Seiwun.
6. As-Sayyid Alwi. Wafat di Tarim pada tahun 826 H.
7. As-Sayyid Abdullah. Wafat di Tarim tahun 857 H.
8. As-Syĕkh Syeikh. Wafat di Tarim tahun 837 H.
Ibunda mereka (Alwi, Abdullah dan Syeikh) ini bernama Fatimah Aisyah bin Yahya Qatiyn.
9. As-Sayyid Aqil. Wafat di Tarim tahun 871 H.
10. As-Sayyid Ja`far. Wafat tahun 829 H.
11. As-Sayyid Ad-Dza iq Hasan. Wafat tahun 830 H.
Ibunda mereka bernama Maryam binti Salim Al-Hudailiyah. Berasal dari daerah Asy-Syanahizah.
12. As-Sayyid Ibrahim. Wafat di Tarim tahun 875 H.
Ibunda beliau bernama Uwaisyah binti Ali Balhaj.
13. As-Sayyid Husein. Wafat di Tarim tahun 892 H.
Ibunda beliau bernama Asma` Fulana binti Ba Ubayd

V. KEAGUNGAN DAN KEMULIAAN SAYYIDINA
AS-SYĔKH ABDURRAHMAN AS-SEGAFF RA.

Maqam beliau
Sayyidina As-Syĕkh Abdurrahman As-Segaff Ra adalah seorang wali yang bermaqam Qutb Al-Ghauts, satu derajat kewalian tertinggi. Beberapa riwayat yang berkaitan dengan masalah maqam ini akan kami kemukakan sebagian.
As-Syĕkh Al-Jalil Al-‘Arif Muhammad bin Hasan Al-Mu’allim Ra berkata :
“Telah datang kepadaku suatu sosok ghaib yang berkata, ’As-Syĕkh Abdurrahman adalah seorang Wali Qutb’.
Aku pun lalu berta’awwuz karena aku khawatir hal ini berasal dari syaithan, kemudian aku terdiam sesaat, setelah itu ia mendatangi diriku lagi dan berkata seperti tadi, lalu aku membaca ta’awwuz lagi, dan pada waktu ketiga kalinya ia mendatangi diriku kembali, ia berkata; ”Apakah engkau tidak mau membenarkan perkataanku bahwa As-Syĕkh Abdurrahman adalah seorang Qutb?”
Riwayat yang lain berasal dari anak beliau sendiri yaitu; As-Syĕkh Al-Wali Badruddin Hasan bin As-Syĕkh Abdurrahman R.Anhuma, beliau berkata :
“Sekali waktu aku duduk berdua bersama ayahku di Masjid beliau pada tahun 814 H, beliau berbicara panjang lebar kepadaku dan di tengah perbincangannya, ayahandaku berkata kepadaku beliau telah memakai Qamiys Qutb selama dua puluh dua tahun dan selama itu beliau tidak pernah makan kecuali minum air dingin.”


Masjid As-Syĕkh Abdurrahman As-Segaff Ra
Yang didirikan oleh beliau pada th 768 H.
Banyak diambil dari kesaksian para Wali bahwa Sayyidina Al-Imam As-Syĕkh Abdurrahman As-Segaff telah mencapai martabat Quthbiyyah. Dan telah menjadi ijma` sari seluruh wali, bahwasanya seluruh wali di masa itu berada di bawah panji beliau tanpa terkecuali.
Salah seorang saudara Sayyidina As-Syĕkh Abdurrahman As-Segaff Ra bercerita :
“Sungguh telah terjadi perselisihan antara diriku dan saudaraku, Abdurrahman As-Segaff. Sebenarnya perselisihan ini awalnya bermula hanya pada masalah harga dagangan kurma, hingga kemudian menimbulkan pemikiran pada diriku mengapa saudaraku itu bisa lebih tinggi derajatnya dari pada diriku? Aku berpuasa seperti dia berpuasa. Sholatnya pun sama dengan sholatku dan ayahanda kami juga satu. Selain itu tamuku juga lebih banyak dari tamunya. Akhirnya pada satu malam aku bermimpi, aku melihat suatu sosok yang bercahaya dan berkata kepadaku: “Apakah engkau berpikir derajatmu sama dengan saudaramu Abdurrahman?” aku pun menjawab, “Benar” kemudian cahaya tersebut berkata kepadaku, “Jalanlah bersamaku.”
‘Maka ia membawaku kepada saudaraku Abdurrahman. Dalam mimpiku itu aku mendapati seluruh tubuhnya diselimuti oleh cahaya, dan di setiap sendi tubuhnya tertulis dengan cahaya, surah Al-Ikhlas dan kalimat tauhid: Laa Ilaaha Illallah Muhammadar Rasulullah. Kemudian sosok bercahaya tersebut berkata kepadaku, “Jika engkau telah mencapai derajat seperti ini maka bolehlah engkau mengatakan dirimu lebih ataupun sama dengan saudaramu Abdurrahman.” Maka semenjak itu aku pun memandang saudaraku Abdurrahman lebih tinggi derajatnya daripada diriku.’”
Para Wali Al-‘Arifin dan para ulama Al-Muhaqiqin menjuluki beliau dengan As-Segaff. Untuk menutupi keagungan hal beliau atas ahli zaman di kala itu sebagai kata isyarat yang makna seutuhnya hanya dimengerti oleh kaum Khawas dikarenakan beliau sendiri sangatlah membenci kemasyhuran. Dengan segala kemuliaan yang telah Allah berikan kepada beliau, telah membuat dirinya tersohor kesegala penjuru negeri. As-Segaff yang dalam arti lughoh adalah bermakna “di atas” adalah mengandung pengertian kedudukan beliau adalah “di atas” seluruh para wali pada zaman itu secara keseluruhan tanpa terkecuali. Hal ini menyatakan bahwa maqom beliau adalah Qutb Al-Ghauts. Dan lazimnya setiap wali yang bermaqom seperti itu dalam perumpamaannya adalah bagaikan atap rumah yang menaungi para penghuni rumah, dalam hal ini rumah yang dimaksud adalah “wilayah” dan konteks yang dimaksud adalah apa yang disebut oleh kaum Sufi dengan “Tashrif Dairatul wilayah.” Atau semacam kedudukan rantai komando tapi dalam dunia kewalian. Pernah diriwayatkan oleh beberapa murid dari Al-Imam As-Segaff, sekali waktu para Wali di suatu daerah menyerahkan “tashrif wilayah” mereka kepada beliau, dengan membaiat beliau sebagai pemimpin mereka, kejadian ini mengisyaratkan bahwa para wali tadi menyerahkan kepemimpinan kewalian mereka kepada Al-Imam As-Segaff, dalam seluruh perkara kewalian pada saat seperti ini Al-Imam As-Segaff berlaku sebagai Ghust Al-Wali bagi mereka, kedudukan tinggi yang tidak bisa dianggap main-main, mengingat “Ghaust” lazimnya berlaku bagi kaum Awam, bisa dibayangkan bagaimana Ghaust bagi para Wali?.
Muhammad bin Hasan bin Abu Bakar berkata, “Ketika aku sedang tidur, aku mendengar suara dalam mimpiku yang berkata,
اَلْجَوَاهِر مُحَمَّد بْن عَلِى وَوَلَدِهِ عَلْوِى وَوَلَدِهِ عَلِى وَوَلَدِهِ
مُحَمَّد فَقُلْتُ :وَعَبْدُ الرَّحْمَن اَلسَّقَافْ؟ فَقَالَ:جَوْهَرَةُ الْجَوَاهِرْ
Permata-permata adalah Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali dan anak beliau Sayyidina Alwi Al-Ghuyur dan anak beliau Ali dan anak beliau Muhammad bin Ali Maula Ad-Dawiylaih. Kemudian aku bertanya, ‘Lalu bagaimana dengan Abdurrahman As-Segaff’ dan suara itu menjawab, ‘Ia adalah permata dari segala permata.’”

Majlis beliau
Sayyidina Al-Imam As-Syĕkh Abdurrahman As-Segaff mempunyai majlis yang masyhur dan selalu dihadiri para Wali dan para Rijal Al-Ghaib dari segala penjuru dunia.
Ada satu riwayat yang bercerita bahwa beliau sekali waktu pernah didatangi seorang lelaki asing di tengah Majlis beliau yang tiba-tiba berkata kepada beliau :
لمِاَتَتَكَلَّمُ عَلَى النَّاس ؟
“Kenapa engkau membuka rahasia hakekat kepada khalayak ramai?”

kemudian dijawab oleh beliau,
اَنْعِى إِلَيْكَ قُلُوْبًا طَالَ مَاهَطَلَتْ
سَحَائِبَ الْوَحْيُ فِيْهَا أَبْحُرِ الْحِكَم
Lalu bertanya murid beliau yang bernama Al-Imam Al-Wali Abu Bakar bin Alwi As-Syaibah, ”Bagaimanakah ciri laki-laki tersebut?”. Al-Imam As-Segaff lalu memberikan ciri laki-laki yang berbicara kepada beliau itu yang kemudian dijawab kembali oleh Al-Imam Abu Bakar Asy-Syaibah, “Hazihi shifatul ghozali yujizuka bitakallamu `alan naas.” (Ini adalah Al-Imam Al-Ghozali dan banyak yang telah menyaksikan bahwa yang belajar pada beliau adalah para ahli al-kasyaf yaitu para Wali Allah dan Arrijalul Ghoib.)
Al-Arif Billah Muhammad bin Ali Azzubaidi meriwayatkan: “Aku telah menyaksikan sendiri bahwa As-Syĕkh Abdul Qodir Al-Jaelani telah membaca Al-Miatain di hadapan Sayyidina As-Syĕkh Abdurrahman As-Segaff. Dan aku telah menyaksikan sendiri Al-Imam Al-Ghozali membaca kitabnya yang terkenal yaitu kitab Al-Ihya di depan Sayyidina Al-Imam As-Syĕkh Abdurrahman As-Segaff.”

Al-Imam As-Syĕkh Abdurrahman As-Segaff, pada awalnya kurang menyukai majlis Sima`. Kemudian karena selalu menghadiri majlis Sima` maka akhirnya beliau mencintai majlis tersebut.
Sayyidina As-Syĕkh Abdurrahman As-Segaff Ra, bila tengah mendapatkan waridat, maka akan terlihatlah hāl beliau yang luar biasa di tengah khalayak ramai, sehingga terlihatlah dengan jelas kemuliaan beliau di sisi Allah SWT, terkadang para hadirin yang kala itu mendengarkan perkataan beliau pun, juga akan mendapatkan haibah yang agung karena mendengarkan perkataan beliau.
Sekali waktu, tatkala seorang saudara beliau yang bernama As-Syĕkh Ali meninggal dunia, Sayyidina Al-Imam As-Syĕkh Abdurrahman As-Segaff merasakan kesedihan yang mendalam hingga beliau meninggalkan majlis sima` ini sampai beberapa waktu. Kemudian ketika beliau kembali mengadakan majlis sima`, beliau berkata mengenai hal itu, “Kami menginginkan meninggalkan hal tersebut, tetapi sima` tidak meninggalkan kami.”

Hadhrah As-Segaff
Dalam setiap kesempatan di Majlis beliau, setelah sholat Isya pada setiap malam Kamis dan Senin, biasanya dibacakan beberapa Nasyid kaum sufi yang diiringi dengan beberapa alat musik seperti rebana dan seruling. Hal ini kemudian dilanjutkan oleh Sayyidina As-Syĕkh Al-Kabir Ahmad bin Husein Al-‘Aidrus dengan mengajak beberapa ahli pembaca Nasyid dari Mesir dan ‘Iraf . Dan ritual atau kebiasaan ini masih berlangsung hingga sekarang terhitung sudah berjalan selama lebih kurang 600 tahun.



Alat musik seruling peninggalan dari zaman Sayyidina Al-Imam
As-Syĕkh Abdurrahman As-Segaff Ra yang masih digunakan sampai sekarang.

Senin, 25 Oktober 2010

Sekilas tentang wahabi

Nama Aliran Wahabi ini diambil dari nama pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab (lahir di Najed tahun 1111 H / 1699 M). Asal mulanya dia adalah seorang pedagang yang sering berpindah dari satu negara ke negara lain dan diantara negara yang pernah disinggahi adalah Baghdad, Iran, India dan Syam.

Kemudian pada tahun 1125 H / 1713 M, dia terpengaruh oleh seorang orientalis Inggris bernama Mr. Hempher yang bekerja sebagai mata-mata Inggris di Timur Tengah. Sejak itulah dia menjadi alat bagi Inggris untuk menyebarkan ajaran barunya. Inggris memang telah berhasil mendirikan sekte-sekte bahkan agama baru di tengah umat Islam seperti Ahmadiyah dan Baha'i. Bahkan Muhammad bin Abdul Wahab ini juga termasuk dalam target program kerja kaum kolonial dengan alirannya Wahabi.
Mulanya Muhammad bin Abdul Wahab hidup di lingkungan sunni pengikut madzhab Hanbali, bahkan ayahnya Syaikh Abdul Wahab adalah seorang sunni yang baik, begitu pula guru-gurunya. Namun sejak semula ayah dan guru-gurunya mempunyai firasat yang kurang baik tentang dia bahwa dia akan sesat dan menyebarkan kesesatan. Bahkan mereka menyuruh orang-orang untuk berhati-hati terhadapnya. Ternyata tidak berselang lama firasat itu benar. Setelah hal itu terbukti ayahnya pun menentang dan memberi peringatan khusus padanya. Bahkan kakak kandungnya, Sulaiman bin Abdul Wahab, ulama' besar dari madzhab Hanbali, menulis buku bantahan kepadanya dengan judul As-Sawa'iqul Ilahiyah Fir Raddi Alal Wahabiyah. Tidak ketinggalan pula salah satu gurunya di Madinah, Syekh Muhammad bin Sulaiman AI-Kurdi as-Syafi'i, menulis surat berisi nasehat: "Wahai Ibn Abdil Wahab, aku menasehatimu karena Allah, tahanlah lisanmu dari mengkafirkan kaum muslimin, jika kau dengar seseorang meyakini bahwa orang yang ditawassuli bisa memberi manfaat tanpa kehendak Allah, maka ajarilah dia kebenaran dan terangkan dalilnya bahwa selain Allah tidak bisa memberi manfaat maupun madharrat, kalau dia menentang bolehlah dia kau anggap kafir, tapi tidak mungkin kau mengkafirkan As-Sawadul A'dham (kelompok mayoritas) diantara kaum muslimin, karena engkau menjauh dari kelompok terbesar, orang yang menjauh dari kelompok terbesar lebih dekat dengan kekafiran, sebab dia tidak mengikuti jalan muslimin.

Sebagaimana diketahui bahwa madzhab Ahlus Sunnah sampai hari ini adalah kelompok terbesar. Allah berfirman : "Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu (Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan) dan kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali (QS: An-Nisa 115)

Salah satu dari ajaran yang (diyakini oleh Muhammad bin Abdul Wahab, adalah mengkufurkan kaum muslim sunni yang mengamalkan tawassul, ziarah kubur, maulid nabi, dan lain-lain. Berbagai dalil akurat yang disampaikan ahlussunnah wal jama'ah berkaitan dengan tawassul, ziarah kubur serta maulid, ditolak tanpa alasan yang dapat diterima. Bahkan lebih dari itu, justru berbalik mengkafirkan kaum muslimin sejak 600 tahun sebelumnya, termasuk guru-gurunya sendiri.
Pada satu kesempatan seseorang bertanya pada Muhammad bin Abdul Wahab, Berapa banyak Allah membebaskan orang dari neraka pada bulan Ramadhan?? Dengan segera dia menjawab, "Setiap malam Allah membebaskan 100 ribu orang, dan di akhir malam Ramadhan Allah membebaskan sebanyak hitungan orang yang telah dibebaskan dari awal sampai akhir Ramadhan" Lelaki itu bertanya lagi "Kalau begitu pengikutmu tidak mencapai satu person pun dari jumlah tersebut, lalu siapakah kaum muslimin yang dibebaskan Allah tersebut? Dari manakah jumlah sebanyak itu? Sedangkan engkau membatasi bahwa hanya pengikutmu saja yang muslim. Mendengar jawaban itu Ibn Abdil Wahab pun terdiam seribu bahasa. Sekalipun demikian Muhammad bin Abdul Wahab tidak menggubris nasehat ayahnya dan guru-gurunya itu.
Dengan berdalihkan pemurnian ajaran Islam, dia terus menyebarkan ajarannya di sekitar wilayah Najed. Orang-orang yang pengetahuan agamanya minim banyak yang terpengaruh. Termasuk diantara pengikutnya adalah penguasa Dar'iyah, Muhammad bin Saud (meninggal tahun 1178 H / 1765 M) pendiri dinasti Saudi, yang dikemudian hari menjadi mertuanya. Dia mendukung secara penuh dan memanfaatkannya untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Ibn Saud sendiri sangat patuh pada perintah Muhammad bin Abdul Wahab. Jika dia menyuruh untuk membunuh atau merampas harta seseorang dia segera melaksanakannya dengan keyakinan bahwa kaum muslimin telah kafir dan syirik selama 600 tahun lebih, dan membunuh orang musyrik dijamin surga.

Sejak semula Muhammad bin Abdul Wahab sangat gemar mempelajari sejarah nabi-nabi palsu, seperti Musailamah Al-Kadzdzab, Aswad Al-Ansiy, Tulaihah Al-Asadiy dll. Agaknya dia punya keinginan mengaku nabi, ini tampak sekali ketika ia menyebut para pengikut dari daerahnya dengan julukan Al-Anshar, sedangkan pengikutnya dari luar daerah dijuluki Al-Muhajirin. Kalau seseorang ingin menjadi pengikutnya, dia harus mengucapkan dua syahadat di hadapannya kemudian harus mengakui bahwa sebelum masuk Wahabi dirinya adalah musyrik, begitu pula kedua orang tuanya. Dia juga diharuskan mengakui bahwa para ulama? besar sebelumnya telah mati kafir. Kalau mau mengakui hal tersebut dia diterima menjadi pengikutnya, kalau tidak dia pun langsung dibunuh. Muhammad bin Abdul Wahab juga sering merendahkan Nabi SAW dengan dalih pemurnian akidah, dia juga membiarkan para pengikutnya melecehkan Nabi di hadapannya, sampai-sampai seorang pengikutnya berkata : 'Tongkatku ini masih lebih baik dari Muhammad, karena tongkat-ku masih bisa digunakan membunuh ular, sedangkan Muhammad telah mati dan tidak tersisa manfaatnya sama sekali..'

Muhammad bin Abdul Wahab di hadapan pengikutnya tak ubahnya seperti Nabi di hadapan umatnya. Pengikutnya semakin banyak dan wilayah kekuasaan semakin luas. Keduanya bekerja sama untuk memberantas tradisi yang dianggapnya keliru dalam masyarakat Arab, seperti tawassul, ziarah kubur, peringatan Maulid dan sebagainya. Tak mengherankan bila para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab lantas menyerang makam-makam yang mulia. Bahkan, pada 1802, mereka menyerang Karbala-Irak, tempat dikebumikan jasad cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib. Karena makam tersebut dianggap tempat munkar yang berpotensi syirik kepada Allah. Dua tahun kemudian, mereka menyerang Madinah, menghancurkan kubah yang ada di atas kuburan, menjarah hiasan-hiasan yang ada di Hujrah Nabi Muhammad.

Keberhasilan menaklukkan Madinah berlanjut. Mereka masuk ke Mekkah pada 1806, dan merusak kiswah, kain penutup Ka?bah yang terbuat dari sutra. Kemudian merobohkan puluhan kubah di Ma?la, termasuk kubah tempat kelahiran Nabi SAW, tempat kelahiran Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Ali, juga kubah Sayyidatuna Khadijah, masjid Abdullah bin Abbas. Mereka terus menghancurkan masjid-masjid dan tempat-tempat kaum solihin sambil bersorak-sorai, menyanyi dan diiringi tabuhan kendang. Mereka juga mencaci-maki ahli kubur bahkan sebagian mereka kencing di kubur kaum solihin tersebut. Gerakan kaum Wahabi ini membuat Sultan Mahmud II, penguasa Kerajaan Usmani, Istanbul-Turki, murka. Dikirimlah prajuritnya yang bermarkas di Mesir, di bawah pimpinan Muhammad Ali, untuk melumpuhkannya. Pada 1813, Madinah dan Mekkah bisa direbut kembali. Gerakan Wahabi surut. Tapi, pada awal abad ke-20, Abdul Aziz bin Sa?ud bangkit kembali mengusung paham Wahabi. Tahun 1924, ia berhasil menduduki Mekkah, lalu ke Madinah dan Jeddah, memanfaatkan kelemahan Turki akibat kekalahannya dalam Perang Dunia I. Sejak itu, hingga kini, paham Wahabi mengendalikan pemerintahan di Arab Saudi. Dewasa ini pengaruh gerakan Wahabi bersifat global. Riyadh mengeluarkan jutaan dolar AS setiap tahun untuk menyebarkan ideologi Wahabi. Sejak hadirnya Wahabi, dunia Islam tidak pernah tenang penuh dengan pergolakan pemikiran, sebab kelompok ekstrem itu selalu menghalau pemikiran dan pemahaman agama Sunni-Syafi'i yang sudah mapan.
Kekejaman dan kejahilan Wahabi lainnya adalah meruntuhkan kubah-kubah di atas makam sahabat-sahabat Nabi SAW yang berada di Ma'la (Mekkah), di Baqi' dan Uhud (Madinah) semuanya diruntuhkan dan diratakan dengan tanah dengan mengunakan dinamit penghancur. Demikian juga kubah di atas tanah Nabi SAW dilahirkan, yaitu di Suq al Leil diratakan dengan tanah dengan menggunakan dinamit dan dijadikan tempat parkir onta, namun karena gencarnya desakan kaum Muslimin International maka dibangun perpustakaan. Kaum Wahabi benar-benar tidak pernah menghargai peninggalan sejarah dan menghormati nilai-nilai luhur Islam. Semula AI-Qubbatul Khadra (kubah hijau) tempat Nabi Muhammad SAW dimakamkan juga akan dihancurkan dan diratakan dengan tanah tapi karena ancaman International maka orang-orang biadab itu menjadi takut dan mengurungkan niatnya. Begitu pula seluruh rangkaian yang menjadi manasik haji akan dimodifikasi termasuk maqom Ibrahim akan digeser tapi karena banyak yang menentangnya maka diurungkan.
Pengembangan kota suci Makkah dan Madinah akhir-akhir ini tidak mempedulikan situs-situs sejarah Islam. Makin habis saja bangunan yang menjadi saksi sejarah Rasulullah SAW dan sahabatnya. Bangunan itu dibongkar karena khawatir dijadikan tempat keramat. Bahkan sekarang, tempat kelahiran Nabi SAW terancam akan dibongkar untuk perluasan tempat parkir. Sebelumnya, rumah Rasulullah pun sudah lebih dulu digusur. Padahal, disitulah Rasulullah berulang-ulang menerima wahyu. Di tempat itu juga putra-putrinya dilahirkan serta Khadijah meninggal.
Islam dengan tafsiran kaku yang dipraktikkan wahabisme paling punya andil dalam pemusnahan ini. Kaum Wahabi memandang situs-situs sejarah itu bisa mengarah kepada pemujaan berhala baru. Pada bulan Juli yang lalu, Sami Angawi, pakar arsitektur Islam di wilayah tersebut mengatakan bahwa beberapa bangunan dari era Islam kuno terancam musnah. Pada lokasi bangunan berumur 1.400 tahun Itu akan dibangun jalan menuju menara tinggi yang menjadi tujuan ziarah jamaah haji dan umrah.
"Saat ini kita tengah menyaksikan saat-saat terakhir sejarah Makkah. Bagian bersejarahnya akan segera diratakan untuk dibangun tempat parkir," katanya kepada Reuters. Angawi menyebut setidaknya 300 bangunan bersejarah di Makkah dan Madinah dimusnahkan selama 50 tahun terakhir. Bahkan sebagian besar bangunan bersejarah Islam telah punah semenjak Arab Saudi berdiri pada 1932. Hal tersebut berhubungan dengan maklumat yang dikeluarkan Dewan Keagamaan Senior Kerajaan pada tahun 1994. Dalam maklumat tersebut tertulis, ?Pelestarian bangunan bangunan bersejarah berpotensi menggiring umat Muslim pada penyembahan berhala.
Nasib situs bersejarah Islam di Arab Saudi memang sangat menyedihkan. Mereka banyak menghancurkan peninggalan-peninggalan Islam sejak masa Ar-Rasul SAW. Semua jejak jerih payah Rasulullah itu habis oleh modernisasi ala Wahabi. Sebaliknya mereka malah mendatangkan para arkeolog (ahli purbakala) dari seluruh dunia dengan biaya ratusan juta dollar untuk menggali peninggalan-peninggalan sebelum Islam baik yang dari kaum jahiliyah maupun sebelumnya dengan dalih obyek wisata. Kemudian dengan bangga mereka menunjukkan bahwa zaman pra Islam telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa, tidak diragukan lagi ini merupakan pelenyapan bukti sejarah yang akan menimbulkan suatu keraguan di kemudian hari.

Gerakan wahabi dimotori oleh para juru dakwah yang radikal dan ekstrim, mereka menebarkan kebencian permusuhan dan didukung oleh keuangan yang cukup besar. Mereka gemar menuduh golongan Islam yang tak sejalan dengan mereka dengan tuduhan ka...fir, syirik dan ahli bid?ah. Itulah ucapan yang selalu didengungkan di setiap kesempatan, mereka tak pernah mengakui jasa para ulama Islam manapun kecuali kelompok mereka sendiri. Di negeri kita ini mereka menaruh dendam dan kebencian mendalam kepada para Wali Songo yang menyebarkan dan meng-Islam-kan penduduk negeri ini.
Mereka mengatakan ajaran para wali itu masih kecampuran kemusyrikan Hindu dan Budha, padahal para Wali itu telah meng-Islam-kan 90 % penduduk negeri ini. Mampukah wahabi-wahabi itu meng-Islam-kan yang 10% sisanya? Mempertahankan yang 90 % dari terkaman orang kafir saja tak bakal mampu, apalagi mau menambah 10 % sisanya. Justru mereka dengan mudahnya mengkafirkan orang-orang yang dengan nyata bertauhid kepada Allah SWT. Jika bukan karena Rahmat Allah yang mentakdirkan para Wali Songo untuk berdakwah ke negeri kita ini, tentu orang-orang yang menjadi corong kaum wahabi itu masih berada dalam kepercayaan animisme, penyembah berhala atau masih kafir. (Naudzu billah min dzalik).
Oleh karena itu janganlah dipercaya kalau mereka mengaku-aku sebagai faham yang hanya berpegang teguh pada Al-Qur'an dan As-Sunnah. Mereka berdalih mengikuti keteladanan kaum salaf apalagi mengaku sebagai golongan yang selamat dan sebagainya, itu semua omong kosong belaka. Mereka telah menorehkan catatan hitam dalam sejarah dengan membantai ribuan orang di Makkah dan Madinah serta daerah lain di wilayah Hijaz (yang sekarang dinamakan Saudi). Tidakkah anda ketahui bahwa yang terbantai waktu itu terdiri dari para ulama yang sholeh dan alim, bahkan anak-anak serta balita pun mereka bantai di hadapan ibunya. Tragedi berdarah ini terjadi sekitar tahun 1805. Semua itu mereka lakukan dengan dalih memberantas bid?ah, padahal bukankah nama Saudi sendiri adalah suatu nama bid?ah? Karena nama negeri Rasulullah SAW diganti dengan nama satu keluarga kerajaan pendukung faham wahabi yaitu As-Sa'ud.
Sungguh Nabi SAW telah memberitakan akan datangnya Faham Wahabi ini dalam beberapa hadits, ini merupakan tanda kenabian beliau SAW dalam memberitakan sesuatu yang belum terjadi. Seluruh hadits-hadits ini adalah shahih, sebagaimana terdapat dalam kitab shahih BUKHARI & MUSLIM dan lainnya. Diantaranya: "Fitnah itu datangnya dari sana, fitnah itu datangnya dari arah sana," sambil menunjuk ke arah timur (Najed). (HR. Muslim dalam Kitabul Fitan)"Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al-Qur'an namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka (tidak sampai ke hati), mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang tak akan kembali ketempatnya, tanda-tanda mereka ialah bercukur (Gundul)." (HR Bukho-ri no 7123, Juz 6 hal 20748). Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, dan Ibnu Hibban
Nabi SAW pernah berdo'a: "Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman," Para sahabat berkata: Dan dari Najed, wahai Rasulullah, beliau berdo'a: Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman, dan pada yang ketiga kalinya beliau SAW bersabda: "Di sana (Najed) akan ada keguncangan fitnah serta di sana pula akan muncul tanduk syaitan.", Dalam riwayat lain dua tanduk syaitan.

Dalam hadits-hadits tersebut dijelaskan, bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul). Dan ini adalah merupakan nash yang jelas ditujukan kepada para penganut Muhammad bin Abdul Wahab, karena dia telah memerintahkan setiap pengikutnya mencukur rambut kepalanya hingga mereka yang mengikuti tidak diperbolehkan berpaling dari majlisnya sebelum bercukur gundul. Hal seperti ini tidak pernah terjadi pada aliran-aliran sesat lain sebelumnya. Seperti yang telah dikatakan oleh Sayyid Abdurrahman Al-Ahdal: "Tidak perlu kita menulis buku untuk menolak Muhammad bin Abdul Wahab, karena sudah cukup ditolak oleh hadits-hadits Rasulullah SAW itu sendiri yang telah menegaskan bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul), karena ahli bid'ah sebelumnya tidak pernah berbuat demikian. Al-Allamah Sayyid AIwi bin Ahmad bin Hasan bin Al-Quthub Abdullah AI-Haddad menyebutkan dalam kitabnya Jala?udz Dzolam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abbas bin Abdul Muthalib dari Nabi SAW: "Akan keluar di abad kedua belas nanti di lembah BANY HANIFAH seorang lelaki, yang tingkahnya bagaikan sapi jantan (sombong), lidahnya selalu menjilat bibirnya yang besar, pada zaman itu banyak terjadi kekacauan, mereka menghalalkan harta kaum muslimin, diambil untuk berdagang dan menghalalkan darah kaum muslimin". AI-Hadits.

BANY HANIFAH adalah kaum nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad bin Saud. Kemudian dalam kitab tersebut Sayyid AIwi menyebutkan bahwa orang yang tertipu ini tiada lain ialah Muhammad bin Abdul Wahab. Adapun mengenai sabda Nabi SAW yang mengisyaratkan bahwa akan ada keguncangan dari arah timur (Najed) dan dua tanduk setan, sebagian, ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dua tanduk setan itu tiada lain adalah Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad Ibn Abdil Wahab.

Pendiri ajaran wahabiyah ini meninggal tahun 1206 H / 1792 M, seorang ulama' mencatat tahunnya dengan hitungan Abjad: "Ba daa halaakul khobiits" (Telah nyata kebinasaan Orang yang Keji) (Masun Said Alwy)

Kamis, 18 Maret 2010

Biografi Singkat Al Habib 'umar bin 'Abdurrahman Al 'Atthas

• Asal-usul penamaan Al ‘Atthos

Al Faqih ‘Abdullah bin ‘Umar Ba ‘Abbad berkata, “Digelari Al ‘Atthos karena ia bersin dalam perut ibunya.” Al Habib ‘Ali bin Hasan Al ‘Atthos berkata: “Apa yang diungkapkan oleh Syekh ‘Abdullah itu memang jelas dan benar adanya, dan berdasarkan riwayat yang kami temukan, orang yang pertama kali bersin dalam perut ibunya adalah Al Habib ‘Aqil bin Salim. Tetapi kemudian yang lebih dikenal menyandang gelar itu adalah Al Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman dan para keturunannya. Adapun keturunan Al Habib ‘Aqil bin Salim, mereka lebih dikenal dengan sebutan Al ‘Aqil bin Salim saja.”

• Kelahiran dan Masa Kecil

Shohiburrotib Al Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman bin ‘Aqil Al ‘Atthos bin Salim bin ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Syekh Wajihuddin ‘Abdurrahan As-Segaf bin Muhammad Maula Dawilah bin ‘Ali bin ‘Alwi bin Al Faqih Al Muqaddam Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad Shohibul Marbath bin ‘Ali Kholi’ Qasam bin ‘Alwi bin Muhammad bin ‘Alwi bin ‘Ubaidillah bin Ahmad bin ‘Isa Ar-Rumi bin Muhammad An-Naqib bin ‘Ali Al ‘Uraidhi bin Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad Al Baqir bin ‘Ali Zainal ‘abidin bin Husein bin Fathimah Az-Zahro binti Rasulullah (saw) istri Imam ‘Ali bin Abi Thalib, lahir di kota Lisik tidak jauh dari kota Tarim pada tahun 992 H. Ayahnya yaitu As Sayyid ‘Abdurrahman bin ‘Aqil Al’Atthos adalah seorang ‘arif billah, sekaligus ‘ulama berpengetahuan luas. Ibundanya yaitu syarifah Muznah binti Muhammad bin Ahmad Al Jufri. Kakeknya As Sayyid ‘Aqil bin Salim adalah saudara kembar fakhrul Wujud Syekh Abu Bakar bin Salim Shohib ‘Inat.
Beliau dibesarkan di bawah bimbingan ayahandanya dengan bimbingan yang sempurna dan beradab tinggi. Sejak kecil beliau telah kehilangan penglihatan kedua matanya. Namun ALLAH menggantinya dengan mata hati yang bercahaya dan terang benderang, disertai kecerdasan yang luar biasa sehingga beliau mampu menghafal semua yang beliau dengan dari guru-guru beliau. Ayah beliau berkata kepada Syekh ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah Al Junaid: “Hati-hati dengan anakku ‘Umar, karena kedua matanya tidak dapat melihat.” Syekh ‘Abdurrahman Al Junaid berkata, “Kedua mata lahir ‘Umar memang tidak dapat melihat, akan tetapi mata batinnya terang dan memancarkan cahaya.
Sewaktu ibunda beliau mendatangi salah seorang Sholihin seraya berkata, “Anak saya ini tidak bisa melihat, sedangkan ayahnya adalah seorang faqir yang tidak berharta.” Orang Shalih itu berkata, “Engkau tak perlu khawatir! Sesungguhnya anak ini kelak akan memiliki masa depan yang cemerlang dan keagungan maqom yang tak terbayangkan, dia akan memiliki keturunan yang sangat banyak seperti keluarga fulan bin fulan.”

• Hijrah ke Huraidhoh

Al Habib Husain bin Syekh Abu Bakar bin Salim seringkali berkata, “Wahai keluarga Ba ‘Alawi Huraidhoh.” Orang-oangpun bertanya keheranan, “Bukankah tidak ada satu orangpun dari kalangan ‘alawiyyin yang menetap di Huraidhoh?” Al Habib Husain berkata: “Mereka akan datang dan bermukim di Huraidhoh, tempat itu akan menjadi sebuah tempat yang ramai diziarahi, kubah-kubah dan masjid akan menghiasi kota itu.”
Sewaktu Al Habib ‘Umar masuk usia remaja, Al Habib Husein bin Asy-Syekh Abu Bakr memerintahkannya untuk pergi ke Huraidhoh sebagai juru dakwah yang menyebarkan ajaran islam disana. Al Habib ‘Umar pun bergegas untuk pergi berdakwah di Huraidhoh.
Pada saat darang ke Huraidhoh, beliau disambut oleh Najad Adz-Dzibani yang kemudian memintanya untuk tetap tinggal di rumahnya selama beliau berada di kota itu. Ia berkata “Rumah ini adalah rumah anda sendiri wahai Al Habib.”
Al Habib Umar memutuskan untuk menetap di Huraidhoh, beliau kembali ke Lisik untuk membawa seluruh anggota keluarganya. Setibanya di Huraidhoh, sang ayah, Al Habib ‘Abdurrahman Al ‘Atthas jatuh sakit dan meninggal dunia. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.
Setelah Al Habib ‘Umar menetap di Huraidhoh, Syekh ‘Abdullah bin Ahmad Al ‘Afif (seorang wali besar) bernazar untuk mempersembahkan bagian dari kebun kurmanya untuk Al Habib ‘Umar. Tetapi setelah beliau terima, beliau menyerahkan pemberian itu kepada penduduk setempat. “Itulah nazar saya unruk kalian, maka terimalah nazar itu.”
“Kenapa tidak engkau tinggalkan untuk anak dan keluargamu?” kata sebagian orang. Al Habib ‘Umar menjawab, “Anak-anak saya kelak akan menguasai seluruh negeri ini.” Dan benar saja, anak cucu keturunan Al Habib ‘Umar Al ‘Atthas sangat banyak dan menyebar di seluruh penjuru negeri.

• Guru-guru besar Al Habib ‘Umar dan sanad-sanadnya

Shohiburrotib Al Habib ‘umar mengembil libas khirqoh dari Syekh Husein bin Syekh Abu bakar bin salim dan saudaranya Syekh ‘Umar Muhdhor. Mereka berdua mengambilnya dari ayah mereka, Syekh Abu Bakar bin Salim, Shohib ‘Inat. Syekh Abu Bakar mengambilnya dari Syekh Syihabuddin Ahmad bin ‘Abdurrahman, dari ayahnya Syekh ‘Abdurrahmab bin ‘Ali, dari ayahnya Syekh ‘Ali bin Abu Bakar, dari ayahnya SYekh Abu Bakr Assakran, dari ayahnya Asy-Syekh Al Kabir ‘Abdurrahman Assegaf. Asy-Syekh Al Kabir ‘Abdurrahman Assegaf mengambil libas khirqoh dari Muhammad Maula Dawilah, dari ayahnya ‘Ali, dari ayahnya Al Faqih Al Muqaddam Muhammad bin’Ali Ba’Alawi. Al Faqih Al Muqaddam Muhammad bin’Ali Ba’Alawi mengambil libas khirqoh: jalur kakek-kakek beliau dan jalur biasa.

Berkaitan dari jalur kakek-kakeknya, Al Faqih Al Muqaddam Muhammad bin’Ali Ba’Alawi mengambil dari Ali bin Muhammad Shohibul Mirbath, dari ‘Ali Khali’ Qasam, dari ‘Ali bin Muhammad Shohibul Shauma’ah, dari ‘alwi Shohibul Sumul, dari ‘Ubaidillan ibn Ahmad AL Muhajir, dari Isa Arrumi, dari Muhammad Annaqib, dari Al Imam ‘Ali Al ‘Uaidhi, dari Al Imam Ja’far Ash-shodiq, dari Al Imam Muhammad Al Baqir, dari al Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin, dari ayah dan pamannya, Al Imam Husein dan Al Imam Hasan bin ‘Ali bin Abi tholib. Keduanya mengambil dari Rasulullah (saw). Sedangkan Rasulullah (saw) memperoleh pendidikan dari ALLAH (SWT) melalui Malaikat Jibril. Rasulullah (saw) berkata, “Tuhanku mendidik aku, dan didikan-NYA padaku sangat baik.”

Sedangkan melalui jalur biasa, Al Faqih Al Muqaddam mengambil libas khirqoh shufiyyah dari Syu’aib Abu Madyan at-Tilimsani Al Maghribi, melalui Syekh ‘Abdurrahman Al muq’ad dan Syekh ‘Abdullah Ash-Shaleh, dari Syekh Abu Ya’za Al Maghribi, dari Syekh Abul Hasan bin Harzam (Abu Harzam), dari Syekh Abu Abu Bakar bin Muhammad bin Abdullah bin al ‘Arabi dan Al Qadhi Al Maghafiri, dari Syekh Hujjatul Islam al Imam Ghazzali, dari Imam Haramain ‘Abdul Malik bin Asy-Syekh Abu ‘Abdillah bin Yusuf al Juwaini, dari ayahnya, dari Abu Thalib Al Makki, dari Asy-Syekh Al Ustadz Asy-Syibli, dari SAayyidut-Tha’ifah Al Junaid, dari Dawud Ath-Tha’I, dari Habib Al Ajmi’, dari hasan Al Bashri, dari Al Imam ‘Ali bin bin Abi Thalib. Selanjutnya Imam ‘Ali mengambil dari Rasulullah (saw) dan Rasulullah memperoleh pendidikan dari ALLAH (SWT) melalui Jibril.

• Murid-murid dan Thoriqoh Al Habib ‘Umar

Di antara murid Al Habib ‘Umarialah As-Sayyid Al habib ‘Abdullah bin Alwi Al Haddad. Dan murid-murid lainnya adalah :
Al habib Ahmad bin Zein Al Habsyi, As-Sayyidul Jalil Ahmad bin Hasyim Al Habsyi, As-Sayyidul Jalil ‘Ali bin ‘Umar bin Husein bin Asy-syekh ‘Ali, putera-putera Al habib ‘Umar sendiri dan masih banyak lagi murid-murid beliau lainnya, khususnya yang berasal dari Wadi Dau’an dari keturunan Al ‘Amudi dan keturunan para sayyid keluarga Al Barr, seperti Al Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman Al Barr.

• Karangan-karangan Al Habib ‘Umar
Tidak pernah kita dengar bahwa Al Habib ‘Umar memiliki karya tulis selain Ratibul ‘Atthas. Pernah ada seseorang bertanya kepada Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad apa saja karya Al Habib ‘Umar Al ‘Atthas. Dengan tegasnya Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad berkata, “aku adalah salah satu karya besar Al Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman Al ‘Atthas.”

Al Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman Al ‘Atthas wafat pada malam Kamis tanggal 23 Rabi’uts Tsani tahun 1072 H di rumah kediaman beliau di kota Nafhun, setelah sebelumnya beliau menderita sakit selama 7 hari. Jenazah beliau diantar ke Huraidhoh untuk dikebumikan di sana. Usai penguburan jasad beliau, Huraidhoh dibasahi oleh rintik-rintik hujan gerimis pertanda turunnya keberkahan pada kota Huraidhoh dan sekitarnya.
Semoga kelak kita semua dapat mengikuti jejak beliau dan semoga kita semua dibangkitkan dan dikumpulkan bersama beliau dan kakek-kakeknya sampai ke Rasulullah (saw), Amiin.

ShareThis