Nama beliau adalah Abdullah bin Alawi bin Muhammad bin Ahmad bin Abdullah bin bin Muhammad bin Alawi bin Ahmad (yang dijuluki Alhaddad kakek ke-6) bin Abu Bakar bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad bin Abdurrahman bin Alawi bin Muhammad (shohibu marbath) bin Ali kholi'ul qasam bin Imam Alawi bin Muhammad bin Alawi bin Abdullah bin Imam Almuhajir Ahamd bin Isa bin Muhammad bin Imam Ali Aluraidha bin Imam Ja'far Asshodiq bin Muhammad Al Bagir bin Imam Ali Zainal Abidin bin Imam Husain bin Fathimah Azzahra binti Rasulullah SAW.Ibunya bernama Sayyidah Salma binti Idrus bin Ahmad Alhabsyi. Kakeknya Syekh Idrus adalah seorang ulama karismatik dan tokoh terpandang saat itu. Neneknya Sayyidah Salma binti Umar bin Ahmad Al 'alawy termasuk wanita ahli ibadah.
Imam Abdullah Al Haddad Lahir pada malam Senin, bulan Safar 1044 H, di kota Tarim, Hadramaut, Republik Demokrasi Yaman.
Ayahnya, Al Habib Alawi bin Muhammad adalah seorang yang saleh dari keturunan orang-orang saleh. Di masa mudanya, beliau berkunjung ke kediaman Habib Ahmad bin Muhammad Al-Habsyi Shôhibusy Syi‘ib untuk memohon doa, Habib Ahmad berkata, “Anak-anakmu adalah anak-anak kami juga, mereka diberkahi Allah.” Saat itu Habib Alwi tidak mengerti maksud ucapan Habib Ahmad. Namun, setelah menikahi Salma, cucu dari Habib Ahmad bin Muhammad, Habib Alwi baru sadar bahwa rupanya perkawinan ini yang diisyaratkan oleh Habib Ahmad bin Muhammad dalam ucapannya.
Sebagaimana suaminya, Sayyidah Salma binti Idrus bin Ahmad Alhabsyi adalah seorang wanita yang sholihah. Dari istrinya ini, Habib Alwi mendapat putra-putri yang baik dan saleh, di antaranya adalah Abdullah. Kedua orang tuanya wafat di bulan dan tahun yang sama, ayahnya Sayyid Alawi wafat pada malam Senin, 21 Rajab 1072 H, dan empat hari kemudian disusul wafat ibunya pada hari Rabu, 24 Rajab 1072 H.
Pada usia tiga tahun, Imam Abdullah Al Haddad terjangkit sakit cacar yang mengakibatkan kebutaan pada kedua matanya. Namun, musibah ini sama sekali tidak mengurangi kegigihannya dalam menuntut ilmu. Ia berhasil menghapal Quran dan menguasai berbagai ilmu agama ketika terhitung masih kanak-kanak. Rupanya Allah berkenan menggantikan penglihatan lahirnya dengan penglihatan batin, sehingga kemampuan menghapal dan daya pemahamannya sangat mengagumkan. Setiap membaca Alqur'an beliau membacanya dengan tekun dan khusyu, serta memahami maknanya, sehingga beliau menangis bila membaca ayat-ayat yang menceritakan tentang kematian dan hari kebangkitan terutama yang terkandung di dalam surat Yasin.
Beliau sejak kecil gemar beribadah dan riyâdhoh. Nenek dan kedua orang tuanya seringkali tidak tega menyaksikan anaknya yang buta ini melakukan berbagai ibadah dan riyâdhoh. Mereka menasihati agar ia berhenti menyiksa diri. Demi menjaga perasaan keluarganya, si kecil Abdullah pun mengurangi ibadah dan riyâdhoh yang sesungguhnya amat ia gemari. Ia pun kini memiliki lebih banyak waktu untuk bermain-main dengan teman-teman sebayanya. “Subhânallôh, sungguh indah masa kanak-kanak...,” kenang beliau suatu hari.
Di kota Tarim, beliau tumbuh dewasa. Bekas-bekas cacar tidak tampak lagi di wajahnya. Beliau berperawakan tinggi, berdada bidang, berkulit putih, dan berwibawa. Tutur bahasanya menarik, sarat dengan mutiara ilmu dan nasihat berharga. Beliau sangat gemar menuntut ilmu. Kegemarannya ini membuatnya sering melakukan perjalanan untuk menemui kaum ulama., “Apa kalian kira aku mencapai ini dengan santai? Tidak tahukah kalian bahwa aku berkeliling ke seluruh kota-kota (di Hadramaut) untuk menjumpai kaum sholihin, menuntut ilmu dan mengambil berkah dari mereka?”
Diantara guru-guru beliau adalah:
• al-Habib Muhammad bin ‘Alawi bin Abu Bakar bin Ahmad bin Abu Bakar bin ‘Abdurrahman al-Saqqaf (1002 – 1071H)
• Syaikh Abu Bakar bin bin Imam ‘Abdurrahman bin ‘Ali bin Abu Bakar bin Syaikh ‘Abdurrahman al-Saqqaf
• al-Habib ‘Aqil bin ‘Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Ali bin ‘Aqil bin Syaikh Ahmad bin Abu Bakar bin Syaikh bin ‘Abdurrahman al-Saqqaf
• al-Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman al-‘Atthas bin Aqil bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman al-Saqqaf (wafat:1072H).
• al-Habib ‘Abdurrahman bin Syaikh Maula ‘Aidid Ba’alawi (wafat: 1068H)
• Sayyid Syaikhan bin Imam al-Hussein bin Syaikh Abu Bakar bin Salim
al-Habib Syihabuddin Ahmad bin Syaikh Nashir bin Ahmad bin Syaikh Abu Bakar bin Salim
• al-Habib Jamaluddin Muhammad bin Abdurrahman bin Muhammad bin Syaikh al-Arifbillah Ahmad bin Syaikh al-Hussein bin Syaikh al-Quthb al-Rabbani Abu Bakar bin Abdullah al-‘Aydrus (1035-1112H)
• Sayyid al-Faqih al-Shufi Abdullah bin Ahmad Ba`alawi al-Asqa’
Sayyid Syaikh al-Imam Ahmad bin Muhammad al-Qusyasyi (wafat 1071H)
Khirqah Sufiyah: Imam al-Haddad menerima khirqah sufiyyah, antaranya dari:
• al-Habib ‘Aqil bin ‘Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Ali bin ‘Aqil bin Syaikh Ahmad bin Abu Bakar bin Syaikh bin ‘Abdurrahman al-Saqqaf,
• al-Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman al-‘Atthas bin Aqil bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman al-Saqqaf (wafat:1072H),
• al-Habib Syihabuddin Ahmad bin Syaikh Nashir bin Ahmad bin Syaikh Abu Bakar bin Salim,
• al-‘Arifbillah Syaikh Muhammad bin ‘Alawi as-Saqqaf al-Makki
Beliau adalah merupakan Quthub al-Aqtab pada zamannya. Dan ada ulama mengatakan bahwa beliau menduduki makam tersebut hampir 60 tahun.
Beliau juga sangat giat dalam mengajarkan ilmu dan mendidik murid-muridnya. Banyak penuntut ilmu datang untuk belajar kepadanya.
Keaktifannya dalam mendidik dan berdakwah membuatnya digelari Quthbud Da’wah wal Irsyâd. Beliau berkata, “Ajaklah orang awam kepada syariat dengan bahasa syariat;
ajaklah ahli syariat kepada tarekat (thorîqoh) dengan bahasa tarekat; ajaklah ahli tarekat kepada hakikat (haqîqoh) dengan bahasa hakikat; ajaklah ahli hakikat kepada Al-Haq dengan bahasa Al-Haq, dan ajaklah ahlul haq kepada Al-Haq dengan bahasa Al-Haq.”
Murid-murid beliau, antaranya:
al-Habib Hasan bin ‘Abdullah al-Haddad (anak beliau);
al-Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi;
al-Habib ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah Balfaqih;
al-Habib Muhammad bin Zein bin Smith;
al-Habib ‘Umar bin Zein bin Smith;
al-Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman al-Bar;
al-Habib ‘Ali bin ‘Abdullah bin Abdurrahman al-Saqqaf;
al-Habib Muhammad bin ‘Umar bin Thoha ash-Shafi al-Saqqaf;
Syaikh Ahmad bin Abdul Karim al-Hasawi asy-Syajjar
Al-Faqih BaJubair – beliau adalah merupakan guru kepada Imam al-Haddad dalam ilmu fiqih namun setelahnya ulama ini bellajar kitab Ihya kepada Imam al-Haddad. Imam al-Haddad berkata: Setelah kembali ke Hadramaut (dari India) dia belajar Ihya kepadaku. Aneh sekali! Dahulu aku belajar fiqih kepadanya, namun sekarang dia belajar ihya kepadaku.
Meski buta dan sangat sibuk berdakwah, beliau masih sempat menulis buku-buku berikut:
01. An-Nashôihud Dîniyyah
02. Ad-Da’watut Tâmmah
03. Risâlatul Mu’âwanah
04. Al-Fushûlul ‘Ilmiyyah
05. Sabîlul Iddikâr
06. Risâlatul Mudzâkarah
07. Risâlatul Murîd
08. Kitâbul Hikam
09. An-Nafâisul Uluwiyyah
10. Ithâfus Sâil
Hingga saat ini kumpulan do'a dan dzikirnya yang dikenal dengan nama Rotib Haddad dan Wirid Lathif dijadikan amalan rutin mayoritas muslim di Indonesia, Asia, Australi, Afrika bahkan di Amerika.
Demikianlah Habib Abdullah Al-Haddad menghabiskan umurnya. Beliau menuntut ilmu dan mengajarkan; berdakwah dan mencontohkan. Imam Abdullah Al Haddad wafat pada hari senin, 7 Dzulqa'dah 1132 H.dalam usia 89 tahun kurang 3 bulan. Beliau dimakamkan di Zambal, Tarim tempat pemakaman keluarga dan leluhurnya. Imam Abdullah Al Haddad meninggalkan 10 anak, di antaranya 6 laki dan 4 perempuan, mereka semua menjadi orang-orang yang soleh dan bermanfaat bagi masyarakat, terutama Imam Muhammad bin Abdullah bin Alwi Al Haddad.Sayyid Ahmad bin Zein Al Habsyi mengatakan bahwa yang menshalatkan jenazah Imam Abdullah Al Haddad + 20.000 orang di dalam masjid dan belum terhitung yang menshalatkan di makamnya.
الفاتحة إلى حضرة النبي محمد صلى الله عليه وآله وسلم وإلى روح قطب الإرشاد وغوث العباد والبلاد الحبيب عبد الله بن علوي بن محمد الحداد وأصوله وفروعهم أن الله يعلي درجاتهم في الجنة ويكثر من مثوباتهم ويضاعف حسناتهم ويحفظنا بجاههم وينفعنابهم ويعيد علينا من بركاتهم وأسرارهم وأنوارهم وعلومهم ونفحاتهم في الدين والدنيا والآخرة – الفاتحة
Sepotong nasihat beliau dari syairnya:
Bila Allah mengujimu, bersabarlah
karena itu hak-Nya atas dirimu.
Dan bila Ia memberimu nikmat, bersyukurlah.
Siapa pun mengenal dunia, pasti akan yakin
bahwa dunia tak syak lagi
adalah tempat kesengsaraan dan kesulitan
