Minggu, 25 November 2012

Al Habib Umar bin Hud Alatthos

Jakarta


Ia merupakan ulama yang dermawan. Karamahnya sangatlah nyata. setiap orang yang meminta nasehatnya selalu dijawab dengan sebuah jawaban yang pas dan menggugah hati, yaitu berbaktilah kepada orang tuamu. karena memang itulah kunci keberhasilan dunia dan akhirat. Dan itulah resep mujarab yang telah diajarkan oleh figur satu ini.
Kabar gembira dari seorang imam.

Ayah alHabib Umar bin Hud bernama alHabib Muhammad bin Hasan, ia merupakan seorang yang dikenal akan kesholehnnya. selama sekitar 20 tahun, ia berkhidmat mengurus Masjid as-Syaikh Abdul Qadir al-Jaelani yang berada di Hadramaut, sebelum akhirnya hijrah ke Indonesia.
 
Suatu saat, al-Imam al-Habib Ahmad bin Hasan Alatthos menyampaikan kabar gembira perihal kehamilan asy-Syarifah Nur binti Hasan Alatthos, istri al-Habib Muhammad bin Hasan. Al Habib Ahmad bin Hasan mengatakan, "Ia akan melahirkan seorang anak laki-laki yang panjang usianya, penuh dengan keberkahan serta akan banyak orang yang datang untuk bertawassul dan bertabarruk dengannya. Anak laki-laki tersebut hendaknya diberi nama Umar, sebagai pengganti kakaknya yang juga bernama Umar yang telah wafat ketika sedang bersama ayahnya di Indonesia."

Semas kecil, ia diasuh oleh kakaknya, al-Habib Salim. Mereka berdua bekerja di kebun kurma untuk meringankan beban keluarganya. Saat itu ia masih berusia belasan tahun. Diwaktu kecilnya itu, ia memiliki keterampilan menulis khat (kaligrafi) yang indah serta ia memiliki kebiasaan membaca dan menulis. Hal itu salah satu pertanda akan kecintaanya pada ilmu.

Beberapa waktu setelah wafatnya sang bunda, ia mendapat surat dari ayahnya untuk datang ke Indonesia. Saat itu ia baru berusia 15 tahun. keesokan hari setelah menerima surat dari ayahnya, ia meninggalkan Hadramaut menuju Indonesia guna menemui ayahnya yang sudah lebih dulu hijrah ke Indonesia. Dalam perjalanannya itu, pertama kalinya ia menuju ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji serta berziarah ke makam datuknya Rasulullah saw di Madinah. Saat itu ia sempat bermukim selama beberapa tahun di kota Mekkah. Dalam kesempatan itu, ia gunakan untuk menimba ilmu kepada ulama-ulama setempat.

Meski sewaktu di Hadramaut ia berada di bawah didikan guru sebesar al-Imam al-Habib Ahmad bin Hasan al-Atthos, ia masih merasa perlu menimba ilmu, apalagi ia masih muda. Seperti inilah kebiasaan para salafunasshalihin dari kalangan habaib terdahulu. Selain belajar kepada ayahnya sendiri, selama di Indonesia, al-Habib Umar juga mendatangi dan menimba ilmu dari para ulama' masa itu diantaranya:
al-Habib Muhammad bin Alwi al-Atthos az-Zabidi (Jakarta)
al-Habib Muhsin bin Muhammad al-Atthos (Bogor)
al-Habib Abdullah bin Muhsin al-Atthos (Bogor)
al-Habib Alwi bin Muhammad Al-Haddad (Surabaya)
al-Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyial-Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdhor (Bondowoso), dan masih banyak lagi tokoh ulamadan auliya' yang menjadi gurunya di Indonesia.
Diriwayatkan, ia sering melakukan perjalanan dari Jakarta menuju kediaman al-Habib Abdullah bin Muhsin al-Atthos di wilayah Empang, Bogor, dengan menggunakan sepeda. Jarak yang demikian jauh, namun hal itu tak sedikitpun mengendurkan semangatnya dalam menimba ilmu dari para ulama dan bertabarruk kepada mereka.

 
Karomah al-Habib Umar bin Hud al-Atthos


Pada tahun 1956 M, al-Habib Umar bin Hud al-Atthos mendapat isyarah untuk menetap di Kota Makkah. Maka berangkatlah ia bersama sebelas anggota keluarganya dengan menggunakan kapal laut yang akan berlayar menuju Hijaz.
Saat di tengah laut, badai datang dengan begitu dahsyatnya. Kapten kapal memerintahkan semua awak kapal dan penumpang agar bersiap-siap menghadapi kemungkinan terburuk yang akan terjadi, yaitu tenggelamnya kapal tersebut. Para awak kapal dan penumpang lainnya pun panik. Berbeda halnya dengan al-Habib Umar bin Hud, ia malah mengajak para anggota keluargabya untuk masuk ke dalam kamar dan membaca Ratib al-Atthos bersama. Subhanallah... Belum selesai bacaan ratib dibaca, badaipun reda.

Pernah seorang laki-laki yang gemar membeli undian datang kepadanya, tanpa basa-basilelaki itupun berkata "Wahai Habib Umar, saya minta nomor undian (judi)" Katanya tanpa sungkan. "Aku akan berikan kau nomor undian, namun dengan satu syarat, jika engkau menang undian segeralah bawa uang itu kepadaku." Jawab al-Habib Umar. "Baiklah kalau begitu permintaan habib" jawab lelaki itu. Beberapa hari kemudian, lelaki itu datang lagi "Habib, saya berhasil menang undian, ini uangnya" katanya sambil menyerahkan segepok uang hasil undian.
Dengan tenang al-Habib Umar meminta kepada salah seorang muridnya untuk mengambil sebuah baskom, lalu ia berkata kepada lelaki penjudi itu "Sekarang lihatlah apa yang aku hendak perbuat" Kemudian ia menggenggam uang segepok itu dan lalu memerasnya di atas baskom. Anehh!! Dari genggaman tangn al-Habib Umar mengucurlah darah segar mengalir memenuhi baskom. "Lihatlah apa yang telah engkau dapatkan dari undian itu" kata Habib Umar kepada lelaki itu. Melihat kejadian itu, lelaki itu kaget bukan kepalang, badannya gemetaran, wajahnya pucat pasi, belum beranjak dari tempat duduknya, ia menyatakan bertobat di hadapan al-Habib Umar bin Hud.

Di saat lain, ketika al-Habib Umar tengah menggelar ta'lim di masjid, masuklah seorang berwajah putih bersih. Tanpa basa-basi, lelaki tak dikenal itupun menghampiri al-Habib Umar dan berkata "Wahai Habib Umar, bisakah aku minta nasi kebuli?"
Permintaan aneh tersebut tentu saja membuat terkejut seluruh jama'ah, namun dengan senyum al-Habib Umar berkata dengan sangat 'arif "Baiklah, pergilah ke belakang, dan makanlah apa yang engkau mau." Maka lelaki itupun segera pergi ke dapur.
Tak lama ta'lim usai, kemudian al-Habib Umar dengan diikuti sebagian para jama'ah menyusul ke dapur. Mereka melihat lelaki itu tengah menyantap nasi kebuli dengan sangat lahap. "Dia adalah tamu agung kita, lelaki itu adalah Nabi Allah Khidir." Kata al-Habib Umar kepada para jama'ahnya.

Ada cerita lain mengenai karomahnya. Pada suatu hari, datang seorang lelaki dengan membawa air agar di do'akan sebagai obat. Namun baru saja ia mengetuk pintu, al-Habib Umar sudah menyuruhnya pulang. Tentu saja lelaki itu bersikeras dan bertahan di depan pintu. Akhirnya al-Habib Umar keluar dan berkata, "Pulanglah, air yang engkau bawa itu sudah bisa menyembuhkan." "Tapi Bib..." Kata lelaki itu kebingungan. "Pulanglah, bukankah engkau sudah ditunggu oleh keluargamu?"
Akhirnya dengan keyakinan yang kuat ia pun pulang membawa air, dan menuangkannya ke dalagelas untuk diminum oleh keluarganya yang sakit. Subhanallah.... Tak lama kemudian, keluarga yang sakit tersebut berangsur sembuh dan pulih kembali.

Orang terkadang menyebutnya Habib Umar Cipayung. Hal ini karena Maulid Nabi Muhammad saw yang setiap tahunnya ia gelar di sekitar wilayah Cipayung, Puncak, dihadiri hingga ratusan ribu orang, termasuk dari negara-negara tetangga bahkan dari Timur Tengah dan Afrika. Karenanya, tidak heran kalau orang menyebut maulid Nabi Muhammad saw yang diselenggarakan al-Habib Umar bin Hud di Cipayung sebagai Maulid International. Untuk jamuan makanan para jama'ah yang menghadiri maulid ini diperlukan ribuan ekor kambing dan berton-ton beras. Kalau ditanya orang dari mana dananya, maka al-Habib Umar selalu menjawab "Dari Allah swt"


Wafatnya al-Habib Umar bin Hud

 Pada hari Rabu malam, 11 Agustus 1999 M, jutaan umat dikejutkan kabar wafatnya al-Habib Umar bin Hud al-Atthos. Ia wafat dalam usia sekitar 108 tahun. Puluhan ribu pecintanya berta'ziyah ke rumahnya dan keesokan harinya melepasnya hingga ke tempat peristirahatannya yang terakhir, di kompleks pemakaman al-Hawi, Condet, Cililitan, Jakarta Timur, di tengah-tengah makam para auliya' lainnya, sebagaimana wasiatnya.
Masih terkenang dalam ingatan semua orang yang menyaksikan pemandangan mengharukan itu, ribuan pasang mata 'menumpahkan' air matanya di sepanjang jalan raya Condet, seraya meneriakkan kalimat-kalimat kebesaran Allah swt.Sementara itu, tak sedikit kaum ibu yang menangis sambil melambai-lambaikan tangan dan memanggil-manggil nama al-Habib Umar saat jenazah tokoh kecintaan mereka ini melintas dihadapan mereka.

"Wafatlah para sholihin satu demi satu, hingga yang tersisa hanyalah sampah masyarakat yang Allah swt tak pedulikan apa pun yang akan menimpa mereka" (Shahih Bukhori)

Wallahu a'lam bishowwab,,
(Dikutip dari buku 12 Ulama Kharismatik di Indonesia)

ShareThis